Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Setengah Siluman

Setengah Siluman

witchDipikir-pikir sejak ‘pensiun’ hidup saya bahagia lahir bathin. Ketika terjebak rutinitas, bawaan saya melihat jam. Menanti tiba waktunya untuk pulang ke rumah. Setelah ‘pensiun’ saya tidak pernah melihat jam kapan waktunya untuk pulang ke rumah. Tetapi saya melihat tanggal dan terkejut karena cepatnya waktu berlalu. Tak terasa akhir tahun ini akan menjadi tiga tahun masa awal pensiun saya. Masih saja saya tak percaya betapa cepatnya waktu berganti. Setiap hari yang ada hanya kegembiraan. Awalnya masih ada was-was, bagaimana kehidupan selanjutnya? Sekarang tidak lagi, pasrah saja pada kehendak Tuhan. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dulu saya ‘waras’ mungkin sekarang saatnya saya menjadi ‘gila.’

Beberapa minggu ini tenggelam dalam keasyikan menonton serial The Grimm. Saya suka karena ceritanya campur-campur laksana gado-gado. Ada legenda. Ada action. Ada romance. Ada Sejarah. Komplit pake telor. Kisahnya sangat fiktif. Seorang lelaki menemukan bahwa dirinya adalah keturunan ‘Grimm’ sejenis pembantai siluman. Dan sebagian besar penduduk bumi ini adalah ‘wesen’ alias siluman jejadian. Ada yang siluman anjing, srigala, cheetah, penyihir, scorpio dan sebagainya. Namanya juga fiksi. Ceritanya ngalor-ngidul dengan banyak permainan make-up fantasi dan special effect. Jadi murni hiburan alias entertainment. Tapi memang cukup menghibur. Saya pikir memang benar sebagian dari manusia dalam dirinya menyimpan sifat-sifat misterius. Ada yang diam-diam licik seperti srigala. Ada yang hanya berani menggonggong seperti anjing. Ada yang menusuk dengan ekornya seperti scorpio. Lovely isn’t it? Menyenangkan, menyadari bahwa sebagian dari kita adalah siluman. Roooarrrrrrh!

portebelloLama berkutat menonton The Grimm ternyata tidak lalu melepaskan saya dari kehidupan sosial. Selalu ada waktu luang yang saya sempatkan untuk ketemu teman-teman dekat. Minggu lalu ketemuan dengan seorang penulis muda. Saya suka bercakap-cakap dengannya, walau menurut dirinya. “Orang-orang itu banyak yang sebel dan terganggu dengan sikapku.” Saya tertawa, “Kayaknya sama ya. Banyak juga orang yang kadang-kadang nggak ujan — nggak angin sebal sama saya. Atau saya yang mendadak nggak suka pada mereka.” Mungkin orang-orang yang hobby menulis kadang bertingkah seperti itu. Moody, tergantung perasaannya. Mendadak sebal, mendadak gembira. Yang terutama sih anti mainstream. Apa tuh anti mainstream? Ya, berusaha tidak menjadi orang yang membosankan. Berusaha menjadi pioneer and not just follower. Dia bertanya lagi, “Mbak, bagaimana sih caramu menuliskan cerita?” Saya lalu merenung, gini untuk tulisan yang biasa saja model kolom ala Carrie Bradshaw tanpa bahasan sex tentu saja, seperti ini gaya penulisan saya. Siapa Carrie Bradshaw? Haduh, nanya pula? Anti mainstream : silahkan browsing!

Nah, untuk menuliskan fiksi memang agak sulit. Menurut saya butuh ‘tenaga dalam.’ Biasanya gini ada satu atau dua hal yang pernah terjadi dan bersinggungan dalam hidup saya. Lalu saya ambil satu cuplikan kejadian tersebut dan saya kembangkan menjadi sebuah cerita. “Mbak, mosok ada penulis menceritakan semua hal tentang dirinya sendiri. Kehidupannya sehari-hari. Hanya dengan mengganti nama teman-teman dekatnya dengan nama lain?” Saya lalu tertawa, “Konyol banget? Kalau temannya tahu kan bisa tersinggung? Dan menyebut diri penulis tapi tidak bisa berimajinasi? Artinya beneran penulis ‘dear diary.’Definetely harus belajar sesuatu yang lain, tehnik yang berbeda untuk mengembangkan sebuah ide dasar menjadi tulisan. Hla,… ya jangan semua cerita tetangga dan segala kutu kupret yang beneran ada dalam kehidupan kita dijadikan fiksi. Kocak bener… Biasanya saya membayangkan suatu peristiwa lalu mendadak tokoh-tokoh dalam cerita itu muncul. Hidup dan bernafas lalu melakukan sebuah alur cerita. Saya akui, saya sangat malas menggali referensi. Ada penulis yang katanya mampu menuliskan tentang kota ABCD tanpa pernah menginjakkan kakinya kesana. Mungkin memang bisa. Tapi bagi saya nafasnya kurang kuat. Kebanyakan saya bercerita fiksi model ‘Drama.’ Mungkin kasarnya sinetron banget. Hey, Anda dan saya adalah pemain sinetron kehidupan. Why not gitu loch! Boleh-boleh saja kan?

Masih ada pertanyaan dari sahabat saya, sang penulis muda. “Mbak, kamu kalau menulis cerita apakah bergaya arsitek atau tukang kebun?” Jujur saya memang bergaya tukang kebun. Disudut sini saya tanam mawar. Tiba-tiba di bawah pohon saya tanam anyelir. Lalu ditengah lapangan saya tanam perdu. Pokoknya suka unsur kejutan dan warna-warni. Teman saya mengaku bahwa dirinya adalah penulis tipe ‘arsitek’. Ia akan merancang cerita dengan pembukaan, ketegangan yang meningkat, konflik, pemecahan masalah, lalu penurunan tensi cerita. Menurut saya yang pas adalah kombinasi keduanya. Arsitek yang tidak kering dengan gagasan, bunga dan perdu mana yang pantas ditanam pada struktur yang hendak dibangun. Memang tidak mudah. Tapi saya suka berimajinasi dan bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh yang ada dalam benak. Kadang-kadang mereka mengatakan sesuatu yang pantas dan sempurna untuk dituliskan. Seperti dukun yang mampu bicara dengan ‘alam lain.’ Menurut saya seperti itulah penulis yang baik, setengah siluman. Siluman apa? Hmmm, lets say...siluman penyihir. Yup, penyihir adalah definisi terbaik bagi seorang penulis yang memikat. Cukup tersenyum, tiupkan debu ajaib yang ada di telapak tangan dan semua orang akan terhipnotis. Dalam serial The Grimm, penyihir wanita disebut sebagai hexenbiest. Saya hexenbiest? I wish,…

Facebook Comments
Telah dibaca 118 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Selain tenaga dalam juga perlu daya ingat yang tajam hehhe..kalau di kisah 7 manusia harimau malah ada tokoh siluman yang lebih manusiawi loh ci Johttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif