Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Teman Tapi Sayang

Teman Tapi Sayang

Aku punya teman… Uh-ah- Lagu lama ya. Jaman Mulan dan Maia masih kompak berat. Hari ini ada kabar dari teman tentang seorang teman. Judulnya menggossip? Boleh dibilang demikian. Tapi saya nggak mau menggossipkan teman saya dengan hal yang jelek, prejudice dan merana. Saya menggosipkannya karena ada pelajaran yang dipetik dari kemalangan slash kebodohan seorang teman. Sebagai teman, saya sangat menyayangkan kejadian ini. Tapi again kita tidak boleh prejudice dan menghakimi orang lain seolah kita lebih bijaksana dan mulia dibanding dirinya.

Teman saya ini seorang pria yang baik. Punya istri dan dua anak. Anak keduanya masih kecil kira-kira usia awal di sekolah dasar. Ia merantau ke negara ini dari sebuah negeri yang asing dan jauh. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang cerdas, ramah, menyenangkan, teman yang loyal dan jujur. Ia bahkan pandai bermain gitar dan pernah muncul menghibur di panggung untuk acara kantor. Saking baik dan menyenangkan, sampai pernah dikira oleh teman wanita lain sebagai pria gay. Suatu persangkaan yang prejudice, jadi kalau nggak gay itu kasar, nggak romantis, nggak baik dan seenaknya? He-he….  Ya sudahlah, saya tidak jelas juga mengenai masalah prejudice seperti ini.

foto: demi lovato

foto: demi lovato

Saya sering mengobrol dengannya. Pria yang sangat manis, tipikal ‘anak mami.’ Sekolah, lulus, bekerja, menikah dan merantau ke negeri asing guna mendulang kesuksesan. Kemudian lama saya tidak berjumpa lagi dengannya. Sejak berpisah saya memang tidak pernah menghubungi lagi, apalagi mengobrol, tukar pikiran dan seterusnya. Saya punya teman-teman baru dan saya berusaha membangun dunia baru dalam kehidupan saya. Tapi bukan berarti juga saya hendak membuang teman lama. But, something has happened in the past –that sometimes we just keep walking and never look back. Sesuatu yang terjadi di masa lalu terkadang membuat kita terus melangkah kedepan dan tanpa ada niatan menoleh kembali ke belakang. Lalu saya melupakan teman saya ini, totally forgotten. Padahal kami pernah berjanji sesekali untuk bertemu, minum teh atau kopi dan saling bertukar kabar.

Berita yang saya dengar hari ini sangat mengejutkan dan membuat saya bersedih. Kabarnya teman saya dipaksa mundur dari perusahaan dalam waktu seketika. Detik itu juga. Ruangan kerjanya harus dikosongkan. Barang-barangnya harus dibereskan dan diangkut. Terlebih dia adalah orang asing, yang tak tahu harus kembali kemana? Membawa istri dan dua orang anaknya? Padahal disini kehidupannya sudah cukup mapan. Punya posisi di pekerjaannya, punya rumah bagus dari perusahaan, mobil terbaru dan anak-anaknya bersekolah di sekolah terbaik. Ketika kehidupan dipotong begitu saja oleh garisan nasib, kira-kira bagaimana terkejutnya dia dan keluarganya?? Saya saja yang hanya sekedar teman sangat terkejut dan tidak percaya. Menurut saya seorang pria dengan dedikasi kerja yang baik seperti dirinya harus dipertahankan di sebuah perusahaan. Jarang ada orang yang sifatnya baik, bekerja dengan baik dan melayani kepentingan clients dengan baik pula. Why?

Dan inilah berita yang mengejutkan saya. Teman ini tampaknya terlibat dengan masalah ketergantungan obat-obatan. Yes, drugs! Disini saya merasa sedih. Hehe– (niru-niru brigadir Dewi). Jadi karena masalah ketergantungan obat, tanpa ujan dan tanpa angin masa depan yang dibangunnya langsung rontok. Sesorang yang terlibat dengan masalah ketergantungan obat, biasanya logika tidak jalan, pikiran tidak jernih, kemudian tindakan yang diambil juga sesuka hati dan merugikan tidak hanya dirinya sendiri tetapi juga orang-orang yang ada disekitarnya. Melayani clients dengan pikiran yang fly atau melayang tentu sangat fatal pengaruhnya bagi perusahaan. Belum lagi ia masih harus menghidupi istri dan dua orang anak. Wah, bagaimana ini? Saya terkejut karena saya pikir masalah obat-obatan hanya banyak terjadi pada remaja dan orang-orang muda yang mungkin masih labil dan tersesat di perjalanan kehidupan. Ternyata teman sendiri yang notabene sudah dewasa, berkeluarga dan punya kehidupan mapan pun mampu terporak-porandakan nasibnya oleh karena drugs. Shocking! Lalu bagaimana pendapat Anda tentang hukuman mati bagi bandar narkoba? Nah, jawab dalam hati! Sungguh, disini saya merasa sedih,…

Telah dibaca 325 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.