Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Semua Cerita Sudah Dikisahkan

Semua Cerita Sudah Dikisahkan

storytellingAkhir-akhir ini banyak bergaul dengan orang-orang muda. Bukannya sok mau jadi remaja lagi. Tetapi karena sebagai penulis saya sedang berpikir keras bagaimana caranya mempromosikan buku saya–CROISSANT, maka saya berkenalan dengan para blogger muda ini. Mereka yang gemar meresensi buku. Kenyataan bahwa orang-orang yang ‘matang’ (saya mau ngomong ‘tuwek-gaek’ nggak enak, dikira ngeledek) sudah jarang berkesempatan membaca buku. He-em mana sempaaat.. Mengikut iklan sereal pagi jaman dulu. Agak mengelus dada juga sih. Rata-rata pasar buku adalah orang muda dan penulisnya juga muda-muda. Jadi Oom dan Tante pada kemana? Hya, ampun… mengais rejeki dong diajeng! Emangnya situ, makan tidur dan ngelamun mulu kerjanya? Ya, pokoknya yang banyak membaca adalah orang-orang muda. Jadi saya mengikut arus ini, mencoba memasukkan buku melalu resensi dan pasar pembaca muda. Walaupun saya bermaksud agar kisah yang saya angkat ‘dewasa’ namun ditulis dengan penulisan yang segar dan ringan. Tapi tetep aja Oom dan Tante nggak ada waktu untuk membaca kan?

Waktu saya seusia mereka, saya juga pembaca yang sangat aktif. Semua buku, cuilan kertas apapun saya baca. Senang aja, hobby! Tapi, jaman itu belum ada internet. Jadi yang namanya membaca, ya hanya membaca saja. Tidak ada keinginan meresensi buku. Palingan nanya teman, “Kamu udah baca buku ini belum? Bagus nggak ceritanya?” Jaman sekarang ini rupanya banyak banget blogger muda yang suka meresensi buku. Bahkan samar-samar seakan ada perlombaan terselubung siapa yang paling banyak membaca dan menuliskan resensinya di blog pribadi. Bagus banget jika memang minat baca kental dan kuat yang jadi alasan. Tapi harus diingat juga, seharusnya membaca karena memang ingin mengisi dahaga jiwa, bukan membaca karena ingin sok-sokkan nunjukkin ke teman kalau kita paling canggih dengan bacaan berat yang udah membumbung setinggi bukit. Setelah membaca juga resensinya rata-rata sama. Dimulai dengan cerita singkat si A- si B dan si C. A jatuh cinta pada B yang memendam rasa pada C. Sementara C adalah cewek acuh yang dingin dan bla-bla-bla. Kisah cinta segitiga makin rumit ketika Ryan menolak Agnes yang mati-matian menyimpan duka gara-gara dilabrak Lara. Ceritanya saya rasa mirip. Itu-itu saja. Muda-remaja-permainan rasa dan bla-bla-bla. Kadang saya heran, ini kayak jalan 10 km meter di lapangan maha luas, terus lurus, satu langkah kekiri, belok. Maju lagi. Patah ke kanan. Alur cerita bisa rumit, bisa simple. Yang penting muda, remaja, cinta dan luka. Mosok gitu muluk? It should be meaningful,.. Menurut subjektivitas saya sih!

storyCerita serumit apapun dan seheboh apapun, kalau tidak ada maknanya, untuk apa dibaca? Seharusnya sebuah buku memperkaya bathin. Dulu saya membaca buku a child called it. Atau chicken soup for the soul. Buku-buku semacam itu memperhalus nurani. a child called it adalah kisah tentang anak yang dianiaya, dihantam dan disiksa habis-habisan semasa kecil. Benar-benar kejam. Dan saya percaya masih banyak orang dewasa yang tidak sabar mengasuh anak-anak kecil. Saya pun termasuk di antaranya. Maka ketika membaca buku itu, ada rasa merinding dan takut. Kok bisa seorang anak dianiaya semacam itu. Makna yang muncul tentunya membuat kita selaku orang dewasa akan sangat berhati-hati dalam mengasuh anak-anak. Sementara chicken soup lebih banyak ke pengalaman bathin tentang perbuatan baik. Nice and sweet. Saya juga membaca Shoppaholic. Ya ceritanya cewek-cewek gitu tetapi cara menuliskannya segar, lucu dan memang sangat kreatif sehingga enak dibaca. Penulis shoppaholic itu talented, Sophie Kinsella namanya. Sementara penulis dua buku sebelumnya lebih kepada tehnik menulis karena pengalamannya adalah kisah nyata. What if jika menulis tanpa talent dan zero tehnik menulis. Hya gubrags lah… Dibaca membingungkan kaya makan permen mentos yang terbuat dari semen. Harusnya pedas dan segar tapi sepa. Harusnya renyah dan mudah dicerna, ini keras dan kemrothok di gigi. He-he,…

Saya tidak pandai mencari cerita yang rumit atau sangat SPESIAL berbeda. Misalnya perkawinan Aliens dengan dinosaurus di masa depan yang muncul dengan mesin waktu. Spesies yang baru ini memusnahkan manusia di bumi. No, saya nggak bisa cerita ngaco siah kayak gitu. Saya suka cerita yang biasa-biasa saja, ada makna yang mampu dipetik. Bagaimana dengan anak atau perempuan korban KDRT. Bagaimana sakitnya orang yang diselingkuhi. Bagaimana menemukan pasangan hidup yang tepat, Mr. or Mrs. Right dalam hidup ini? How-how yang gampang saja, kehidupan sehari-hari dan ada didepan mata. Nah, disiasati dengan tehnik menulis yang baik. Dengan bahasa yang cermat dan detail peristiwa yang runtut/urut dan logis. Saya kira itu akan membuat sebuah buku berbeda daripada remake Romeo dan Juliet diulang-ulang-ulang-ulang. Iya jatuh cinta itu asyik, seru, indah dan sebagainya. But beyond that, diatas semua itu ternyata ada seribu satu kenyataan hidup yang jauh lebih penting dan lebih bermakna. Menurut saya semua cerita cinta yang lumrah, yang ada di muka bumi ini, sudah dikisahkan. Jika ingin berbeda munculkan dalam tehniknya. Dengan latar belakang yang unik atau dengan gaya bahasa yang unik. Tapi itu sih pendapat pribadi saya saja. Pengen nulis sastra? Pengen! Tapi belum bisa. Pengen merangkai kisah ajaib? Pengen! Tapi belum ada gagasan. Yang perlu dicermati bagi saya adalah makna akhir dari sebuah buku. Ini ceritanya sudah tamat? Sudah! Terus?… ya gitu aja END. FINISH. Maknanya? Nggak ada. Hanya hiburan. Ngeek–ngookkk.

Waktu kapan saya baca sepotong berita. Pak Jusuf Kalla berkomentar, “Anak-anak muda dan remaja banyak yang berlaku kriminal, jadi begal. Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita!” Hya, salahnya bacaannya kurang. Kalaupun ada yang dibaca ceritanya ngeek–ngook. Membaca itu bisa dua arti: entertain dan mengisi jiwa. Sebaiknya diperbanyak untuk mengisi jiwa dengan ‘muatan.’ Kalau murni entertain bisa diambil dari film juga. Film adalah hiburan dalam bentuk juice blender. Kalau membaca buku diibaratkan memakan buah segar. Komentar Pak Jusuf Kalla tidaklah salah. Karena beberapa waktu lalu, putri saya berteriak pada saya, “Mom, adik kelasku ada yang beli buku karangan Mama lowh!” Bingung saya, abis bukunya dimaksudkan untuk SMA keatas. Ada kisah KDRT. Ada kisah cowok metroseksual. Ada kisah CLBK dan perselingkuhan. Memang tidak vulgar, hanya cerita ringan karena bentuknya CERPEN. Tapi yang membuat saya gubrags, “Mam,…adik kelasku yang beli buku Mami itu anak kelas 5 SD lowh!” — Waduh, saya mau pingsan. Kenapa anak-anak sekarang dibiarkan membeli bacaan tanpa tahu apa yang harus dibeli dan baca? Semasa SD dan jelang SMP saya hanya membaca Enid Blython dan Agatha Christie, komik Asterix dll. SMP hingga akhir SMA barulah membaca roman-roman Mira W, Marga, Lestari V, S Mara Gd, dll. Saya ingat yang menulis agak vulgar jaman dulu adalah almarhum Pak Motinggo Busye. Menulis cerita vulgar? Hmmm,…ditulis nggak yaaaa..? Hiya, … rasanya semua cerita sudah dituliskan, kita hanya perlu berhati-hati untuk memahami maknanya. Kasihan generasi selanjutnya, jangan sampai tersesat terlalu jauh bersama mesin waktu.

Telah dibaca 87 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

5 comments

  1. katedrarajawen

    Menarik Ci Jo, menurut saya sebuah bacaan yang bagus itu mengandung unsur, menghibur, memerkaya batin, dan membangkitkan inspirasihttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. hmm, apakah mungkin hal yang sama tidak saya sadari dulu: saya lebih suka (baca: nyaman) dialog dengan bapak-bapak yang usianya di atas kepala 4… hingga bapak saya sendiri menyuruh saya menyingkir karena bapak saya mungkin merasa nggak nyaman, bila saya bergabung dengan ‘aliran’ bapak-bapak itu… (se-RT atau se-lingkungan Gereja) http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif