Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Kebaikan Tanpa Ketulusan

Kebaikan Tanpa Ketulusan

Tadi siang Tante saya mengirim pesan pendek. Meminta saya mengecek keadaan kerabat yang sedang sakit keras. Saya agak bingung untuk memenuhi permintaan ini dikarenakan kerabat tersebut terkenal sebagai seorang pembuat onar, pencari masalah dan orang yang emosional. Sementara diapun sama sekali tidak pernah menghubungi saya, apalagi meminta tolong atau hal apapun juga. Saya menyadari bahwa kebaikan itu harus tulus, ikhlas dan tidak pilih kasih. Dimana ada orang yang butuh pertolongan maka kita harus menolong.

true-forgiveness-quotes-thank-youTetapi, bagaimana jika hati kita berkata untuk menolak berbuat baik pada orang tertentu? Alasannya bermacam-macam bisa jadi kita enggan, malas, takut, marah atau dendam pada orang yang bersangkutan. Ketika hati kita disakiti oleh siapapun juga, misalkan kekasih, suami, istri, atasan, tetangga atau bahkan orang-tua, terkadang hati menjadi bebal. Kita menjadi mati rasa untuk berbuat baik pada orang-orang itu yang sudah menyakiti hati kita. Adalah ‘the next level’ ketika kita tetap mampu berbuat baik pada orang yang pernah berbuat keji pada kita. Benar tidak? Itu luar biasa sulit!  Ada yang sanggup melakukannya, ada yang tidak sanggup, ada yang butuh waktu.

Orang yang sanggup melakukannya biasanya adalah orang-orang yang banyak berdoa, banyak melembutkan hati dengan meresapi ayat-ayat kitab kebijaksanaan. Bahkan manusiapun banyak sekali yang bersikap munafik. Berdoa siang dan malam. Lalu membaca semua ayat-ayat kitab dengan rajin dan tekun. Tetapi tetap saja ketika tiba saatnya untuk memaafkan dan melakukan kebaikan pada orang yang pernah berbuat jahat pada dirinya, tidak sanggup. Berdasarkan pertimbangan logika, mana mungkin kita berbuat baik pada orang yang pernah berbuat jahat kepada kita? Terbuat dari apa hati ini? Emas 24 karat? Luar biasa ketika seseorang sudah sanggup berbuat demikian, membalas kejahatan dengan kebaikan. Masalahnya muncul pula praduga, jangan-jangan hanya kamuflase untuk membalas dendam? Kedok untuk terlihat baik dan mulia?

Saya menakar-nakar diri sendiri. Ada beberapa kesempatan yang sepertinya kita sudah ‘mentok.’ Pintu maaf sudah tertutup dan kita tidak akan pernah memaafkan seseorang yang melakukan perbuatan keji pada kita. Ada yang bisa memaafkan namun menunggu waktu yang tepat, momentum yang pantas. Bagaimanapun juga waktu adalah penyembuh rasa yang terbaik. Time is the best healer. Semakin lama waktu berlalu, semakin jauh kita dari kejadian tersebut. Yang membuat perasaan kita menjadi mati terhadap seseorang atau sesuatu hal. Ada yang berilmu tinggi sehingga sekalipun disakiti atau dianiaya maka cepat pula perasaannya membaik dan mampu memaafkan. Namun menurut saya, orang-orang seperti ini tidak banyak jumlahnya. Dan sulit pula diidentifikasi, yang mana orangnya? Yang termasuk setengah titisan malaikat (tanpa bermaksud sinis)?

Menurut saya untuk perbuatan yang kejam dan menyakitkan memang umumnya sulit bagi manusia untuk saling memaafkan. Maka tidak sedikit orang yang merasa bersalah mencari pembenaran diri dengan mengejar-ngejar bekas korbannya untuk minta maaf. Namun esok lusa juga membuat kesalahan yang sama. Lagi-lagi keji dan menyakiti. Sebab tabiat jahat itu biasanya juga sudah mengakar dalam diri manusia. Tidak dapat secepatnya disembuhkan seperti mengobati panu dengan obat oles. Ketika tadi siang Tante memaksa saya untuk memaafkan, mengampuni dan menengok kerabat yang pernah berbuat sangat jahat, ternyata saya belum mampu. Sebagian suara hati saya masih mengatakan, “Tidak ada indikasi untuk memaafkan dan mengampuni seseorang yang tidak merasa bersalah. Ini namanya konyol?” Walaupun memang syarat untuk mengampuni dan memaafkan juga tidak jelas. Paling-paling kita hanya akan berkata, “Iya sudah saya maafkan.” Namun bisa jadi dalam hati tetap timbul penolakan, menghindar dan enggan untuk berinteraksi. Apa namanya itu? Kebaikan tanpa ketulusan?

Dengan berat hati saya terpaksa mengecewakan Tante dengan menolak. “Nggak bisa Tante. Saya belum bisa mengunjungi orang tersebut, karena dia telah berbuat jahat dan menakuti saya. Bahkan mengancam.” Kemudian Tante masih saja berkeras agar saya menengoknya, “Dia sakit dan tidak dapat bangkit dari tempat tidur.” Lalu saya bertanya, “Apakah dia meminta saya datang?” Lalu Tante menjawab lagi. “Engga sih. Dia tidak meminta kamu datang. Tante hanya kasihan melihatnya tidak bisa bangun dari kasurnya.” Saya lalu menjawab lagi, “Nah, dia saja sama sekali tidak butuh saya. Hanya Tante yang memaksa saya melakukan perbuatan mulia. Sayangnya saya tidak bisa.” Saya bisa saja bohong dan berbuat kebaikan lalu mengunjungi orang yang sakit itu. Tapi bagaimana jika saya hanya pura-pura? Hanya acting agar dikagumi oleh orang lain? Karena sampai hari ini, kenyataannya saya masih belum bisa belajar memaafkan kerabat tersebut. Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Segitunya dendamnya pada seseorang?”– Bagaimana jika orang tersebut pernah ‘membunuh’ orang yang Anda cintai? Apa iya akan secepat itu kita memaafkan? Saya hanya tidak mau terjebak pada kebaikan semu, yang hanya mencari simpati orang lain. Padahal tidak terkandung ketulusan didalamnya. Apalagi saya ‘dipaksa’ untuk berbuat baik. Berbuat baik kok harus dipaksa?? Seharusnya timbul dari dalam diri sendiri bukan?

Facebook Comments
Telah dibaca 74 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Menurut saya poin yang paling penting dan kesimpulannya adalah mencari jalan untuk bagaimana berbuat baik dalam ketulusan, Ci Jo http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif saya juga sering bertanya berapa banyak kebaikan yang benar2 baik yang telah saya lakukan? Saya salut dengan mama saya yang sewaktu kami kecil diperlakukan dengan tidak baik oleh tante dan om saya, tetapi mama saya bisa memaafkan semuanya dan hidup dengan rukun dalam keluarga besar papa saya http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif