Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Rahasia Masa Muda

Rahasia Masa Muda

Baru saja beberapa kawan pembaca membuat resensi buku Croissant di sebuah website penggemar buku. Salah satu kata-kata di paragraf pertamanya adalah sebagai berikut, “Saya mengira kisah kehidupan yang dimaksud CROISSANT adalah kisah cinta muda-mudi yang dimabuk asmara dan berakhir bahagia. Namun saya salah. Memang beberapa kisah diperankan oleh tokoh berusia muda dan happy ending, tetapi sebagian lain memberikan cerita yang berbeda.” Saya ingin tertawa membaca kalimatnya, karena memang banyak yang beranggapan demikian. Tetapi yang sudah membaca tidak sedikit yang merasa kaget, sedih dan gloomy. Saya membacanya juga akan merasa sedih seandainya saya ini pembaca. Saya hanya berusaha menuturkan dongeng yang pernah jadi realita. Bukan dongeng bohong belaka yang serba berakhir bahagia.

stemTetapi kehidupan memang demikian bukan? Kadang senang, kadang sedih? Kebanyakan orang inginnya hanya merasa senang. Hanya menikmati sajian kesenangan. Ngapain sedih-sedih? Kan enaknya senang-senang. Jadilah banyak yang bermasa muda dihabiskan dengan bersenang dan hura-hura saja. I know, because I’ve been there. Dan ada yang saya sesali dengan kebanyakan bersenang-senang, yaitu kehilangan fokus untuk tujuan hidup. Coba pikir kalo hanya kesenangan yang pantas dicecap, mengapa Tuhan menciptakan kesedihan? Kalau kuda hidup hanya untuk dikasih makan rumput kenapa dia juga harus diberi lecutan cambuk? Yak! Supaya bergerak maju. Kadang-kadang ada penyesalan karena saya merasa terlalu dimanjakan oleh ibu. Sehingga pada masa yang lebih muda dulu hanya menghabiskan waktu untuk bersenang dan berpikir tentang segala happy ending di kehidupan. Semasa muda sebagian besar dari kita merasa senang dan santai menjalani hidup karena kita belum 100% bertanggung-jawab pada diri sendiri. Kita masih mengandalkan ‘kemanjaan’ pada orang-tua. Ketika masuk masa kedewasaan kita tidak hanya 100% bertanggung-jawab atas diri sendiri tetapi setelah berkeluarga dan punya keturunan kita menjadi 200% bertanggung-jawab pada pasangan hidup dan anak-anak. Menurut saya berlaku sama untuk lelaki dan perempuan.

Semalam saya memberi ‘wejangan’ lagi pada putri saya tentang fokus di kehidupan. I said: you can be the strongest person of your ownself then you can fall in love. Otherwise its useless. Saat muda lebih baik membangun karir dan masa depan, barulah memikirkan jatuh cinta. Why? Mungkin saya jahat ketika mengatakan bahwa jatuh cinta sebagian besar hanya masalah hormonal. Anda bisa mengatasinya dengan banyak aktivitas hobby, pekerjaan dan berolah raga. Be someone, then you can fall in love. Jadilah seseorang yang berguna di kehidupan, baru Anda bisa menimbang-nimbang tentang jatuh cinta. Tidak bisa jatuh cinta dipaksa-paksa dan membabi buta, mengejar-ngejar seseorang yang mungkin tidak sudi membalas cinta Anda. Yes, buang-buang waktu! Coba saja ketika Anda sudah jadi juara Indonesian Idol, menjadi penerima beasiswa ke Jerman, menjadi juara All England, menjadi ‘seseorang yang iconic’ — tidak perlu Anda jatuh cinta, penggemar akan datang dengan sendirinya. Dengan begitu Anda bisa memilih. Ketinggian kali cita-cita seperti itu? Okay, turunkan standar Anda pada level yang pas dengan kemampuan. Jangan memforsir diri juga, nanti stress! Paling tidak ya sudah punya pekerjaan mapan dan penghasilan, boleh deh mikir-mikir masalah cewek atau cowok idaman.

Ketika muda justru harus bekerja lebih keras, agar di masa selanjutnya tinggal memetik buahnya. Jika masa muda dihabiskan dengan berhura-hura, maka masa selanjutnya akan bengong seperti sapi ompong. Dan lagu lama terdengarlah seperti ini, “Pergi-pagi-pulang-petang-pinggang-pegal-pala-pening-penghasilan-pas-pasan-pasangan hidup-yang pasti bukan penelope cruz” He-he-he. Kasihan. Bersyukurlah yang masih muda dan masih punya banyak halaman kosong untuk dituliskan. Saya hanya ingin mengungkapkan kejujuran, bahwa tidak semua akan jadi happy ending di kehidupan. Be ready. Bukan berarti juga harus selalu pesimis dan negative thinking tapi dengan mengerti arti kesedihan kita bersiap untuk segala hal. Kita menjadi lebih kuat. Jangan kebanyakan membaca kisah tentang anak muda, remaja, yang melulu jatuh cinta. Maaf, menurut saya itu racun durjana. Roni memberikan hadiah IPOD di hari Valentine dan Nina membalasnya dengan kado bantal LOVE. Plisss deh! 

Facebook Comments
Telah dibaca 82 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. Kalau menurut saya, perempuan di masa mudanya memang cenderung ‘dimanjakan’ dan diberi perhatian lebih. Karena ce Jo mungkin belum merasakannya sebagai perempuan akibat kenyamanan tadi, maka pengamatan kompleks akan hal ini mungkin ‘terbang’… Saya pikir, ada pembedaan sosial yang ‘tidak tertulis’ dimana wanita lebih mendapat keistimewaan… dibanding cowok. Misalnya waktu berkemah, atau lainnya… jika ada protes, lalu sesama pria pun bilang: “alah… cowok aja lho… dasar cerewet!”

    hal ini pernah saya komentari dari seorang penulis lain di media yang lain. tapi ssssttt… ini yang komentar cowok lho http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif

    • mungkin ya kayak gitu hehehe….– tp sedapat mungkin sih anak laki dan perempuan harus sama berkerja keras… yg membedakan kali kodratnya saja..perempuan harus gimana jd perempuan dan laki harus gimana jadi lelaki — kalo hak, kewajiban dan pencapian prestasi — harus sama-…sama-sama berusaha meraih yg terbaik.. http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif