Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Bicara Tentang Kesedihan

Bicara Tentang Kesedihan

Lagi, resensi tentang Croissant masuk dari seorang pembaca. Intinya bagi penggemar ‘happy ending’ jangan baca Croissant deh! Karena sebagian besar kisahnya ‘sad ending.’ Disini saya mau tertawa. Saya ingin mengatakan, come on people, this is just stories. Dont take it too personal! Ini hanya kisah fiksi, kenapa harus jadi masalah kalau sad ending? Tokh, tokohnya tidak ada. Hanya fiksi. Saya lalu mengamati pasar pembaca tanah air: definetely orang muda. Hanya anak muda, remaja, teelit dan sebagainya yang membaca buku. Sisanya dewasa mungkin 25 tahun ke atas sudah tidak sempat baca novel, roman atau apapun itu. Mungkin maksimal baca portal berita, news. Itu juga sambil buru-buru di kakus (he-he,..). Saya pernah bekerja di institusi asing. Saya perhatikan orang-orang bule tetap membaca dan nonton film secara reguler, di usia 30-an, 40-an, 50-an dan seterusnya. Dan buku yang dibaca tentu sudah bergeser dari yang model teenlit, shoppaholic, girly apapun temanya akan bergeser. Kian berat. Bisa kisah perang. Kisah kerajaan romawi. Kisah jaman nazi, holocaust dan sebagainya.

Menulis happy ending relatif mudah. Karena Cinderella, Snow White dan Aurora sudah sejak dahulu kala berteriak-teriak tentang kisah mereka happy ending. Anda dan saya juga pasti maunya yang serba happy ending. Tapi… happy itu dari dalam hati. Ending, Tuhan yang memberikan, tidak ada yang tahu. Jika hanya ingin membaca yang serba indah dan mulus, sejujurnya realita di kehidupan ini tidak ada. Disisi kebahagiaan selalu ada kesedihan. Saya sudah tahu pola-pola teenlit, chicklit, girly dst. Selalu gaya bahasa yang ringan, lucu, humoris, gembira, imut, and the most important thing is happy ending. ‘Gue jadian ama cowok gebetan yang udah lama gue taksir. Happynya-hati gue rasanya berbunga-bunga abis! Nggak bisa diungkap deh dengan kata-kata!’ Itu adalah kisah-kisah yang disukai orang-orang muda. Atau mungkin saya salah? Dan cmiiw, rasanya cerita semacam itu sudah mluntrah-mluntrah banyaknya. Kebanyakan cerita novel, roman remaja, cerita SMA ya gitu-gitu saja. Saya juga pernah mengalami kejadian dikasih boneka teddy bear lucu banget sama cowok, eh pacar saya ngamuk (sekarang suami). Materi cerita seperti ini terjadi pada saya ketika jaman es belum mencair. Eh, salah ya! Pokoknya dimasa lalu lah yaaa…

No, maaf. Saya udah agak bosan dengan kisah-kisah semacam itu. Mungkin kalau diharuskan. Diminta. Ya sudah, akan saya tulisan. Itupun dikatakan bahwa gaya bahasa saya terlalu ‘berat.’ Well,… saya mengalami masa remaja ketika SUMPAH PEMUDA harus diteriakkan keras-keras. Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbahasa satu, bahasa Indonesia. Whats wrong dengan bahasa baku kita? Ini saja gaya penulisan saya udah digado-gado dengan sok ngenggres sometimes biar nggak jadul-jadul amat. Bahasa saya biasa saja. Sopan, rapi, terarah. Tidak usah menyerang orang. Tidak membuka front. Tell the truth. Ungkapkan kebenaran. Semudah itu saja kok, patokan menulis bagi saya. Tapi saya suka masukan-masukan yang diberikan. Senang, jadi ada wawasan baru tentang saya dan gaya penulisan saya. Hanya terkejut karena ternyata kesedihan, sad ending walau hanya sekedar bacaan fiksi dihindari. Oleh banyak orang lho! Bahkan sahabat saya sendiri berkomentar, “Kamu nulis cerita kok serba sedih, haduh saya jadi terbawa sendu. Hidup udah susah, kamu sajikan kisah yang membuatku mellow.” Hla, ...gimana ya. Waktu saya nulis, idenya, bayangannya, tokoh-tokoh yang muncul di benak memang seperti itu. Mungkin lain kali akan muncul cerita yang lucu dan ceria. Ditunggu deh! #komat-kamit berdoa supaya ada tokoh ceria dalam benak#

happyendingTujuan saya menuliskan kisah yang mellow-mellow, …. hanya untuk menyentuh hati Anda! Bahwa, kalau gembira itu nggak usah terlalu bungah! Melompat-lompat, teriak-teriak, muka nyengir 24 jam non stop. Gembira dinikmati dengan kesadaran penuh, kalau suatu hari tidak gembira, jangan sampai depresi. Down. Stress. Jangan! Sedih juga nggak usah terusan. Nangis mengguguk-guguk, tujuh hari tujuh malam. Air mata kering. No. Jangan! Sedih, jengkel, kecewa, tidak terima. Yo’wes. Abis itu langsung bangkit lagi. Usaha lagi. Bangun lagi. Jalani lagi. Cari makna bahwa hidup ini indah. Balance adalah kunci, sehingga kita bisa sadar sepenuhnya tentang keberadaan kita. Satu hari dikasih senang, bilang terima kasih pada Tuhan. Hari lain dikasih muram, bilang Tuhan terima kasih ujiannya membuat makin matang sebagai manusia. However, remaja, anak-anak, memang maunya yang serba ceria. I understand. Mungkin karena ketika remaja saya nggak ceria-ceria amat jadi agak bingung menyajikan cerita yang remaja dan ceria penuh pesona. Dimasa kecil saya baca naskah-naskah klasik balai pustaka yang ada di perpustakaan sekolah, layar terkembang, siti nurbaya, perawan di sarang penyamun, olenka – Budi Dharma dan sebagainya. Its classic! Beautiful. Saya suka. Waktu itu belum paham banget juga saya baca saja. Sekarang udah lupa. Mungkin harus diulang baca. Nggak, saya nggak sedih bahwa orang jadi sedih karena baca buku saya yang sedih. Saya senang karena bisa memaksa beberapa orang untuk sesekali sedih hehehe.…secuil saja! Melalui fiksi.

 

Telah dibaca 48 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.