Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Rela Nggak Rela Cinderella

Rela Nggak Rela Cinderella

Lempar lagi. Kisah besutan Hollywood lainnya. Terhanyut lagi? Iyalah! Siapa yang enggak? Apalagi kali ini yang sedang ambil peran besar adalah the one and only, Cinderella. Sebenarnya Cinderella pertama saya adalah Ira Maya Sopha. Capa tuh? Udah brows aja. Udah lama banget ketika saya menyaksikan Cinderella versi Indonesia. Itu saja saya suka. Kisah Cinderella kurang cocok bagi saya jika dilihat dari backgroud kisah. Saudara saya lelaki. Saudara sepupu saya pun kebanyakan lelaki. Walaupun punya ibu tiri, saya tidak tinggal dengan ibu tiri dan pada suatu titik saya justru kasihan pada ibu tiri saya karena saya pikir saya kadang galak terhadapnya. Hya, abis mama muncul ketika saya sudah dewasa. Format hubungannya tentu bukan ibu-anak. Lebih kepada hubungan dua orang dewasa. Tapi yang sangat saya sukai dari Cinderella adalah bagaimana dalam hidupnya yang serba “sad” ia selalu berusaha “happy”. Suka sekali gagasan ini. Bukan berarti mengingkari kenyataan tetapi to always look at the bright side!

cinderAlkisah Ella (Lily James) ditinggal oleh mamanya (Hayley Atwell) yang sakit parah kemudian meninggal dunia. Papanya (Ben Chaplin) menikah lagi dengan janda cantik yang elegan (Cate Blanchett). Sang janda membawa dua anak Anastasia (Holliday Grainger) dan Drisella (Sophie McShera). Sebelum meninggal Mama Ella berpesan pada anaknya bahwa dalam menjalani kehidupan Ella harus ‘Have courage and be kind.’ Alias dalam menjalani hidup ini harus punya keberanian dan selalu berbuat baik. Yaella, sederhana banget Bu, nasihatnya! Tapi bener. Simple namun mujarab. Sepertinya yang merapalkan dua mantra ini dalam kehidupan akan memiliki wajah cantik dan secerah Cinderella. Amin! Dalam sebuah perjalanan bisnis, Papa Ella juga meninggal dunia. Ketika berita itu tiba, Ella tak kuasa menahan air mata. Hidup berempat dengan ibu tiri dan kedua saudaranya, Ella lalu dijadikan pembantu dan ditempatkan di kamar gudang di lantai menara atas. Saking dinginnya, Ella sering tidur didepan perapian. Muka cemong-cemong kena abu perapian. Maka oleh saudari-saudari tirinya ia dijuluki CINDERELLA. Cinder = abu/arang. Demikianlah asal muasal nama Cinderella.

Suatu hari ketika sedang berkuda ke hutan, Ella berjumpa dengan pangeran (Richard Madden). Bisa ditebak pangeran sangat terpesona pada kecantikan Ella yang walaupun berpakaian sederhana seperti pembantu tetap bersikap baik dan ramah. Bahkan ia juga membagi nasihat pada pangeran agar menjadi orang yang “have courage and be kind”. Dari perjumpaan itu pangeran lalu mengadakan sayembara mencari jodoh. Yang sebenarnya pangeran ingin mencari lagi keberadaan Ella. Karena ia tidak tahu siapa nama Ella dan dimana tempat tinggalnya. Ibu dan saudara-saudara Ella sangat bersemangat untuk datang ke pesta itu. Ella mengira akan diajak. Ternyata ketika pesan baju ke penjahit sebanyak tiga stel dimaksudkan hanya untuk ibu dan sodara-sodara tirinya. Ella lalu menjahit bajunya sendiri dan tetap ingin ikut. Baju ini dirobek-robek oleh ibu tiri dan kedua saudaranya. Dalam kesedihannya Ella menangis, meratapi kemalangan. Saat itulah ibu peri (Helena Bonham Carter) muncul dan memberikan keajaiban bagi Ella. Ia dijadikan putri yang jelita dan memiliki kemewahan. Singkat kata Pangeran terpesona karena berjumpa lagi dengan Ella. Bla-bla, happily everafter.

stepsisters-med-500x451Keseluruhan kisah Cinderella asli 100% tidak ada plot silang atau berbeda seperti dalam film Maleficent (Angelina Jolie), kisahnya persis dalam buku cerita. Yang membuat berbeda barangkali karena para pemerannya ciamik mendalami perwatakan mereka, sehingga ekspresi wajah yang ditampilkan oleh masing-masing karakter terasa sangat kuat. Ella terlihat cantik, polos dan baik. Ibu tiri culas dan keji. Kedua saudarinya pemalas dan bodoh. Pemeran film semacam ini yang sudah langganan adalah Helena Bonham Carter. Ia selalu muncul sebagai tokoh ‘fiksi fantasy’– Helena muncul pada film alice in wonderland, harry potter, sweeney todd, dst. Acting Helena sangat pas ketika memerankan karakter dongeng. However dalam film ini ia hanya muncul sebentar dan actingnya biasa saja. Acting Cate Blanchett sebagai ibu tiri mengingatkan saya pada acting Glenn Close dalam 101 dalmatian. Sangat mirip. Tidak terlihat sebagai jenis acting atau perwatakan baru. Dibumbui dengan kostume yang sangat indah, spesial effect yang fantastis dan kesedihan Ella dalam wajah polos tanpa dosa, film ini cocok sekali untuk anak-anak dan remaja. Film ini mungkin bisa juga untuk ‘test bathin’ seseorang. Dalam satu adegan Cinderella bertanya, “Saya sudah baik sekali padamu. Kenapa kamu selalu jahat pada saya?” Lalu ibu tiri menjawab, “Karena kamu muda, baik, polos dan sempurna. Saya benci kamu.” Jadi kalau kita mau baik makanya baik aja (kita kan Cinderella?). Gak usah perduli orang yang jahat. Saya agak bingung karena bagi saya semuanya biasa dan tidak ada yang baru, tetapi beberapa adegan dalam film membuat saya sangat terharu dan nyaris meneteskan air mata. Menonton Cinderella (2015) seperti makan sayur asem yang pas banget asemnya, segernya dan gurihnya. Jadi biasa, sederhana but touching to the bottom of the heart. Hidup cuma ‘sayur asem’ kata Cinderella, have courage and be kind! Beranikan diri dan terus berbuat baik,…Oya, happy ending…as we wish.

Lavender’s blue, dilly dilly,
Lavender’s green
When you are king, dilly dilly,
I shall be queen

 

Telah dibaca 90 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. kog bisa ya, digarap berkali-kali tapi masih ada yang nonton :)
    saya suka Helena pas di Mary Shelley’s Frankenstein.

Leave a Reply

Your email address will not be published.