Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Ketika Egois Jadi Pilihan

Ketika Egois Jadi Pilihan

Kisah ini terjadi sudah lama sekali. Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya tidak tahu kenapa, tetapi boleh dikata memang ingatan saya sangat kuat. Dan saya jarang lupa khususnya untuk peristiwa-peristiwa yang berkesan mendalam bagi saya. Maka saya menyimpan banyak ingatan tentang hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Menurut sebagian orang, hal-hal yang tidak menyenangkan sebaiknya dilupakan, I wish I could, but I can’t. Bagi saya memaafkan dan melupakan sepertinya dua hal yang sangat berbeda. Memaafkan bisa kapan saja tetapi melupakan belum tentu bisa secepat itu. Kadang-kadang bahkan tidak bisa lupa.

Ketika duduk di bangku SD saya ikut kursus matematika disebuah tempat kursus bersama dengan beberapa anak lain dari sekolah yang berbeda, otomatis tidak semuanya saya kenal dengan baik. Ada seorang gadis yang lebih muda daripada saya tetapi bersikap ketus tanpa alasan. Dan saya tidak tahu kenapa? Why oh why? Waktu itu saya kelas 3 SD dan gadis ini kelas 1 SD. Saya pikir apakah dahulu saya terlalu “lembut dan baik hati?” Sehingga bahkan anak yang lebih kecil daripada saya, berani ‘membully’. He-he-he,..

Anak ini jutek sekali. Kalau saya tersenyum padanya, ia akan balas dengan sungutan cemberut. Menampakkan rasa tidak suka yang teramat sangat. Kalau saya ajak bicara, tidak mau menyahut. Hal yang menyakitkan adalah hal yang paling konyol yang pernah saya alami. Suatu hari gadis kecil ini bermain dengan semua kotak pensil yang ada di meja kursus, milik semua anak-anak yang kursus disitu. Kotak-kotak pensil disusun olehnya menjadi sebuah bangunan rumah-rumahan. Ia menanyakan miliki siapa kotak-kotak pensil itu. Ketika ia menanyakan kotak pensil milik saya, maka saya jawab sambil tersenyum bahwa yang berwarna pink adalah kotak pensil milik saya. Apa yang terjadi? Tanpa merespon senyuman saya, kotak pensil milik saya dikeluarkan dari bangunan rumah-rumahan yang sedang dibuatnya. Tepatnya disingkirkan! Ia sama sekali tidak mau menyentuh kotak pensil saya.

Hari itu diusia 8 atau 9 tahun saya pulang kursus dengan perasaan sedih, bahkan menangis di perjalanan. Kenapa seseorang tidak menyukai saya tanpa alasan yang jelas? Kok bisa? Kenapa hanya saya yang tidak disukai olehnya? What have I done to her? Saya pernah berbuat apa kepadanya? Tapi namanya anak SD, tentu saja saya tidak berpikir untuk bertanya pada anak yang lebih kecil dan muda usianya. Kenapa sih kamu benci sama saya? Apa alasan kamu tidak suka pada saya? Sedangkan saya rasanya tidak pernah menyakiti dirinya. Namanya saja saya tidak hafal, kenal juga hanya ditempat kursus. Yup. Dibully itu tidak enak sodara-sodara! Tetapi semasa kanak-kanak dulu tentu saja saya sama sekali tidak tahu tentang istilah bullying atau hal lainnya. Yang ada bawaannya sedih banget. Kenapa saya dikeluarkan dari kelompok? Kenapa saya dicuekkin atau dibenci oleh anak itu?

Pengalaman itu membekas kuat hingga kini. Kesedihan mendalam akibat perlakuan “tiba-tiba dicuekkin.” Hmmm,… sangatlah tidak enak. Tuhan menciptkan pikiran, mulut dan suara untuk berkomunikasi. Maka dari itu biasakan untuk berkomunikasi dengan baik. Ungkapkan hal-hal yang kurang cocok atau tidak disukai dengan sejujurnya. Tentu saja dengan sopan dan jelas. Apa dan mengapa. Dan orang lain juga berhak memutuskan bagaimana ia akan merespon. Apakah ia akan mengakui, “Oh iya. Saya salah, maaf jika kamu kurang suka.” Atau bisa jadi orang tersebut akan bersikap, “Masalah buat loe?..” Well, kita juga berhak menjadi egois, “Iya masalah banget buat gue! Kalo elo niat ngebully gue. Nanti dulu!”

SelfHu-hum, .. kita berhak menjadi egois ketika kita membela diri kita. Kita membela hak-hak kita dan hal-hal yang menghalangi kebahagiaan kita. Lalu bagaimana jika orang yang kita kemukakan keberatan juga merasa tersinggung atau menganggap kita mengada-ada? Itu hak mereka! Dan tentu saja hak kita juga untuk tidak lagi menganggap mereka orang yang penting dalam kehidupan kita! Nggak perlu masuk radar! What, kejam amat? Hey man, … manusia di dunia ini milyaran jumlahnya! Ngapain pusing dengan beberapa orang yang tidak bisa menerima logika dan rasionalitas? Tapi itu kan logika dan rasional berdasarkan satu pihak? Yaitu kita sendiri? Iya, tetapi jika kita sudah berdoa, berpikir dan menakar dengan keyakinan, maka lakukanlah. “Nggak. Saya tidak bisa diperlakukan seperti ini! Saya tidak bersedia!” Dan Anda sudah mengemukakan keberatan dan alasan Anda. Sah! Tok-tok-tok, ketok palu. Egois jadi pilihan. I dont need you,…Hsyuuuh,… 

Telah dibaca 56 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif