Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Kejutan Tak Terduga

Kejutan Tak Terduga

Hidup ini memang aneh! Ada orang yang tidak berbuat apa-apa atau melakukan hal yang sederhana saja. Eh, mendadak jadi sukses dan sangat ternama. Ada orang yang kerja keras bangun pagi buta, berangkat kerja, sore atau malam pulang kerumah masih harus bekerja lagi, membereskan rumah atau memasak. Lalu begitu saja, tidak ada perubahan. Tidak ada hal baru yang menjanjikan dan mencengangkan. Memang dalam hidup ada unsur kerja, doa, pasrah dan kejutan. Hal yang saya pelajari seumur hidup atau kutukan yang saya tanggung barangkali? Semakin kita ngotot menginginkan sesuatu atau menggapai sesuatu, semakin jauh kehendak itu akan terwujud. Sebaliknya jika kita relax dan santai dalam menghadapi segala hal di kehidupan, termasuk kegagalan, selalu ada saja kejutan yang muncul dari Tuhan.

Beberapa bulan ini saya agak lelah karena rasanya terlalu banyak tulisan yang saya hasilkan. Otomatis lebih banyak lagi waktu yang dibutuhkan untuk mengedit/memperbaiki dan juga ‘mengadu nasip’. Melihat sampai dimana tulisan-tulisan tersebut akan bermuara atau berbuah menghasilkan. Banyak harapan yang saya tanamkan pada beberapa naskah yang sudah lama saya tulis. Ternyata harapan saya hanya menjadi harapan yang kosong. Karena banyak dari naskah-naskah tersebut hanya dikembalikan tanpa catatan khusus. Hanya disebutkan: naskah Anda kurang menarik. Hell, yeah! Tidak menariknya dimana? Semua penulis pasti akan yakin. I did best I can. Saya sudah menuliskan yang terbaik, terindah dan paling sempurna. Kenapa masih juga dikatakan tidak menarik? Dimana permasalahannya? Tetapi tentu saja penerbit bukanlah rekanan penulis yang akan dengan serta-merta atau dengan semanis madu memberikan bimbingan penyuluhan. Menunjukkan dimana letak kesalahan dari penulisan tersebut. Menyampaikan mengapa naskah tersebut dianggap tidak menarik. No, penerbit adalah sebuah institusi yang sibuk! Jangan terlalu banyak berharap. Even kepada orang terdekat pun kita tidak usah menggantungkan terlalu banyak harapan. Why? Karena pada dasarnya setiap manusia adalah individu mandiri. Baik-buruk. Menang-kalah. Sukses-pecundang. Semua adalah nasib dan peristiwa yang harus dialami oleh diri masing-masing. Tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Tidak bisa menyalahkan orang lain. Paham?

Jadi karena saya sudah kelelahan dan saya juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk hal-hal yang serba lambat di kehidupan, maka saya mencoba relax dan bersantai. Menikmati hal-hal lain yang sederhana. Mengantar anak kursus. Mengantar anak bermain di konser. Pergi menemui beberapa teman dan minum kopi bersama mereka. Atau jalan-jalan ke toko buku. Hal-hal yang simple saja seperti itu. Saya lupakan hasrat menulis untuk sementara. Karena bagi saya jika tidak ada pencapaian baru, saya kembali pada fase ragu-ragu yang memunculkan tanya, “Sesungguhnya saya berbakat menulis atau tidak sih?” Lalu saya berusaha meredam kecewa dan kelelahan saya karena kehidupan sedang ‘serba lemot.’ Saya banyak menonton film. Banyak sekali. Dan menonton film memang ‘drugs’ yang lebih aman daripada kita frustrasi dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang, lalu merusak tubuh sendiri. Kehidupan masih saya nikmati dengan ringan dan santai, ketika tiba-tiba saja sore ini saat sedang makan makan malam dengan keluarga dan mengecek inbox, sebuah email ‘aneh’ muncul.

surpriseEmailnya berbunyi demikian, “Mbak Winda, terima kasih atas kiriman naskahnya. Naskah Anda tidak menjadi pemenang dalam lomba yang kami selenggarakan namun naskah Anda menjadi UNGGULAN dan akan kami tayangkan di majalah kami pada bulan x selama 4 minggu berturut-turut.” Saya membaca email itu dengan rasa berlinang tidak percaya. Sama seperti, “Anda tidak akan menjadi pengantin dan mengenakan kebaya putih. Tetapi Anda akan menjadi pagar ayu dan mengenakan brokat coklat, apakah Anda bersedia?”Hell yeah! Tetap mau dong ach! Karena beberapa kali saya ikut lomba yang diselenggarakan olehnya dalam bentuk cerita pendek dan saya gagal melulu. Kali ini saya nekad ikut dalam bentuk cerita bersambung. Novelet. Ceritanya agak lebih panjang. Dan baru satu kali mengirimkan naskah panjang ini untuk lomba. Dengan feeling, paling-paling nggak lolos. Disaat saya kelelahan, pasrah dan masa bodoh, justru muncul tawaran untuk menayangkan tulisan saya pada majalah tersebut. O EM JI! Majalah senior kategori papan atas tanah air. Sesuatu yang menjadi impian saya sejak dulu. Majalah yang saya baca sejak masih SD hingga kini, walaupun tidak berlangganan secara reguler. Ketika kemudian tulisan saya akan menjadi salah satu bagian dari halaman-halaman yang akan dibaca orang se-tanah air, tentu saja saya terbelalak. What?? Beneran nih?…..

Telah dibaca 107 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

4 comments

  1. wah, selamat! mengingat saya sendiri juga setengah mati menembus yang namanya penerbitan ini…
    tapi analoginya lucu wkwkw soal pengantin dan pagar ayu brokat itu. maksudnya hanya… bajunya bukan posisinya gitu ya :)

    • hahaha… iya sih Agung ..thanks yaa… itu artinya buat yg masih single …belom jodoh ngga apa….mejeng jadi pagar ayu/pagar bagus juga hepi kok untuk dilakoni…http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Anita Godjali

    Selamat…selamat…selamat..!!! kejutan pasti tidak diduga , karena kalau sudah tau gak terkejut lagi dong! Mantabs deh… Jeng Winda…

Leave a Reply

Your email address will not be published.