Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Berkah Dari Keterbatasan

Berkah Dari Keterbatasan

happypersonKetika pertama kali tiba di Jakarta dan melihat ‘penampilan wah’ sebagian warga Jakarta yang mengenakan busana mewah, saya terpesona. Ketika itu saya masih sangat muda dan berpikir bahwa ‘orang-orang dengan penampilan mentereng adalah orang-orang yang patut saya hormati.’ Tetotttttt!! Completely wrong! Sangat salah. Menilai orang lain dari penampilan fisik atau dari balutan busana yang dikenakan mungkin hal yang gampang-gampang susah. Karena ada orang-orang hebat yang selera busana dan dandannya serba buruk. Ada pula orang-orang yang penampilannya sempurna bagaikan dewa dan dewi tetapi kelakuannya seperti dewa dan dewi neraka. Betul kan? Susah juga menilai, jika baru beberapa kali berjumpa atau hubungan yang ada belum terjalin lama.

Tapi buat saya pribadi, sungguh saya belajar banyak dari menilai seseorang ‘hanya sekedar dari penampilan luarnya saja.’ Penampilan cantik, ganteng dan keren adalah hal-hal yang enak untuk dilihat. Kepandaian, kekayaan dan kesuksesan juga adalah hal-hal yang dengan satu jentikkan jari akan membuat kita langsung terkagum-kagum. But more than that,… lebih dari itu belajar mengagumi orang yang terlihat sederhana, pas-pasan, nobody dan ‘siapa elo’ adalah hal yang secara bertahap saya alami. Mungkin karena saya terbiasa ‘silau’ oleh penampilan seseorang. Mungkin karena sejak kecil saya dibiasakan ‘kagum sama orang sukses’ atau ‘kagum sama orang kaya’ sehingga orang yang dalam pandangan biasa-biasa saja, bagi saya kadang-kadang akan tercetus ‘siapa elo….?’

Semakin bertambah usia saya mengerti bahwa manusia itu harus tunduk pada perintah Tuhan dan bukan perintah manusia lain. Baik itu orang-tua, pasangan, kakak-adik atau siapapun. Karena perintah Tuhan menurut saya diatas perintah yang lain. Ada kekuatan yang sangat besar dan ada misteri yang hendak dilecutkanNya kepada kita. True, kadang kita dinasihati oleh orang lain, ngeyel, kita membandel dan tidak berubah. Tetapi ketika kita diberikan pengalaman yang dahsyat oleh Tuhan, kita akan berubah. Sungguh,… Pengalaman seperti apa? Biasanya pengalaman yang diluar kuasa manusia. Pengalaman terdekat antara kehidupan dan kematian. Pengalaman semacam itu membuat kita menyadari hal-hal yang paling berharga di kehidupan yaitu kebaikan, cinta dan kebahagiaan. Bullshit! Tidak ada orang yang benar-benar baik. There is no free lunch… Tidak ada makan siang yang gratis. Semua orang berbuat baik ada maunya. Ada agenda tersembunyi!

Begini, gunakan mata hati Anda untuk merasakan. Siapa sih dari orang-orang terdekat kita yang sungguh-sungguh mencintai dan memperhatikan kita? Kerabat saya bervariasi. Dari orang yang paling kaya hingga orang yang paling tidak berpunya. Dari yang liburan ke Selandia Baru hingga yang kontrakannya beratapkan asbes. Semasa remaja, saya berpikir bahwa saya harus baik dan menghormati pada kerabat-kerabat yang ‘mampu’ sehingga jika suatu hari saya kesulitan dalam kehidupan, setidaknya mereka akan menolong kehidupan saya. Tetottttttttt!! Totally wrong again! Angan-angan yang sungguh indah. Kasihan. Semakin kaya seseorang kebanyakan mereka akan semakin egois, individualis dan kikir. True,.. mereka berpikir ‘Saya takut orang lain hanya akan menggerogoti harta saya. Lagipula anak cucu sendiri harus lebih saya perhatikan.’ Tidak semua tentu saja. Ada saja orang yang kaya raya, baik budi dan tidak sombong (mudah-mudahan masuk surga juga). Tetapi beberapa orang bersikap begitu.

Pengalaman paling kontras yang saya rasakan. Bertahun silam saya dan keluarga diundang keluarga kerabat yang terbilang mampu untuk sarapan gaya Hongkong di sebuah rumah makan terkenal. Ketika kami tiba, makanan yang disajikan ternyata ‘dimsum’ itu adalah makanan ‘cemilan’ yang berupa makanan ringan semisal somay, lemper, risoles, bakso yang ukurannya kecil-kecil. Ketika kami tiba, keluarga kerabat tersebut ternyata sudah makan duluan. Saya dan keluarga terpaksa ‘makan sisanya’ dan itupun tidak ada inisiatif untuk menambah pesanan bagi kami. Apakah bubur atau menu lain. Sampai disini saya merasa sedih, Ha-ha! Sedih karena tertipu oleh undangan makan sebuah keluarga ternama yang gayanya kelas atas tetapi tidak tahu cara menjamu kerabat sendiri. Sepulang dari undangan tersebut kami sekeluarga kemudian langsung mampir ke restoran lain dan membeli sendiri makanan kami. Itu terakhir kalinya kami makan dengan keluarga tersebut. Setelah itu, kapok! Lagipula tak ada undangan lagi. Ha-ha! Pun, tak lama beberapa anggota keluarga tersebut wafat atau tiada. Yah, mungkin memang sudah waktunya saja dipanggil Tuhan dengan cara yang mendadak pula. Again, we never know misteri Ilahi.

someYang lainnya adalah kerabat yang menetap di kontrakan petakan, keluarga tersebut kerap mengundang kami makan-makan. Rumahnya seuprit, sempit dan hawanya sangat panas. Tidak punya mesin pendingin udara. Tetapi keluarga tersebut sangat menyayangi keluarga kami. Sang istri pandai memasak dan suaminya adalah pekerja keras. Hidup mereka terbatas, pas-pasan dan mereka tidak pula banyak menuntut pada Tuhan. Semua dijalani dengan kerja keras, ikhlas, gembira dan setiap momen dalam hidupnya dinikmati. Jika kami datang, biasanya sang istri sudah memasak aneka hidangan, membeli kue-kue dan segala penganan. Mereka tidak menyentuh makanan sama sekali sebelum tamu datang. Selalu menunggu kemunculan para tamunya terlebih dahulu dan mempersilahkan makan. Setelah itu barulah mereka akan makan. Dibandingkan dengan kerabat pertama tentu langit dan bumi. Yang pertama adalah keluarga kaya dan ternama dan yang kedua adalah keluarga miskin dan tinggal di  pelosok kumuh. Tetapi siapa yang lebih kaya dan luar biasa di mata kami sekeluarga? Tentu saja keluarga yang kedua! Rasa haru dan doa untuk keselamatan mereka selalu kami dengungkan. Bahkan putri saya yang biasanya sangat rewel kalau cuasa panas atau tidak ada AC (karena terbiasa nyaman!), betah tinggal di rumah kerabat tersebut dari pagi hingga sore!! Tidak ada keluhan atau rasa tidak nyaman karena kepanasan! Menurut saya, berkah dari keterbatasan adalah sesuatu yang luar biasa untuk dikagumi! Tuhanlah yang menggerakkan hati mereka. Maka lihat ke sekeliling, kenali orang-orang yang sungguh mencintai Anda,… Jangan silau oleh pesona orang-orang yang ternyata hanya memandang Anda dengan sebelah mata!

Telah dibaca 63 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.