Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Hitam Dan Putih

Hitam Dan Putih

Lagi seneng-senengnya nonton ‘The Big Bang Theory’ — Kisah tentang empat lelaki ilmuwan yang kocak dengan tetangga cewek yang seksi, Penny. Film ini bagi saya sangat menghibur karena ‘kaya sarkasme’ — Sarkasme itu apa? Kata-kata yang halus tetapi menyindir dengan telak. Dalam film-film modern konflik tidak dibuat secara terbuka dan kasar, misalkan saling berteriak dan menyerang membabi-buta. Konflik dibuat halus dan mulus dengan perang sikap elegan dan kata-kata yang nylekit. Menurut saya memang lebih bermartabat dan menunjukkan ‘kelas.’ Mau bermain cantik? Atau bermain kasar? Itu menunjukkan siapa jati diri kita yang sesungguhnya.

cummingKarakter Doktor Sheldon Cooper dalam The Big Bang Theory digambarkan sebagai ilmuwan yang sangat egois, narsis, merasa diri paling pintar dan tidak mau mengalah pada orang lain. Dengan kecenderungan kaku serta sangat tidak sensitif terhadap wanita. Karakter ini dimainkan dengan apik oleh Jim Parson yang dalam kehidupan sesungguhnya adalah seorang gay, atau penyuka sesama jenis. Tentu saja peran ini melebur dengan baik, seorang gay bagaimana mungkin akan jatuh cinta pada seorang wanita? Tetapi dalam film teman – temannya tidak menyebut secara terbuka bahwa Sheldon adalah gay, malah ada beberapa wanita yang berperan menjadi kekasihnya. Ketika teman-temannya saling bertanya, “Sebenernya si Sheldon ini suka pada lelaki atau suka pada perempuan sih?” Yang lain menjawab, “Sejak dulu kami sulit menyimpulkan, bahkan kami tidak tahu entah bagaimana caranya kelak ia akan bereproduksi. Mungkin karena ia ilmuwan ia akan membelah selnya sendiri?…Mungkin!” Sampai disini saya merasa geli. Orang-orang yang sopan tidak akan menuding orang lain sebagai gay atau lesbian, kepo tanpa ada pernyataan jelas dari yang bersangkutan. Dalam kehidupan sesungguhnya Jim Parson punya pasangan gay bernama Todd. Secara rendah hati dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa kehidupan percintaannya dengan Todd datar dan membosankan. Mereka sudah bersama selama sepuluh tahun. Jim tidak ingin ‘caper’ cari perhatian pada dunia dengan statusnya sebagai selebriti gay. 

Waktu saya masih remaja, ibu sering mencibir tentang status tidak jelas dari seseorang, “Lelaki kok pengen jadi perempuan.” Waktu itu saya berpikir memang aneh. Lelaki kok ingin jadi perempuan. Atau perempuan kok ingin jadi lelaki? Ada-ada saja! Tapi lihat hari ini. Pasangan gay, lesbian, transgender ada dimana-mana. Perubahan orientasi seksual adalah hak pribadi. Orang lain boleh tercengang, kaget sampai pingsan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Di sebuah pusat perbelanjaan ada kios cimol kecil. Putri saya suka membeli makanan disitu. Penjaga kios memang meragukan penampilannya. Kurus, kecil, item, potong crewcut, berkemeja, celana panjang dan gayanya acuh. Tetapi sepertinya ia perempuan. Putri saya pernah bingung dan bertanya, “Mam,…ini yang jual Mas atau Mbak sih?” Saya menjawab pendek, “Mbak.” Selama saya masih bisa mendeteksi bahwa ia perempuan dan ia tidak menyebut diri “Mas Bedjo” misalnya, ya … dianggap perempuanlah! Lain lagi di lantai dasar, ada seorang perempuan seksi dan montok yang gemar menawarkan kosmetik, salesgirl. Kalau mengenakan busana selalu seksi, entah dada, entah pinggulnya penuh ekspresi kemana-mana. Berambut lurus panjang, manis dan kenes. Ia menyebut diri ‘Manohara’. Ia seorang transgender, lelaki yang menjadi wanita. kadang-kadang ia digoda oleh banyak remaja dan pria. Kadang saya merasa kasihan, tapi kadang saya pikir ia juga cukup menikmati kekaguman orang-orang pada keseksian dirinya.

Dunia pada masa sekarang ini memang sulit terdefinisikan. Sesekali saya menggoda putri saya, “Ih,..kamu sipit banget sih!” Lalu ia menjawab spontan, “Ih,… Mama rasis!” Tetottttt! Berkomentar harus hati-hati, bicara dan berpendapat juga harus hati-hati apalagi segala sesuatu ‘going viral’ alias menyebar kemana-mana dengan cepatnya melalui media online. Pada masa sekarang ini hitam dan putih kadang tidak jelas dan tidak dapat dipatok, termasuk dalam orientasi seksual. Bahkan Bruce Jenner yang adalah ayah tiri Kim Kardashian, lelaki yang dulunya ganteng dan atlet ternama, punya istri cantik jelita dan sekumpulan anak perempuan ayu seksi, kini ingin juga operasi plastik menjadi wanita! Kalau ibu saya masih hidup dan bernafas pasti akan berkomentar tajam, “Jaman-e …jaman edan,…” Tetapi tidak ada yang bisa melawan arus perubahan jaman. Di satu sisi saya juga mengerti bagaimana tersiksanya seseorang yang tidak menjadi dirinya sendiri karena saya pernah mengalami. Bukan dalam konteks orientasi seksual tetapi dalam konteks berkarya dan berkreasi. Individu matang yang terus dikekang akan merasa sangat tersiksa.

Hitam dan putih terpaksa banyak bermain di ruang abu-abu, demi kebebasan individu. Perempuan ingin jadi lelaki dan lelaki ingin jadi perempuan. Dunia harap maklum. Beberapa waktu lalu saya juga membaca berita pasangan lesbian yang merubah diri menjadi pasangan gay. Sepasang gadis yang saling jatuh cinta memutuskan untuk operasi kelamin dan menjadi sepasang pemuda. Mereka tetap menjalin cinta. Ribed juga ya? Bagaimana urusannya dengan agama? Nanti matinya jadi lelaki atau jadi perempuan? Wah, itu juga urusan yang dikembalikan pada masing-masing individu dan Tuhan. Itu adalah takdir sekaligus juga karma mereka. Kalau kita mencoba menilai, apakah yakin diri kita sendiri sudah sedemikian sempurna sebagai seorang lelaki atau perempuan di mata Tuhan? Yang terakhir saya bepergian dengan putri saya dan bertemu seseorang yang tinggi besar, mengenakan T Shirt putih lengan pendek dan rambut dikuncir satu. Macho. Saya berbisik pada putri saya, “Tadi Mama kira dia lelaki lho, ternyata pas ngomong suaranya perempuan…” Putri saya melirik tajam, “Mam…. dia itu punya jakun and there’s no boops! (Nggak ada t*t*knya).” Okay deh honey, Mama nggak bisa berkomentar juga. Semoga dalam kehidupan kita dijelaskan sejelas-jelasnya oleh Tuhan, segala perkara yang menyangkut hitam dan putih. Apakah hitam? Apakah putih? Mudah-mudahan kita tidak perlu terperangkap dalam ruang abu-abu.

Telah dibaca 107 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif