Home » SOSIAL BUDAYA » Catatan Harian » Aktivis Dakwah?

Aktivis Dakwah?

Malam ini aku merasa begitu sendu.. Ada sesuatu yang mengusik benakku. Entah mungkin aku yang terlalu berlebihan atau memang hal ini adalah sesuatu yang harus kupikirkan.

Teman… Terkadang ada sesuatu yang terasa mencambuk diri ini. Menampar keangkuhan yg selama ini tak disadari. Apa kau pernah merasakannya?

Ketika predikat seorang “aktivis dakwah” ternyata tak semudah menulis katanya,

justru menjadi amanah baru yg betul-betul harus dilaksanakan dengan benar.

Seringkali diri ini angkuh ( tanpa sadar) terhadap ibadah yang dikerjakan, melaksanakan shalat fardu tepat waktu, berkumpul majelis hingga mengajak orang untuk beramal rasanya adalah hal yang cukup bisa membuktikan bahwa aku, kamu dan kami adalah “orang baik” atau bahkan “orang shaleh/ah”. Padahal, pada kenyataannya…. Semua orang dapat melakukannya, kawan.. tanpa memiliki predikat berat itu. Bahkan banyak di antara mereka yang jauh lebih khusyu melakukannya daripada kita.

“Menjadi teladan” mungkin terlalu berat, tetapi memang begitu kenyataan yg mesti dihadapi… Mereka seringkali mencap kita sbg kelompok yg ‘sudah seharusnya’ bisa ‘menjadi contoh’ bagi orang lain.

“Masa anak dakwah kaya gitu…”

“Masa anak dakwah pacaran…”

“Masa anak dakwah ngomongnya gitu…”

Dan “masa-masa” lainnya mungkin pernah kamu dengar? Tegaskan pada mereka, bukan masalah “anak dakwah”nya, tapi ya setiap umat yang mengaku muslim/ah, ya memang sudah seharusnya melakukan hal yg benar, yg sesuai dgn syariat, bukan masalah “anak dakwah” atau semacamnya.

Tetapi perlu aku, kamu dan kita ingat, kita juga tidak bisa bilang “mereka salah” telah mengatakan seperti itu. Karena benar adanya, itu tadi, kita dijadikan sebagai tolok ukur kadar keshalehan. Harus senang? Yang jelas… Itu amanah yg besar. “Dianggap” sebagai orang yang “lebih baik” itu bukan suatu hal yg harus dibanggakan, tetapi justru harus dipikirkan dan diselami dalam-dalam; bagaimana cara untuk benar bisa mewujudkan.

Ini bukan masalah bagaimana kita bisa begitu pandai berbicara di depan orang. Atau masalah bagaimana kita berorasi kesana-kemari dgn membawa-bawa nama agama yang katanya dibela. Apa cukup sampai disitu agar seseorang dapat dikatakan sebagai aktivis dakwah sejati? Hei… Semua orang bisa melakukannya jika mau. Cukup semalaman atau beberapa jam menyiapkan teks dan referensi yg benar kemudian menghapalkannya.

Tapi permasalahan utama bukan terletak disitu.

Perlu kau ingat… Mereka tidak peduli apa yang ada dalam hati kita, ya sesuatu yg tak terlihat kasat mata. Mereka hanya tahu melalui apa yang terlihat.

Bagaimana mereka mengenal kita?

Apakah kita, seorang perempuan yang senantiasa mengulurkan jilbab dan mengenakan rok yg ‘ngagebay’? Apakah kita, seorang laki-laki yg senantiasa menundukkan pandangan? Apakah kita, laki-laki dan perempuan yg senantiasa menjaga jarak agar terhindar dari khalwat?

Lisan dan perilaku.

Itulah hal yang selalu di/terdengar, di/terlihat dan di/terperhatikan oleh mereka.

Mulai dari perilaku kecil hingga besar.. Perilaku baik hingga yang hanya terlihat baik.. Dan juga perilaku yg seringkali tak tersadar telah menyalahi aturan. Sesuatu yg lazim dilakukan padahal sebenarnya memiliki status yg sama halnya dengan meminum khamr atau memakan daging babi. Haram. Seperti….

Silakan jawab sendiri…

Jihad melawan nafsu adalah hal tersulit bagi manusia, memang.

Kawan… jangan sampai kita bisa begitu angkuh berbicara di depan banyak orang dengan segala dalil yg telah kita hapalkan, tetapi melakukan hal – hal kecil yang sudah seharusnya diamalkan malah dilewatkan.

Tetapi “Jangankan mengingatkan orang lain, diri sendiri saja belum benar.” bukan berarti ucapan ini adalah lebih baik posisinya. Ingat, bukan sama sekali! Karena yg terjadi adalah; mengingatkan org lain tidak, memperbaiki diri juga tidak.

Setidaknya, jika kau merasa belum pantas menjadi seorang tauladan, lakukanlah hal baik apa yg bisa kau lakukan, dakwahlah melalui perilaku baik yang padahal kita pun masih belajar.

Aku menyampaikan ini… Bukan berarti aku telah menjadi orang yang benar atau orang yang telah berhasil melakukan hal-hal sempurna. Bukan sama sekali.

Aku hanya ingin menyampaikan apa yg aku rasakan, yang mungkin barangkali pernah kau rasakan juga….

Telah dibaca 52 x , hari ini 1 x

About windiariesti

Leave a Reply

Your email address will not be published.