Home » SOSIAL BUDAYA » Doa Untuk Negeri » SIAPAKAH KORBAN IKLAN?

SIAPAKAH KORBAN IKLAN?

 

Mine, Hana, Kiku, dan Toki, empat gadis remaja asal Hida, tampak menyusuri tebing-tebing bersalju di pegunungan Nomugi. Empat hari empat malam berjalan kaki berjuang melawan dingin dan badai salju menuju Shinsu Suwa dengan optimism kuat, menjadi buruh pintal.

HIda adalah sebuah desa miskin. Shinsu adalah sebuah pusat industru sutra yang sedang tumbuh di Jepang pada awal 1900-an. Kisah selanjutnya film berjudul Puncak Nomugi yang disutradarai Yamamoto Satsua, menyadarkan bahwa kemakmuran dan bibit pertumbuhan industry Jepang disumbangkan oleh perempuan-perempuan desa yang dipekerjakan seperti budak. Dibawah pengawasan mandor yang kejam, buruh-buruh wanita bekerja dengan rajin dan bersaing untuk menjadi buruh terbaik. Dalam tiga tahun, Mine menjadi buruh pemintal yang sangat piawai. Hasil karyanya selalu menjadi yang nomer satu  dan diekspor ke Amerika. Mereka yang tak sebaik Mine, acap mendapat makian mandor dan kerap dipotong gajinya. Toki yang mudah gugup, merasa tak mampu bekerja baik akhirnya frustasi dan bunih diri. Yuki yang cantik dihamili oleh anak direktur pabrik. Kiku diperkosa.

Ketika Amerika mengalami depresi, harga sutra jatuh. Pabrik-pabrik mengalami kesulitan. Mandor kian beringas. Nasib buruh maikn buruk. Jam kerja diperpanjang. Bau kepompong makin banyak terhirup paru-paru pekerja. Mine yang terkena penyakit paru-paru basah akhirnya mati. Inilah sebuah gambaran pahit industrialisasi. Nasib buruh ditekan demi kemakmuran kaum Borjuis. Tetapi benarkah hal ini hanya terjadi seratus tahun yang lampau? Benarkah tidak ada lagi Yuki, Kiku, atau Toki abad ini?

Kini memang tak ada lagi depresi besar. Kemakmuran masyarakat pun nyata adanya. Tapi kaum buruh tak lantas merdeka. Meski penderitaan jauh berkurang. Sekarang kita mengenal yang namanya UMR. Tapi ya itu tadi. Tak ada pedagang yang mau untung sedikit. Ketika buruh tak lagi bisa “dikerjai” maka giliran konsumen lah yang harus menanggung akibatnya. Biaya buruh dengan segala kesejahteraannya harus dibayar konsumen. Kebutuhan dan permintaan harus selalu diciptakan. Omset harus selalu dinaikkan.

Bahkan para industriawan rela menghabiskan miliaran rupiah untuk meneliti kebiasaan, selera, watak dan prilaku pembeli. Mereka berusaha keras menemukan cara memenuhi “kebutuhan”. Langkah – langkah menciptakan kebutuhan itu diwujudkan dalam iklan yang dirancang dengan cermat melalui serangkaian riset yang dilakukan oleh para psikolog. Ternyata, kaum perempuan dan anak-anak lah yang menjadi sasaran empuk sebuah iklan. Kaum perempuan dianggap berhak mengatur uangnya sendiri termasuk uang suaminya bagi yang sudah bersuami. Karena memenuhi kebutuhan pokok dan gaya hidup makin menambah daftar panjang keperluan kaum perempuan.

Kepada kaum perempuan dijajakanlah keinginan dan impian, bukan kebutuhan. Kemudian mimpi-mimpi itu dijajakan lewat iklan gemerlap. Sampai-sampai ada sabun khusus para bintang. Ada susu bubuk para juara. Ada deterjen yang dapat mencuci sendiri dan sebagainya.

Lantas para industriawan dengan mudah dapat memilih siapa yang menanggung semua biaya untuk iklan tersebut buruh atau konsumen. Padahal sebenarnya sama saja. Bukankah buruh juga konsumen?

Facebook Comments
Telah dibaca 35 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif