Home » SOSIAL BUDAYA » Doa Untuk Negeri » KORUPSI BOLEH, ASAL…

KORUPSI BOLEH, ASAL…

Seorang perempuan diketahui mengidap kanker ganas dan hamper mati. Hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkannya. Harganya 2 juta US dolar, karena yang menemukan orang Amerika. Obat itu tak bisa ditawar. Maka sang suami, Heinz, berusaha mati-matian berhutang kesana – kemari untuk mendapatkan uang membeli obat itu. Namun malang, ia hanya dapat mengumpulkan setengah dari harga obat tersebut. Kepada sang dokter, Heinz memohon keringanan agar dia dapat membeli obat itu dengan harga murah. Kalau boleh dia ingin mencicil. Tapi sang dokter tetap menolak member keringanan harga obat tersebut. Akhirnya, pada malam hari Heinz nekat mencuri obat tersebut dari gudang obat sang dokter.

Lawrence Kolberg, seorang psikolog yang mengarang cerita ini, bertujuan untuk mengetahui perkembangan moral seseorang. Pertanyaan yang diajukan adalah, Haruskah sang suami melakukan perbuatan tersebut? Tentunya tidak ada jawaban yang ideal. Kalau Heinz tidak mencuri, berarti dia tega membiarkan istrinya yang sedang sekarat itu. Tapi kalau dia mencuri, berarti Heinz adalah penjahat yang benar-benar menyayangi istrinya.

Menurut Kohlberg, setiap orang brhak menilai perbuatan Heinz tersebut. Yang pasti jawabannya berbeda-beda tergantung pada kesadaran moral masing-masing. Dalam hidup ini kita memang sulit membuat hidup menjadi hitam atau putih. Dalam kasus Heinz kita dihadapkan pada persoalan, mencuri atau menelantarkan istri?

Kohlberg hanya ingin menunjukkan bahwa tingkat kesadaran moral itu ada yang rendah sampai tinggi. Baik mereka yang membenarkan tindakan Heinz maupun yang menyalahkan pasti punya alasan yang berbeda-beda. Seseorang yang kesadaran moralnya rendah pasti mendasarkan keputusannya pada “Hukuman” dan “Kepatuhan”. Sebaliknya yang mempunyai kesadaran moral tinggi mengambil sikap atas dasar prinsip- prinsip etika universal. Maka menurut Kohlberg, orang yang kesadaran moralnya rendah akan memberikan alasan”daripada disalahkan akibat membiarkan istrinya mati lebih baik mencuri”. Sementara bagi yang kesadaran moralnya tinggi akan memberikan alasan,” daripada mencuri, lebih baik membiarkan istrinya mati. Mungkin sudah takdirnya”.

Tapi ternyata dari penelitian Kohlberg didapat, ada juga yang mempunyai kesadaran moral tinggi tapi membenarkan tindakan Heinz. Mereka memberikan pertimnbangan bahwa menyelamatkan nyawa adalah yang utama. Benar mencuri adalah perbuatan jahat, tapi tak sejahat orang yang membiarkan seseorang mati sia-sia.

Jadi jelas bahwa dalam kehidupan sehari-haripun kita acapkali dihadapkan pada dilemma moral seperti ini. Banyak diantara kita dalam posisi Heinz. Contohnya, seorang tukang bangunan yang membunuh dan merampok temannya sendiri karena alasan menerima surat dari kampong dimana istrinya minta duit untuk acara nujuh bulan calon bayinya. Banyak orang mencuri untuk makan anak istrinya. Kita boleh acuh dengan kasus ini karena kebetulan kita tak terlibat. Tapi bagaimana kalau kita terlibat?

Sehari-hari kita menghadapi birokrasi. Entah mengurus KTP, Akte Lahir, Surat Nikah dan sebagainya. Kita tahu kita sedang berhadapan dengan pegawai kecil dengan kesejahteraan yang minim juga. Kalau kita ingin urusan kita lancer dan tidak berbelit-belit, maka “Uang Kopi”, “Uang Rokok”, “Uang Damai” atau “Uang Administrasi” bisa jadi solusi ampuh untuk semua itu. Bukankah disini kita dihadapkan pada dilemma moral? Kita memang bisa bilang, itu cuma sebagai tanda terima kasih karena urusan kita jadi cepat selesai. Kemudian kita juga bisa bilang kalau kita juga ikhlas dalam memberikan semua itu. Tapi apakah tindakan kita itu bukan termasuk melegalkan korupsi? Hingga pada akhirnya lancer tidaknya urusan birokrasi tergantung kepada fulus. Layanan istimewa menjadi milik orang berduit. Akhirnya, peraturan dan hukum menjadi pilih kasih.

Begitulah yang kita hadapi sehari-hari. Semua itu kita anggap hal yang biasa padahal kita berada pada situasi yang runyam. Banyak orang korupsi dan kita rela di korupsi. Ada yang mengajak kolusi karena ada pihak yang mau di ajak kolusi. Masalah besar atau kecil tak jadi soal. Kata orang dapat teri, makan teri, dapat kakap ya makan kakap. Kita senang urusan beres, mereka senang kantong tebal. Jadi kesimpulannya BOLEH KORUPSI ATAU KOLUSI, ASAL……………………………………

Telah dibaca 26 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.