Home » SOSIAL BUDAYA » Doa Untuk Negeri » Sisi Lain Mahathir Muhammad

Sisi Lain Mahathir Muhammad

 

Di sebuah gubuk reyot di perkampungan kumuh, di pinggiran jalur rel kereta api Sungai Kerok sektar  satu mil dari kota Alor Star, seorang perempuan muda gelisah merawat kakek tua yang sedang sakit. Kakek itu terus batuk-batuk dan mulai memuntahkan darah. Seorang bocah laki-laki duduk disebelahnya. Melihat kondisi kakek yang semakin memburuk, si perempuan muda meminta anaknya mencari pertolongan seorang dokter. Tanpa bertanya lagi pada mamanya, punya uang atau tidak untuk membayar dokter, bocah tadi segera berlari menuju klinik di kota.

Sesampainya di klinik Alor Star, dia menemui dokter di situ dan mengabarkan kakeknya sakit keras. Singkat cerita, dokter tadi langsung ke gubuk itu. Memeriksa si kakek dan melakukan pengobatan. Dan ketika di tanya berapa harus membayar, maka di jawabnya “bayarlah semampunya”. Perempuan itu menyodorkan uang dua ringgit dan dokter itu menerimanya dengan ikhlas.

Bocah tadi adalah Zainudin Maidin, pemimpin redaksi Utusan Grup Malaysia. Sang dokter tadi adalah Mahathir Mohamad. Kebaikan hati Mahathir rupanya tertanam kuat pada diri Zam. Barangkali bukan kebetulan di kemudian hari  Zam menjadi wartawan yang sangat dekat dengan Mahathir.

Sebagai orang yang sangat dekat dengan sukyek yang ditulisnya, Zam tentu dapat memberikan kepada publik banyak hal yang tidak diketahui orang lain tentang sosok Mahathir.

Membaca buku Zam ini saya merasakan betapa kuatnya kekaguman Zam pada Mahathir. Kenangan masa kecilnya dahulu yang tertanam begitu kuat tentu mempengaruhi pandangan Zam atas Mahathir. Tapi benarkah The Other Side of Mahathir  tak lebih dari sekedar puja dan puji belaka atas bekas perdana menteri yang memang terkesan vokal dan kontroversial itu?

Sebagai sebuah buku yang di tulis dengan gaya jurnalistik yang bercerita oleh orang yang dekat dengan sumber penulisan, buku ini memang enak untuk di baca. Sebagai sebuah biografi, memang sangat terasa ketidaklengkapannya. Tak ada kisah tentang masa kecil sang tokoh,kehidupan dalam keluarga dan analisis tentang karakter dan tindak tanduk yang acap kali kontroversial. Dan terlepas dari kritik atas buku ini, saya kira kita dapat menemukan berbagai sisi menarik dari Mahatir.

Tentang visinya yang jauh ke depan sudah banyak kita dengar. Keputusan-keputusannya yang berani sering menjadi berita. Yang jarang kita dengar dan kemudian disajikan oleh Zam adalah latar-belakang dan kiat-kiat Mahathir dalam mengambil keputusan. Berbagai langkah politis Mahathir kerap tidak popular. Lima  Keputusannya yang mengajukan waktu semenanjung Malaysia satu jam lebih cepat dari posisi geografisnya semula dianggap mengganggu umat islam dalam menjalankan ibadah sholat lima waktu. Begitu juga ketentuan absensi dengan mesin, sempat dianggap “mempermalukan” pemerintah. Tapi itulah obsesi Mahathir. Ingin menjadikan bangsa Melayu sebagai masyarakat modern yang efisien dan progresif.

Mahathir juga pelopor penghapusan feodalisme. Secara politis, kekuasaan Sultan tak lagi besar. Tapi mengapa kesewenang-wenangan kerap terjadi? Sejak Negara ini berdiri, telah tertanam di benak para pemimpinnya untuk menghapus system monarchi dengan Monarchi Konstitusional. Tiga orang Perdana Menteri sebelum Mahathir gagal melakukannya. Baru pada tahun 1993, Mahathir mengusulkan sebuah amandemen yang intinya menjamin bahwa Yang Dipertuan Agong tak lagi bisa menolak sebuah RUU yang telah disepakati oleh parlemen. Sepuluh tahun kemudian, Mahathir kembali mengajukan amandemen yang lebih kritis lagi yaitu melucuti kekebalan hukum para Sultan. Inilah yang pada akhirnya membuat Sultan tunduk pada hukum yang mengatur seluruh warga Negara Malaysia.

Mahathir adalah sosok yang dapat membuktikan bahwa system monarchi konstitusional  dan cabinet parlementer adalah sebuah pilihan yang mungkin bagi sebuah bangsa modern untuk tetap menuju demokratis. Bentuk Negara bukanlah utama melainkan isinya.

Facebook Comments
Telah dibaca 75 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif