Home » SOSIAL BUDAYA » Doa Untuk Negeri » MARI BELAJAR DARI MALAYSIA

MARI BELAJAR DARI MALAYSIA

Malaysia adalah negeri yang beruntung. Keberuntungan ini bukan hanya berasal dari sumber daya alamnya yang kaya karena dalam hal ini tentunya kita lebih kaya. Bukan pula sumber daya manusianya yang kalau dibandingkan kita masih lebih kreatif kita. Buktinya, begitu banyak hasil seni dan budaya kita yang ingin mereka caplok, Itu menandakan kalau memang mereka tidak kreatif dan punya rasa seni yang tinggi. Keberuntungan Malaysia adalah mereka memiliki pemimpin yang amanah dan punya niat yang sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyatnya (walaupun yang namanya KKN itu tetap ada disana, tapi yang jelas tak seganas di Indonesia).

Dari pemimpin semacam ini lahirlah kebijakan pemerintah yang pro rakyat sekaligus pro bisnis. Keseimbangan unik itulah yang membuat di Malaysia tak terjadi kerusuhan disaat tiba-tiba Ringgit terjun bebas. New Economic Policy (NEP) yang diluncurkan oleh National Operation Council (NOC) telah memangkas akar masalah yang menyebabkan ketegangan antar etnis. NOC tak lain adalah sebuah badan yang terdiri dari militer dan sipil yang dibentuk sebagai pemerintahan sementara menggantikan PM Tengku Abdul Rahman yang mengundurkan diri. Tengku Abdul Rahman memimpin UMNO sejak tahun 1951 sampai kemerdekaan Malaysia tahun 1957. Beliau dipaksa mundur oleh kalangan muda partai yang mendukung Deputi Perdana Menteri Tun Abdul Razak karena dinilai kelewat condong dengan para tauke Cina.

Bandingkan NOC dengan Suharto yang begitu diberi amanah untuk mengamankan tapi malah mengambil alih kekuasaan. Ditangan NOC, NEP menjadi istimewa bukan hanya karena kebijakan  tersebut berlandaskan kepada aksi nyata buat mengentaskan etnis Melayu tetapi juga meghapuskan kemiskinan tanpa memandang ras dan merestrukturisasi ekonomi guna menghilangkan identitas ras yang terkait fungsi ekonomi. NEP lebih mengutamakan ras Melayu yang waktu itu memang paling miskin. Salah satunya dengan meningkatkan kepemilikan saham korporasi dari 1,5% pada tahun 1969 menjadi 30% pada tahun 1990. Kendati demikian, kebijakan tersebut tak melupakan aspek lainnya yang lebih penting terutama pendidikan dan kesempatan kerja. Kemudian iklim bisnis pun dibuat sedemikian kondusif.

Keberpihakan kepada Etnis Melayu segera saja melahirkan koalisi bisnis antara pengusaha Melayu yang punya akses kuat ke pemerintah dengan Etnis Cina yang lebih menguasai bisnis serta akses capital. Program privatisasi juga akhirnya banyak memunculkan para konglomerat Melayu sehingga mempersempit jurang social ekonomi dengan pengusaha Cina.

Setelah tahun 1990, NEP diganti National Development Policy (NDP) tahun 1991-2001 dan kemudian diganti lagi dengan National Vision Policy (NVP) dari tahun 2001-2010. Kedua kebijakan ini kurang diskriminatif. Karena lebih menekankan pada percepatan ekonomi, industrialisasi dan perubahan structural. Ini dimungkinkan karena iklim bisnis sudah semakin kondusif. Kenaikan kepemilikan saham etnis Melayu dan Cina dari yang tadinya hanya 30% kemudian meningkat menjadi 60% menurunkan porsi kepemilikan asing terutama di bisnis pertambangan dan perkebunan yang dulu sangat didominasi orang-orang Inggris.

Pada September 1998, Deputy Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang pro asing dan antek IMF, dikirim ke penjara. Tindakan PM Mahathir ini jelas mencoreng citra Malaysia di mata Internasional sehingga investasi asing pun langsung kabur. Apalagi kemudian Malaysia menerapkan kebijakan mematok ringgit terhadap dolar yang sudah pasti membuat ngilu gigi para petinggi IMF. Tapi ke dalam negeri, Mahathir berhasil mencegah terbentuknya “Matahari Kembar” yang makin memanaskan suasana dan membentuk pemerintahan yang kuat untuk menyatukan langkah seluruh komponen bangsa. Tidak itu saja, saat banyak pemerintahan di Asia Tenggara kacau balau termasuk Indonesia yang hampir lumpuh karena terjungkalnya Suharto tanpa meninggalkan kader-kader yang mumpuni dan hanya menyisakan para pemimpin yang tadinya hanya tahu berteriak-teriak di pinggir lapangan kekuasaan atau menjadi Yes Man dibawah ketiak sang Jendral Besar, tak tahu apa yang harus dilakukan, Mahathir dengan gaya kepemimpinan mirip Suharto mampu membuat Malaysia bertahan samapai sehebat sekarang.

Dibidang ekonomi, Mahathir memberi basis kokoh bagi para pebisnis Malaysia untuk berekspansi di kawasan. Ia berhasil mengembangkan kebanggaan nasional dengan menggemakan “Malaysia Boleh” dan itu bukan sekedar jargon kosong. Di bawah Dr M, Malaysia mampu membangun The Twin Tower dan Sirkuit Formula I di Sepang. Memanfaatkan YTL Corp, Mahathir membangun Express Rail Link (ERL) sebuah jalur kereta api canggih yang menghubungkan ibukota Kuala Lumpur dengan Bandara Internationalnya. Bekerja sama dengan salah seorang konglomerat Melayu yaitu Syed Mochtar Al Bukhary pada tahun 2001 membangun salah satu pelabuhan container tercanggih di Tanjung Pelepas yang mampu bersaing dengan Singapura hingga mampu menggaet Maersk untuk pindah dan berlabuh disana. Tidak itu saja, bahkan di 2002 giliran Evergreen, salah satu maskapai raksasa milik Taiwan yang ikutan pindah.

Mahathir juga dibalik pembangunan Puterajaya, kompleks pusat pemerintahan canggih dan KLCC (Kuala Lumpur City Center) yang dilengkapi dengan tekhnologi informasi yang canggih dikembangkan dalam kerangka Multimedia Super Corridor (MSC) melingkupi area sepanjang 50 km dengan lebar 15 km. Belum lagi Cyberjaya, “kota pintar” pertama di Malaysia.

Semuanya itu bukanlah proyek mercusuar karena semuanya fungsional dan memberi nilai tambah yang membuat industry Hi-tech dunia memutuskan untuk masuk. Bahkan kalau ditinjau dari segi pariwisata, setidaknya daya tarik pariwisata sekelas Sirkuit Formula I Sepang hanya mampu dinikmati oleh turis-turis berkantung tebal, bukan turis sekelas Backpacker seperti di TMII.

Masih ada satu lagi yang membuat kita iri dengan Malaysia. Disaat berada pada puncak kepopulerannya, Mahathir dengan legowo menyerahkan tongkat komando sehingga transisi pemerintahan berjaln dengan mulus.

Adakah nantinya bakal lahir pemimpin sekelas Mahathir di Indonesia?

Telah dibaca 219 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.