Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Dibalik Pesona Memikat SPG Rokok

Dibalik Pesona Memikat SPG Rokok

Cantik dan memikat

SPG rokok (ilustrasi)

Suatu malam, ditengah perbincangan, lebih tepatnya saya sebut ‘kuliah singkat’ tentang SDT (Show Don’t Tell) bersama seorang sahabat, datang menghampiri meja kami seorang gadis SPG. Tangannya menggenggam 3 bungkus rokok keluaran terbaru berwarna hijau tosca.

Sejak memasuki rumah makan tempat dimana kami nongkrong, gadis tersebut sudah menarik perhatian saya yang memang kebetulan duduk menghadap ke arah Jalan Selat Panjang. Salah satu pusat kuliner terkenal di kota Medan.

Parasnya boleh dibilang cukup cantik. Memang jarang sih SPG rokok rata-rata tidak ada yang jelek . Riasan tipis sudah cukup membangkitkan aura wajahnya, dan itu jelas menjadi magnet bagi mata lelaki. Balutan seragam dengan potongan rok pendek menampilkan keindahan kakinya.

“Ambil rokoknya, om.” kata gadis itu dengan ramah sembari tersenyum kepada kami.

Saya mengambil sebungkus. Harganya 14 ribu. Kebetulan juga memang rokok di meja sudah tinggal bungkusnya saja. Walau bukan rokok yang biasa saya hisap.

“Ambil semua om…sekalian sama koreknya.”

“Lah buat apa banyak-banyak?

“Iya om.. lebih murah. Tiga 50 ribu saja dapat korek.”

“Saya ambil satu aja…”

“Ambil tigalah om…..nih punya saya masih banyak. Belum ada yang laku nih” katanya dengan nada yang memelas. Sembari menunjukan isi tasnya.

“Sudah ini aja.” kata saya sambil menyerahkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah.

Seketika gadis itu mengucapkan terima kasih dan langsung mengeloyor pergi. Ups….gadis itu pergi tanpa memberikan uang kembalian! Dah ikhlaskan saja.

Belum genap sepuluh menit. Datang lagi SPG dari produk rokok yang sama. Dan lagi-lagi dengan metode pemasaran yang hampir sama juga.

Cuma dengan gadis ini kami coba menahannya agar dia bisa bercerita lebih jauh. Dalam satu malam, ia harus menghabiskan rokok sebanyak 42 bungkus. Mulai dari jam 8 sampai jam 12 malam lebih. Jalan terus tuh dari rumah makan satu ke rumah makan yang lain. Kadang pindah lagi ke daerah lain.

Pokoknya itu rokok di dalam tas harus habis dalam satu malam. Jika tidak maka ada penilaian tersendiri.

Kami yang mendengar sempat protes juga sih. Protesnya pada perusahaan rokoknya sih. Masak sampai sebegitunya SPG wajib menjual rokok sebanyak itu. Sampai tengah malam pula.

Awalnya saya agak ragu dengan ketentuan tersebut. Tetapi teman bercerita bahwa memang pada umumnya begitu. Cuman kebijakannya beda-beda.  Tapi kesamaannya adalah jumlah rokok yang harus dihabiskan diatas 40 bungkus.

SPG kedua ini lebih lebih cantik, ramah dan bersahabat. Usianya sekitar awal-awal duapuluh. Gigi putihnya berbalut behel kebiruan. Walau kami tidak membeli sebungkus rokok pun dirinya tetap bersikap baik.

Secara pribadi, saya kadang salut sama SPG-SPG itu. Malam-malam, ngider menjajakan rokok karena ia harus siap dengan godaan-godaan pria iseng.

Dibalik pesona SPG rokok, tersimpan kisah-kisah kehidupan nyata anak manusia. Mengais rejeki untuk mendapatkan uang dengan cara yang halal.

Tapi dengar-dengar SPG rokok bisa dibooking ya? Ah, mungkin satu-dua ada yang ‘nyambi’. Mereka mau nggak asal ngasih nomor hape koq. Cuma kepada pria-pria yang dianggap prospek saja. Bagaimanapun mereka khan juga harus menjaga image produk yang mereka jajakan.

Satu hal yang saya perhatikan, mereka sepertinya enggan menghampiri bapak-bapak yang sedang kumpul bersama keluarga. Mungkin nggak enak juga ya sama istri si bapak. Lebih bijak begitu, daripada bikin si istri cemburu.

Menjadi SPG, entah itu SPG rokok atau duta produk lainnya, bisa jadi pekerjaan sambilan bagi mereka yang masih kuliah. Hitung-hitung cari pengalaman dan belajar menghadapi orang dengan aneka sifatnya. Ya, daripada runtang-runtung nggak jelas, mending cari penghasilan tambahan. Asalkan nggak ganggu kuliah tentunya.

Dibalik pesona SPG rokok, tentu banyak kisah-kisah yang mungkin saja tidak semanis apa yang kita lihat. Satu hal saja yang perlu kita catat, yaitu semangat dan perjuangan mereka. Tegar menembus dinginnya malam demi rupiah.

 

Facebook Comments

About Editor

Mencintai Indonesia lewat kata

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif