Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Rekreasi » Jalan Jalan » Perjalanan yang terwujud

Perjalanan yang terwujud

 

beras basahBeras basah island, terasa ingin tertawa sendiri mengingat-ingat nama tempat itu. Karena dengan bangga saya mengatakan “saya seorang Benny wijaya telah berhasil berdiri di pulau ini”. Impian untuk memijakkan kaki di Beras Basah Island mungkin bagi sebagian orang bukanlah sebuah pencapaian yang membanggakan, tetapi bagi saya ini adalah sebuah pencapaian yang sangat saya syukuri karena perjalanan menuju pulau ini tidaklah mudah. Sesuatu yang membuat kita dewasa itu adalah proses bukan hasil, hasil itu hanya konsekuensi dari sebuah perjuangan yang begitu gigih.

Impian untuk memijakkan kaki di Beras Basah Island telah tumbuh ketika saya masih duduk menjadi pendengar setia guru yang mengajar didalam kelas, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Salah seorang guru lah yang memperkenalkan saya dengan nama Beras Basah Island, karena penasaran saya memutuskan untuk searching di google untuk mencari Beras Basah Island itu. Sungguh sangat mengugah hati melihat keindahan alam ciptaan yang maha kuasa. Hati saya begitu menggebu-gebu untuk bisa hadir dan berada disana.

Mungkin banyak yang belum tahu kalau Beras Basah itu adalah nama dari sebuah pulau di Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah Bontang. Untuk mencapai Pulau Beras Basah dari Kota Balikpapan, tidak butuh biaya hingga jutaan rupiah. Selain bisa dikunjungi sendiri dengan menggunakan transportasi pribadi atau umum, bisa juga dengan rombongan dengan tujuan menghemat biaya perjalanan darat dan laut.

Waktu tempuh dari Kota Balikpapan ke Samarinda kurang Lebih 3 jam dan dari Kota Samarinda ke Kota Bontang hingga di Pelabuhan Tanjung Laut juga kurang lebih 3 jam. Sedangkan untuk mencapai Pulau Beras Basah dari Pelabuhan Tanjung Laut, dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

Sepanjang perjalanan ke Bontang, akan banyak dijumpai rumah-rumah makan yang bisa menjadi alternatif selain untuk mencicipi kuliner khas Tanah Borneo. Di sana juga bisa menjadi tempat melepas penat karena dilengkapi dengan balai-balai yang kebanyakan terbuat dari bambu. Biasanya, disediakan juga toilet umum, musala bahkan fasilitas charger handphone atau gadget.

Setelah menunggu 4 tahun akhirnya kesempatan untuk menginjakkan kaki di pualau itu pun terwujud. Ada beberapa episode yang akan saya ceritakan dan yang membuat saya berhasil mengatakn kepada seluruh diri saya, “oh tuhan ternyata menggapai impian/cita-cita itu tidaklah mudah”.

Awal perjalanan ini adalah gagasan teman-teman di Saka Wirakartika yang memang kami senang menjelajah dan tantangan bagi kami adalah sesuatu yang memang harus berhasil kami lalui. Gunung, hutan, tersesat, terluka di tengah hutan memang sudah menjadi bagian dari setiap perjalanan kami. Setiap tahun hanya libur lebaran saja yang bisa menyatukan kami karena kami bukan lagi anak SMP atau SMA. Karena umur semakin bertambah dan tanggung jawab keluarga sudah ada di pundak sebagian dari kami jadi sulit untuk kami kembali menjelah hutan, ngumpul tiap malam, main gitar pinggir jalan.

Singkat cerita kami berhasil mengumpulkan 20 pasukan yang siap untuk berangkat menuju kota bontang. Kami siap dengan 2 mobil siap tempur dan 1 motor yang juga siap tempur pastinya. Namanya juga anak-anak penjelajah kami mengambil jalan bukanlah jalan yang seharusnya dilewati. Bahkan di GPS pun jalan itu tidak ada, kami tau jalan itu dari seorang teman yang mengatakan jalannya lebih cepat sampainya karena semakin cepat kami sampai cepat pula kami membangun tenda dan langsung menikmati pulau tujuan kami. Semakin lama jalan yang kami lalui semakin rusak tapi mobil-mobil tempur kami siap melewati medan itu. Hanya tinggal 15 menit saja kami sampai di jalan aspal kota bontang salah satu mobil kami filter olinya bocor karena menghantam batu yang tersembunyi didalam lumpur. Mobil pun terhenti ditengah hutan yang kami tidak tahu apa nama hutannya dan nama desanya. Seluruh oli keluar berhamburan kami turun dari mobil dan banyak mengatakan “bagaimana ini?”. Alhamdulillahnya kami memilliki seorang mekanik alat berat, dia bongkar itu filter dan langsung menugaskan 2 orang dari kami untuk menuju kota bontang untuk membeli filter dan oli. Sambil menunggu dua orang teman tadi kami memutuskan untuk bermain gitar, main kartu da nada yang bercerita melepas rindu karena satu tahun tak jumpa. 2 jam kemudian teman kami yang di tugaskan kekota tadi pun belum ada kabar kedatangannya. Salah seorang dari kami memutuskan untuk memasak mie yang dia bawa dengan kompor portable, namun suatu kejadian kembali terjadi kompor portable yang dinyalakan seorang dari kami tadi meledak, untungnya tidak ada yang terluka, dengan meledaknnya kompor itu maka mengahruskan kami memasak nasi di pulau itu dengan kayu bakar. 3 jam telah berlalu akhirnya dua orang teman kami datang dengan menggunakan sepeda motor sambil berteriak “bantuan datang teman-teman”, semua berdiri dari tempat duduknya dan bertepuk tangan dengan gembira. Filter dipasang oli dimasukkan akhirnya mobil kami siap untuk kembali menjelajah dengan hati-hati. Kami berangkat pukul 08.00 WITA harusnya sampai jam 10.00 WITA, karena ada insiden itu kami sampai pukul 17.00 WITA.

Beras Basah Island

Setelah sampai di kota bontang kami tidak banyak menikmati suasana kota bontang, kami langsung menyeberang dengan kapal ke pulau Beras Basah. Sesampainya disana kami disambut dengan lambaian pohon kelapa yang bernyanyi dengan merdu karena terhantam angin laut. Ini adalah wisata bahari yang keren dan cantik. Pasir yang putih, air laut yang biru, terlihat beberapa ikan bermain didalam air, sungguh sebuah pemandangan yang indah.

Sudah cukup sore ketika kami sampai disana matahari pun terlihat sudah mulai lelah dan akan menutup hari ini, dengan cepat tenda kami bangun lalu kami duduk berjejer sambil menikmati indahnya lautan dan sunset di pulau cantik dari bontang ini.

Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia karena terbayar dengan keindahan alam ciptaan ilahi ini. Menggugah hati untuk terus bersujud di pulau ini karena tiada yang mampu menciptakan keindahan ini kecuali sang maha pencipta, ciptaannya tidak ada yang pernah gagal dan salah.

80% menikmati 20% dokumentasi

Bulan dan bintang telah terlihat menggantikan si perkasa yaitu matahari, kelembuatan malam begitu terasa disini sepinya pulau ini membuat kami semakin larut dalam kesyahduan malam ini. Berbaring dan memandang bintang serta hantaman angin laut disertai dengan suara merdu ombak membuat lelah hilang, setiap ujung tubuh kita menjadi sangat rileks. Pasir pantai yang tidak lengket dan begitu lembut memberanikan kami semua berbaring diatas pasir putih ini. Bintang-bintang menghiasi langit, cahaya kota diseberang sana menambah keindahan malam itu. Lagi-lagi saya  bersujud kepada sang pencipta karena begitu megahnya bangunan alam yang diciptakannya untuk seluruh umat manusia. Keramaian kota tak terdengar, kebisingan tempat bekerja telah hilang, kesibukan mengurusi tugas kuliah terasa telah selesai. Ini alam yang harus kita jaga, ini alam yang tidak tercipta dua kali, ini alam yang menyuguhkan kebahagian batin ini alam yang memberikan kami kekuatan, ini alam yang membuat bibir ini tak pernah berhenti bersyukur, ini alam yang membuat hati selalu merindu.

Cintailah alam, cintailah indonesia

Bunglah sampah pada tempatnya dimanapun anda berada. Mulai kampanyekan kebersihan  dengan menjadikan diri kita contohnya..

Dari pulau kecil bernama BERAS BASAH, Benny Wijaya

Telah dibaca 66 x , hari ini 1 x

About IMMawanBenny

2 comments

  1. Saya, beberapa minggu lalu baru pulang dari Kutai Timur. Membaca artikel anda, rasanya pengen kembali ke sana.

    Disana saya sampai beberapa minggu, sehubungan ada pekerjaan, dan diwaktu senggang saya juga mencari obyek wisata di KuTim, tapi tak sampai tahu di bontang ternyata ada pantai yang indah.

    Bila masih ada waktu, saya ingin kesana.

    Terima kasih telah berbagi informasi tempat tujuan wisata di Kalimantan Timur

    Salam

  2. katedrarajawen

    Wow perjalanan yang indah, Indonesia penuh dengan kekayaan alam, yang masih memprihatinkan memang kita belum bisa menjaganya dengan maksimal, bukan hal aneh, di tempat2 wisata sampah bertebaran di mana..http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif