Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Rekreasi » Jalan Jalan » Pasar Rakyat, Biang Kemakmuran Rakyat !

Pasar Rakyat, Biang Kemakmuran Rakyat !

Pasar rakyat merupakan istilah baru yang diberikan oleh Undang-undang Perdagangan Nomor 7 Tahun 2014 untuk menyebut pasar tradisional. Menurut undang-undang ini “Pasar rakyat” adalah tempat usaha yang ditata, dibangun, dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, Badan Usaha Milik Negara, dan/atau Badan Usaha Milik Daerah dapat berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil dan menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah dengan proses jual beli barang melalui tawar-menawar.

Penyebutan pasar rakyat semoga membawa dampak yang positif bagi kemakmuran rakyat yang sampai hari ini masih bergantung dengan pasar rakyat. Pasar rakyat di negeri ini tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika ekonomi rakyat. Pasar rakyat sejatinya tidak hanya meliputi pasar yang resmi didirikan oleh negara, melainkan juga mencakup pasar yang secara alami ada karena pertemuan kepentingan antara pembeli dan penjual.

Pasar rakyat adalah sesuatu yang sangat akrab dalam kehidupanku. Kebetulan, saya tinggal di kampung dengan mayoritas penduduk adalah pedagang tahu di Pasar Bunder Sragen. Masyarakat kampung kami adalah masyarakat industri tahu yang sudah berlangsung turun-temurun. Saat ini, para pedagang tahu dari Kampungku, Kampung Teguhan sudah merambah di empat puluh enam pasar rakyat yang ada di Kabupaten Sragen.

Bagi masyarakat kampung kami, pasar rakyat adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Karena hampir delapan puluh persen penduduk mencari nafkah di pasar rakyat. Sebagian besar adalah pedagang tahu, sisanya pedagang krupuk, tempe, dan klontong.

Pasar Bunder adalah pasar yang paling dekat dengan kampungku, hanya berjarak kurang lebih 1 km saja. Dulu ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, Pasar Bunder adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain. Ketika itu, ada tugas dari sekolah untuk ketrampilan memasak. Hebatnya, Bu Guru waktu itu menugaskan anak-anak untuk belanja sendiri ke pasar. Ide cerdas untuk mengenalkan pasar rakyat kepada peserta didik. Jalan-jalan di pasar bersama teman-teman sungguh pengalaman masa kecil yang indah. Apalagi, sambil makan jajanan pasar, “Mak nyuussss”.

Pasar Bunder adalah pasar hasil bumi terbesar di Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Pasar Bunder dikelola oleh Dinas Perdagangan dan Perpajakan Daerah (DP2D) Kab. Sragen. Pasar Bunder terletak cukup dekat dengan pusat Kota Sragen. Kantor Pengelola Pasar Bunder berada di Jl. Diponegoro dengan batas pasar sebelah utara adalah rel kereta api. Sebelah utara rel masuk wilayah Pasar Kota sedangkan sebelah selatan rel masuk wilayah Pasar Bunder. Sebelah barat dibatasi oleh Jl. A. Yani / PG. Mojo. Sebelah selatan Jl. R.A. Kartini sedangkan sebelah timur dibatasi oleh Jalan Gajah Mada.

Dalam blog resminya, nama Pasar Bunder konon berasal dari sejarah pasar itu sendiri yang dulunya adalah sebuah lapangan yang berbentuk bundar, bundar dalam bahasa jawa adalah bunder sehingga sampai sekarang bekas lapangan yang kini berubah menjadi pasar itu lebih terkenal dengan nama Pasar Bunder.

Aktivitas perdagangan di Pasar Bunder berlangsung 24 jam per hari dengan komoditas utama yang diperjual-belikan adalah kebutuhan pokok masyarakat seperti sayur mayur, hasil bumi, kebutuhan rumah tangga, daging dan ikan segar, jajanan pasar dan lain sebagainya.

Terminal Angkudes (Angkutan Pedesaan), yang terletak di sebelah barat pasar dimanfaatkan untuk pasar malam. Maksudnya, pasar rakyat di malam hari sampai dini hari. Mulai buka ketika terminal mulai sepi ditinggalkan Angkudes. Mereka yang berjualan di sini adalah gratis. Tidak dipungut biaya apa pun kecuali karcis pasar yang nanti masuk PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Pembagian los untuk tempat berdagang berlangsung dengan alami, siapa yang menempati terus-menerus di situ dianggap sudah menjadi pedagang tetap. Ketika pedagang ini, karena suatu hal berhalangan untuk berdagang dalam kurun waktu yang lama, pedagang baru diijinkan untuk menempatinya. Dengan catatan ketika pedagang semula sudah kembali, pedagang baru harus meninggalkan tempatnya. Inilah kearifan lokal di pasar rakyat yang tak mungkin ada di pasar modern.

Pada dini hari sampai pagi hari, pasar ini menjadi titik pertemuan pedagang antar kabupaten, antar kecamatan, dan antar desa. Pasar Bunder merupakan pusat perdagangan hasil bumi maupun komoditas lain bagi pasar-pasar rakyat yang tersebar di Kabupaten Sragen dan sekitarnya. Salah seorang sales produk terkenal pernah mengatakan kepada saya bahwa Sragen merupakan kabupaten dengan tingkat perputaran uang yang cukup tinggi. Pusatnya, berada di Pasar Bunder.

Pasar Bunder berdiri di atas lahan seluas 17.995 m2, jumlah kios sekitar 455 unit dan jumlah Los 45 unit. Dari 45 unit Los tadi kemudian masih dibagi lagi menjadi beberapa petak. Jumlah pedagang di Pasar Bunder mencapai sekitar 2.369 pedagang.

Revitalisasi Pasar Bunder dimulai pada tahun 2006. Sebelum diperbaiki kondisi Pasar Bunder cukup memprihatinkan karena terkesan kumuh, semrawut, kotor dan bau tidak sedap. Anggaran untuk revitalisasi Pasar Bunder berasal dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten. Total anggaran yang dibutuhkan untuk merevitalisasi Pasar Bunder sekitar Rp. 17 M.

Pada 10 April 2008 Pemkab Sragen bekerjasama dengan Yayasan Danamon Peduli berusaha mewujudkan pasar tradisional yang bersih dan sehat melalui pengolahan sampah organik yang berasal dari Pasar Bunder menjadi pupuk organik.

Sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu Bank terkemuka di Indonesia, Yayasan Danamon Peduli (YDP) selama ini lebih dikenal dengan program Danamon Go Green dimana YDP bekerja sama dengan 31 pemerintah Kota/Kabupaten di Indonesia mengkonversi sampah organik yang berasal dari pasar tradisional menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.

Program ini bahkan menjadi finalis dalam ajang BBC World Challenge tahun 2009. Unit Pengolahan Sampah Pasar Bunder yang diresmikan pada tanggal 10 April 2008 dan dikelola oleh Dinas Perdagangan dan Perpajakan Daerah (DP2D) Kab. Sragen adalah bukti nyata kerjasama antara Pemkab Sragen dengan Yayasan Danamon Peduli.

Pada akhir tahun 2008 Kementrian Kesehatan RI membuat percontohan Pasar Sehat di 10 pasar yang berasal dari 10 Kabupaten/Kota se Indonesia. Salah satu pasar tradisional yang ditunjuk untuk menjadi pilot project Pasar Sehat dari Kementrian Kesehatan RI adalah Pasar Bunder Sragen.

Tahun 2009 juga telah diselesaikan pembangunan Los Hanggar Khusus Daging/Ikan Segar dan usaha selep daging dan kelapa. Los ini dibangun terpisah dari bangunan pasar utama dengan luas bangunan sekitar 1.560 m2. Los Khusus ini dapat menampung 45 pengusaha selep dan 146 pedagang daging dan ikan segar.
Tahun ini Pasar Bunder diperluas lagi. Menurut situs resmi Pemkab Sragen, di pasar yang baru, pemerintah menyediakan lahan seluas 1.400 meter persegi. Selain dipersiapkan bagi pedagang yang belum memiliki kios, kawasan itu juga disulap menjadi lokasi bongkar muat dagangan. Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Sragen Nonok Sudjiyono mengungkapkan, Pasar Bunder 2 menjadi alternatif bagi pedagang yang belum memiliki kios. Selain itu para PKL yang selama ini berjualan di trotoar bisa ditampung di Pasar Bunder 2.

Di kompleks Pasar Bunder 2 inilah ada kuliner legendaris dari Sragen, Sambel Tumpang Mbok Jami. Sambel tumpang merupakan masakan khas Sragen yang uniknya dibuat dari tempe busuk, maksudnya tempe biasa yang dibiarkan selama dua sampai tiga hari sebelum dipakai membuat sambel tumpang. Sambel tumpang Mbok Jami sangat kental dan legit, pedesnya pas. Apalagi kalau dibungkus dengan daun jati aroma sambel tumpangnya makin nikmat.

Sambel tumpang Mbok Jami, terkenal sejak tahun 1970-an dan Mbok Jami sendiri sebenarnya sudah meninggal dunia ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat ini yang ada adalah generasi penerusnya yang membuka tiga tempat di Pasar Bunder.

Sambel tumpang merupakan masakan yang paling populer dan paling sering menjadi menu sarapan pagi rakyat Sragen. Saya sendiri, termasuk penggemar berat sambel tumpang karena sejak kecil ketika sarapan pagi, Ibu selalu menyediakan menu ini. Jangan heran ketika Anda di Sragen, warung-warung rakyat di pinggir jalan dengan menu sambel tumpang mudah ditemui. Ada rasa aneh bagiku, jika satu hari saja tidak makan sambel tumpang. Bahkan, kini sambel tumpang banyak menghiasi jajanan kuliner malam hari di Sragen.
Pasar Rakyat “Rasa” Pasar Modern

Pasar Bunder merupakan salah satu contoh pasar rakyat dengan nuansa yang tak kalah dengan pasar modern. Selama ini, saya sekeluarga lebih senang berbelanja di Pasar Bunder daripada di pasar modern seperti supermarket atau minimarket. Mengapa ? Pertama, karena dari segi harga barang sesunggunya tak kalah dengan pasar modern.

Istriku yang biasa berbelanja di Pasar Bunder terkadang suka membanding-bandingkan harga barang antara di pasar modern dan pasar rakyat. Menurutnya, harga di pasar modern sesungguhnya hanya dibuat “terkesan” murah saja. Untuk barang-barang tertentu, susu misalnya, sengaja dijatuhkan harganya di bawah harga pasar. Namun, di sisi lain ada barang-barang tertentu yang harganya di atas rata-rata harga pasar namun tidak diumumkan ke publik. Yang dipromosikan ke publik adalah barang-barang dagangan yang memang didesain untuk membuat pasar modern terkesan murah saja.

Apakah ini berarti saya antipati dengan pasar modern ? Tentu tidak ! Saya berbelanja di pasar modern hanya ketika ada keadaan “gawat darurat” saja. Pagi-pagi ketika belum ada warung buka, mau buat teh hangat, kok gulanya habis. Minimarket yang buka 24 jam menjadi pilihan darurat.
Kedua, berbelanja di pasar tradisional memperkecil peluang untuk melakukan aktivitas pemborosan. Belanja di pasar modern jelas akan membuka peluang besar untuk membeli barang-barang yang diinginkan tetapi sesungguhnya tidak diperlukan. Apalagi ketika mengajak anak-anak. Tangis anak-anak terkadang akan memaksa uang keluar dari dompet orang tua untuk membeli barang-barang yang sebenarnya belum masuk skala prioritas. Hidup hemat dan sederhana sesuai arahan presiden lebih mudah tercapai jika kita belanja di pasar rakyat.

Ketiga, berbelanja di pasar rakyat berfungsi untuk memperkuat ikatan sosial dengan tetangga, teman, dan relasi yang kebetulan menjadi pedagang di pasar tradisional. Kesibukan mencari nafkah terkadang menyebabkan pudarnya ikatan sosial di dunia nyata. Belanja di pasar tradisional merupakan salah satu cara untuk menjalin ikatan kasih sayang /silaturahmi dengan lingkungan sosial tempat kita tinggal.
Keempat, belanja di pasar rakyat sesungguhnya adalah pembelaan kita kepada saudara-saudara kita yang sudah berani terjun menjadi wirausahawan maupun wirausahawati. Ingat, menurut hasil survey hanya dua persen rakyat negeri ini yang berani terjun di dunia wirausaha.

Seandainya, memang ada barang-barang yang terpaksa sedikit lebih mahal daripada pasar modern, anggaplah kelebihan harga barang yang kita bayarkan sebagai bentuk kepedulian untuk menguatkan ekonomi rakyat. Apalagi jika selesih harganya tidak seberapa. “Selisihnya, toh tidak ada satu juta kan, Mas ?” tanya istriku sambil tersenyum.

Kelima, saat ini sudah banyak pasar rakyat yang kondisinya bersih, rapi, dan tidak kumuh. Pasar Bunder dan Pasar Kota Sragen merupakan pasar rakyat yang keadaannya jauh dari kesan kotor dan kumuh. Di kecamatan, masih banyak pasar rakyat dengan kondisi yang relatif rapi dan bersih yang menjadi urat nadi perekonomian rakyat. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk enggan berbelanja di pasar rakyat.

Yuuuk, belanja di pasar rakyat ! Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk kemakmuran rakyat. Selamat belanja di pasar rakyat !

Facebook Comments
Telah dibaca 85 x , hari ini 1 x

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif