Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Membangun Semangat Bersaing Sehat

Membangun Semangat Bersaing Sehat

Di era globalisasi, abad informasi  dan teknologi, maka yang terbayang adalah aspek kesiapan suatu daerah dalam menapaki era tersebut dengan mulus, benar dan dalam kerangka kerja yang fair play. Kegamangan, pantas untuk mengemuka karena dilihat dari kualitas sumber daya manusia, daerah saya masih bisa dibilang sangat kurang sekali dan cenderung memprihatinkan. Era globalisasi bertulangkan persaingan bebas, berdarahkan kekuatan sumber daya manusia dan rohnya adalah mutu pada beberapa aspek tatanan. Taruhannya adalah sejauh mana SDM daerah tersebut disiapkan untuk mengisi kerangka persaingan antar daerah. Untuk menjawab itu semua , mutu SDM harus dikembangkan. Tanpa kekuatan mutu, daerah tersebut pasti akan kalah bersaing dalam semua bidang kehidupan. Globalisasi membuang sekat budaya dan social, mempengaruhi struktur ketenagakerjaan. Akan banyak tenaga kerja ahli dan terdidik dari luar daerah yang akan membanjiri pasar tenaga kerja di daerah tersebut. Kondisi ini bukan untuk masa depan. Sekarang saja sudah tak terhitung daerah yang akhirnya “ditinggal” oleh penduduk aslinya sendiri karena kalah bersaing.

Salah satu pokok masalah yang dihadapi oleh suatu daerah adalah kondisi SDM pribumi yang relative lebih rendah tingkat pendidikannya ketimbang pendatang. Bila suatu daerah lebih banyak tenaga kerja pribumi yang hanya tamat SMA, maka sudah pasti banyak pribumi yang akan menyingkir dari tanah ulayatnya sendiri.

Persaingan sudah pasti akan terjadi dimana-mana. Dikota-kota besar bahkan persaingan tersebut malah menjurus kasar. Maka dunia pendidikan harus menghadapinya sebagai sebuah tantangan. Bagaimana menciptakan anak-anak didik yang terlatih dan berani menghadapi persaingan .

Untuk menumbuhkan semangat sportivitas di kalangan peserta didik, tekanan pendidikan seharusnya tidak hanya pada aspek kemampuan bernalar saja. Harus ditumbuhkan juga proses pendidikan yang mengagungkan watak, menghaluskan hati nurani sehingga tumbuh kesadaran tentang kemamppuan dan ketidakmampuan peserta didik. Sistem yang ada saat ini kurang kondusif untuk menciptakan itu. Dengan pendekatan UN sebagai evaluasi akhir seorang siswa mendorong sekolah sebagai pasar jual-beli ilmu. Diluar jam pelajaran resmi, sekolah membuka BImbel sebagai u paya tambahan untuk mempersiapkan siswa memperolah nilai UN terbaik. Sehingga pada akhirnya system pendidikan kita menghasilkan sekolah-sekolah favorit dengan guru dan murid terbaik tapi melalui biaya tinggi.

Disisi lain, sekeras apapun upaya yang dilakukan oleh para guru di sekolah, tidak akan membawa bekas pada siswa bila lingkungan masyarakat tidak bisa menjadi teladan buat mereka. Betapa sejak era otonomi daerah persaingan menjadi tidak sehat lagi. Menjadi PNS bukan dengan cara bersaing secara sehat melalui ujian misalnya, tapi malah memanfaatkan koneksi atau berkolusi. Lingkungan masyarakat belum memberikan keteladanan terbaik untuk menumbuhkan persaingan secara sehat. Para pengelola pendidikan secara terus menerus mengatakan bahwa yang diperlukan saat ini bukan hanya keunggulan komparatif tapi juga kompetitif. Karena itu sekolah harus punya keunggulannya masing-masing agar semua peserta didik punya budaya bersaing. Dengan adanya persaingan yang sehat, maka siswa akan bekerja keras untuk mewujudkan perilaku pembelajaran.

Suasana seperti inilah yang didambakan para pendidik disekolah. Persoalannya, siapa yang berkewajiban menyadarkan masyarakat? Reformasi yang berlangsung saat ini yang pada hakikatnya adalah pembelajaran berdemokrasi belum menyentuh kepada inti persoalannya. Ketika timbul silang pendapat, kita justru melupakan etika berdemokrasi. Bagaimana para pendidik menyikapi perilaku tersebut? Mungkin dengan hanya mengelus dada seraya berpesan, “ Nak, inilah laboratorium social kita yang paling besar. Didalamnya ada contoh yang baik dan banyak juga yang jelek. Sebagai pengamat di laboratorium ini, keputusan ada ditangan kalian. Ambillah contoh yang baik dan buang jauh-jauh contoh yang tidak baik”.

Sebenarnya kalau para pendidik bersepakat untuk membangun budi pekerti sehingga anak memiliki semangat bersaing secara sehat, maka langkah awal yang perlu dibuat adalah melonggarkan beban pengajaran kepada para guru dengan memberikan tekanan pada mendidik ketimbang mengajar. Jadi, pendidikan tidak hanya berlangsung dikelas tapi dapat dilakukan dimanapun. Misalkan mendidik disiplin pada siswa, yang diperlukan bukan mengajarkan tentang disiplin, tapi berikanlah performansi yang baik disekolah. Itu bisa dijabarkan kedalam cara berpakaian yang baik, kehadiran guru di kelas dan di sekolah dan sebagainya. Bila kebiasaan positif dikembangkan dikalangan pendidik, kepala sekolah dan para staf, niscaya para siswa pun akan tergugah hati nuraninya. Lambat laun perilaku mereka akan berubah tanpa perlu mengajarkannya.

Facebook Comments
Telah dibaca 33 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif