Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Pede Aja Kalee…

Pede Aja Kalee…

Pede singkatan dari frasa percaya diri, istilah yang sering melekat pada penampilan seseorang ketika berada di depan umum. Walau tak jarang istilah ini juga kita gunakan dalam kesempatan yang berbeda. Seperti halnya ketika saya mengucapkan, “Aduh saya gak pede nih mau upload tulisan ini”. Kata pede ini jelas mengacu pada percayaan diri saya. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi tidak percaya diri. Kata-kata tadi misalnya saya ungkapkan karena saya merasa tulisan saya terlalu sederhana. jika dibandingkan dengan tulisan para penulis yang memang sudah ahli dalam bidangnya.
Rasa percaya diri ini memang bisa berkembang dengan baik atau tidak tergantung lingkungan seseorang. Bila seseorang berada pada lingkungan yang selalu memberikan dorongan pada teman maka kepercayaan diri seseorang pasti bisa tumbuh dengan baik. Namun sebaliknya, rasa itu juga bisa semakin meluruh tatkala lingkungan tidak mampu mendorong ke hal yang lebih baik dan positif.
Hal ini tentu dipengaruhi banyak hal. Salah satunya adalah kata-kata yang keluar dari mulut orang yang dekat dengan seseorang yang sedang tidak percaya diri. Bahkan sebuah pepatah mengatakan bahwa lidah akan lebih tajam daripada sebilah pedang. Dalam artian kata-kata yang keluar dari mulut seseorang bisa membunuh orang lain. Kata-kata yang kita ucapkan pun bisa menghidupi orang lain. Tentunya ketika semangat yang berupa kata-kata, dari orang-orang sekitar dimaknai dan dilaksanakan sebagai bentuk dorongan. Seperti kisah berikut ini merupakan bentuk semangat atau dorongan yang diberikan oleh lingkungan yang mampu menghantar keberhasilan seseorang.

Simon ini seorang pelajar sekolah menengah pertama. Pembelajarn Art dan Music di sekolahnya memberikan kesempatan kepada siswanya untuk memilih sesuai keinginannya. Ketika kelas tujuh, Simon memilih kelas biola saat pelajaran music. Memang di dalam kelas itu bervariasi, ada siswa yang sudah terampil memainkan lagu, tetapi ada pula yang untuk mencari nada saja sama sekali belum tahu. Pembelajaran berlangsung sampai akhir semester. Simos pun harus berlatih mempersiapkan diri untuk proses pengambilan nilai. Pada semester ganjil simon belum menunjukkan perkembangan berarti. Namun, guru tidak putus asa. Ia berharap Simon bisa bermain lebih baik pada semester II. Maka, guru pun menyarankan agar selama liburan Simon banyak berlatih bahkan guru memintanya mengambil les privat agar tidak terlalu tertinggal.
Semester I pun berlalu dan kini saatnya memulai semerter genap. Saat memasuki kelas biola rupanya Simon belum banyak mengalami perubahan. Guru belum putus asa, masih dengan setia mendampingi agar Simon mengalami perkembangan. Setelah beberapa kali pertemuan ternyata Ia sama sekali tidak menunjukkan progress yang berarti. Sejak saat itu setiap pelajaran biola dia dikeluarkan dari kelas agar bisa berlatih sendiri di luar kelas. Hal ini berlangsung sampai akhir semester dan tanpa perubahan yang berarti. Dalam pengertian simon tetap tidak bisa bermain biola seperti harapannya.
Berdasarkan kenyataan pada saat kelas VII, maka kini Simon harus pindah kelas. Dia tidak bisa lagi berada di kelas biola. Akhirnya Simon di kelas VIII memilih kelas Vocal. Kasus di kelas VII kembali muncul di kelas tersebut.
Berdasarkan tugas yang ada, Simon kembali selalu gagal ketika harus menyanyikan sebuah lagu. Beberapa teman sekelas dan guru sudah berusaha mendorong Simon untuk giat berlatih. Namun, tak nampak sedikit pun perubahan yang berarti. Sikap frustrasi dan rasa menyerah pun mulai terlihat dari wajah Simon yang pada dasarnya memang pendiam. Perjuangan Simon ini tetap berlangsung sampai akhir semester naik ke kelas IX.
Saat memasuki kelas IX, Simon berpindah kelas. Kini ia tak lagi berada di kelas biola maupun vocal, tetapi memilih kelas gitar. Di kelas gitar ini kemampuan Simon bermain gitar juga masih belum ada. Sempat beberapa kali guru gitar juga memberikan teguran karena permainan gitarnya tidak kunjung menunjukkan kemajuan. Beberapa temannya yang mengetahui riwayat pemebelajaran musiknya mulai peduli. Saat istirahat setelah selesai makan siang, biasanya sambil menunggu kelas berikutnya Simon akan berlatih bersama teman. Temannya begitu peduli dan memberikan dorongan. Hingga pada akhir tahun dia sudah semakin mahir dan menguasai beberapa cord lagu.
Masuk kelas X, kepercayaan diri Simon semakin teruji. Satu hal yang luar biasa, kini simon telah tergabung dalam kelompok pelayanan sebagai pemain gitar. Tentu semangat dan kemampuannya saat ini sungguh mengagumkan.
Nah, ternyata agar kita mampu mencapai apa yang kita inginkan kita harus selalu percaya diri. Kita tidak perlu malu melakukan sesuatu sejauh apa yang kita lakukan tidak melanggar norma agama dan norma kehidupan. Menyitir bahasa anak-anak muda zaman sekarang “Pede aja kaleee…”. Salam Ketiker-AST

Telah dibaca 45 x , hari ini 1 x

About Anita Godjali

Leave a Reply

Your email address will not be published.