Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Pengusaha Monek Ingin Jadi Pengusaha Besar

Pengusaha Monek Ingin Jadi Pengusaha Besar

Pengusaha Monek? Istilah apaan lagi tuh Pengusaha Monek? Pengusaha Monek  adalah pengusaha yang menjalankan bisnis, organisasi non profit atau Start Up dengan modal nekad. Jadi kalau ada orang yang punya spesialisasi menghimpun dana banyak orang kemudian memutar dana tersebut pada usaha bisnis yang beresiko besar untuk bangkrut itulah tergolong Pengusaha Monek. Di Negara ini orang yang model seperti ini bergerak tumbuh mengikuti perkembangan dunia Internet. Lantas apa hubungannya dengan Pengusaha Besar? Saya hanya ingin bicara peluang. Peluang untuk menjadi Besar. Tidak Gurem lagi. Kira – kira ada gak ya? Kalau gitu kita bicara bisnis dulu deh. Rata –rata orang berpikir…

Review Overview

0

LogoPengusaha Monek? Istilah apaan lagi tuh Pengusaha Monek? Pengusaha Monek  adalah pengusaha yang menjalankan bisnis, organisasi non profit atau Start Up dengan modal nekad. Jadi kalau ada orang yang punya spesialisasi menghimpun dana banyak orang kemudian memutar dana tersebut pada usaha bisnis yang beresiko besar untuk bangkrut itulah tergolong Pengusaha Monek. Di Negara ini orang yang model seperti ini bergerak tumbuh mengikuti perkembangan dunia Internet.

Lantas apa hubungannya dengan Pengusaha Besar? Saya hanya ingin bicara peluang. Peluang untuk menjadi Besar. Tidak Gurem lagi. Kira – kira ada gak ya?

Kalau gitu kita bicara bisnis dulu deh. Rata –rata orang berpikir yang namanya bisnis itu ya yang kita kenal sehari – hari baik yang kita lihat langsung maupun lewat media.  Punya pasukan karyawan yang sangat besar. Punya arus kas lancar dan model bisnis yang mumpuni. Begini kan bisnis yang anda bayangkan? Eh ada yang kurang. Punya kantor bagus dan terletak di pusat bisnis kemudian punya sekretaris cantik (kalau ini sih Optional). Padahal semua itu tak sepenuhnya benar .

Kalau menurut saya yang namanya bisnis itu kalau bisa saya analogikan seperti main Tenis sama main Tenis Meja. Jadi yang beda itu raket, net, lapangan, sama bolanya. Kalau aturan mainnya sih ya sama aja. Kalo lu mukul bolanya ke gue ntar gue bales juga dan begitulah seterusnya…

Jadi yang membedakan Bisnis Gurem dengan Bisnis  Besar ya ukuran perusahaannya saja.  Nah yang akan kita kaji sekarang apa yang membuat Bisnis besar lebih unggul dari Bisnis Gurem?

Kalau menurut saya ada lima Point yang membuat Bisnis besar jauh lebih unggul ketimbang Bisnis Gurem.

  1. Jalur Distribusi.

Mengapa banyak penulis berebut bukunya bisa mejeng di Gramedia? Sebab Gramedia punya toko di seluruh Indonesia. Jadi distribusi adalah nyawa kalau kita ingin sukses dalam dunia penerbitan buku ditengah perilaku masyarakat Indonesia yang lebih suka nonton ketimbang baca buku. Makanya saya sangat mendukung sekali Start Up seperti Myperpus, Buqu, Moco dan situs sejenis lainya. Kehadiran mereka sekaligus upaya untuk mensosialisasikan baca buku di tengah masyarakat Indonesia yang alergi pada buku. Asalkan mereka gak keburu bangkrut aja karena orang Indonesia ternyata tidak sembuh juga alerginya.

Kalau bicara B2B, maka bisnis besar punya dana untuk belanja iklan. Sasaran mereka apalagi kalau bukan konsumen. Nah untuk sampai ke konsumen mereka butuh pengecer selain distributor tentunya. Tentu kedua belah pihak yang saya sebut belakangan tidak mau rugi dengan investasinya. Distributor tidak mau rugi dengan target yang dibebankan kepadanya. Pengecer juga eneg kalau nyimpan produk yang susah lakunya. Makanya supaya kedua belah pihak senang bisnis besar perlu daya tarik terhadap produk yang mereka jual. Akhirnya mereka buat iklan untuk menggiring konsumen ke toko pengecer dan mencari produk mereka.

Itulah sebabnya produk yang tidak pernah muncul di TV sudah pasti tidak dikenal oleh publik.

Mengapa? Kembali lagi ke pokok bahasan awal karena orang Indonesia lebih suka nonton ketimbang baca buku (Apa hubungannya?)

Pernahkah anda mengenal rokok bermerk H-Mild? Tuh kan,buktinya (Nah loh, apalagi nih hubungannya dengan Rokok?)

  1. Akses untuk mendapatkan modal.

Bisnis besar gampang pinjam duit. Bahkan dengan jumlah besar. Coba bank mana yang berani menolak saat TOYOTA misalnya pengen pinjam duit buat mendirikan pabrik di Cibinong. Bisnis besar memang paling gampang dapat kucuran modal dibandingkan Bisnis Gurem. Kalau modal dari bank tidak cukup, tinggal Go Publik atau menerbitkan saham. Selesailah masalah permodalan mereka. Bagaimana dengan Bisnis Gurem? Jangan mimpi untuk bisa berbuat seperti mereka.

Bahkan kalau pasar bisa dibeli, itulah yang mereka lakukan pertama sekali.

  1. Kekuatan Brand.

Pilih mana? Dr. Martin, Nike apa Cibaduyut? Mengapa kita lebih memilih dua yang depan ketimbang produksi Cibaduyut? Sebab kedua merek Internasional tersebut sudah menginvestasikan milyaran dolar untuk memperkuat brand mereka sehingga kita lebih percaya Nike ketimbang sepatu produksi Cibaduyut. Jadi jangan remehkan Brand. Teman saya lebih memilih A-Mild ketimbang rokok murah H-Mild hanya karena gak keren bukan karena gak enak dihisap.

Jika rata – rata konsumen berpikir seperti teman saya, maka sudah jelas tidak ada tempat bagi Bisnis Gurem untuk hidup dan berkembang.

  1. Hubungan Konsumen.

Costco adalah sebuah perusahaan yang fokus utamanya menjual udang segar. Costco yang sanggup menampung udang dari para penyalurnya di gudangnya yang besar, ternyata hanya memilih tiga perusahaan saja untuk jadi penyalur utama mereka. Padahal ada ratusan penyalur yang sanggup menyalurkan produk yang mereka butuhkan dengan harga yang bervariasi bahkan lebih murah dari penyalur utamanya. Lantas mengapa Costco hanya memilih tiga penyalur itu saja? Sebab Costco tak ingin mengecewakan para pelanggannya. Makanya mereka hanya membeli dari penyalur yang memang sudah teruji dari tahun ke tahun bersama mereka selalu menjaga kualitas produknya.

Bisnis besar selalu menjaga kualitas produknya. Sanggupkah Bisnis Gurem melakukannya?

  1. Serdadu Pekerja alias karyawan yang banyak.

Bisnis besar memiliki jumlah pekerja yang besar pula. Begitu juga latar belakang pendidikannya. Mulai dari SMA sampai S3, ada di Bisnis besar. Mulai dari Kerah Biru, Kerah Putih sampai yang tak punya kerah, ada di bisnis besar. Semuanya berkumpul kadang hanya disebabkan oleh sebuah iklan yang terpampang di Koran lokal ataupu Nasional berjudul Lowongan Kerja. Tapi bukan itu yang membuat orang-orang berkompeten berkumpul disana. Ada sebuah nama yang terpampang paling akhir di iklan tersebut. Bisnis besar memang paling yahud dimata kelas karyawan.

Lantas bagaimana dengan Bisnis Gurem? Sanggupkah Pengusaha Monek dengan Bsnis Guremnya melawan Bisnis Besar dengan jalur distribusinya, akses ke lembaga keuangan kapanpun mereka butuh modal, kekuatan Brand, pelanggan yang setia dan serdadu pekerja yang kompeten?

 

Apakah kita masih punya peluang?

Jawabnya, TIDAK.

 

MOHON MAAF SAUDARA-SAUDARA,

Kita benar-benar tidak punya peluang kalau kita berhadap-hadapan dengan Bisnis Besar di Padang Kurusetra yang sama.

Kita bener-bener ambruk kalau berlagak menjadi AC MILAN yang mencoba-coba untuk menantang MANCHESTER CITY sementara kemampuan dan kekuatan kita hanya setingkat diatas SSB alias Sekolah Sepak Bola.

Jangan coba-coba mengambil makan siang mereka Sobat karena bisa-bisa malah kita yang jadi santap siang mereka. Ditelan hidup-hidup.

Mendirikan Supermarket di depan sebuah Mall itu sama saja dengan bunuh diri.

Yang bisa kita lakukan hanya mencari Padang Kurusetra lain yang mereka ogah untuk masuk didalamnya.

Sayangnya hal ini jarang disadari oleh teman-teman sesama Pengusaha Monek yang hanya bermodalkan dengkul saja.

Mereka terlalu mengagung-agungkan ide bisnis mereka itu sehingga rela bertungkus lumus, bersimbah darah, keringat dan air mata menghabiskan modal mereka yang apa adanya tersebut untuk berhadap-hadapan dengan Pasukan Kurawa di Padang Kurusetra yang sudah menjadi tempat bermain mereka sejak mereka kecil dulu.

10 Start Up tumbuh, 9 mati sia-sia. Mengapa? Sebab mereka mendirikan Start Up hanya ingin mewujudkan ide dan impian mereka saja. Bukan untuk berbisnis. Kebanyakan mereka lupa bahwa mengikuti jejak Jack Ma mendirikan Start Up sejenis Alibaba bukan hanya sekedar tampilan dan layanan yang disediakan web tersebut. Mereka juga butuh marketing untuk memasarkan Web mereka. Mereka sering lupa bahwa produk yang bakal mengisi store mereka adalah produk kelas dua yang tak punya modal untuk menunjukkan eksistensi mereka. Produk kelas satunya ya udah jelas mejeng di TV NASIONAL.

Namun begitupun kita jangan berkecil hati. Sebab dalam ilmu SWOT, dalam setiap Ancaman (Threat) selalu ada Peluang (Opportunity). Dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Begitupun dengan kehidupan kita. Kalau Bisnis Besar memiliki keunggulan yang tidak kita miliki sebaliknya kita juga memiliki keunggulan yang belum tentu dimiliki oleh Bisnis Besar. Apakah itu?

  1. Semangat Pantang Menyerah.

Rawe-rawe Rantas Malang-malang Tuntas. Sekali Terkembang Surut Kita Berpantang (Jadi ingat semboyan organisasi apa ya ini).

Jadi inilah salah satu keunggulan yang kita miliki. Semangat untuk berinovasi, anti kemapanan dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru.

Coba bandingkan dengan Bisnis Besar. Kelompok ini jelas-jelas Pro Status Quo. Mana ada Bisnis Besar yang semangat berinovasi, anti kemapanan dan berani mencoba hal-hal baru?

Kita ambil contoh Blue Bird. Kalau kita tilik dari namanya saja seharusnya perusahaan ini tidak ada masalah apabila berpindah Core Business ke usaha Transportasi Udara dengan mendirikan maskapai penerbangan. Namun meskipun mereka memiliki cukup dana untuk melakukan itu, saya yakin mereka pasti lebih berpikir untuk mengembangkan usaha mereka di bidang Transportasi Darat ketimbang berpindah haluan.

  1. Anti Krisis.

Dilautan luas, ikan yang paling cepat menemui ajal adalah ikan yang tubuhnya paling besar. Itulah mengapa paus sekarang sudah mulai dilindungi dari kepunahan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab paus membutuhkan banyak ikan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya yang tambun. Sementara dia harus bersaing dengan musuh bebuyutannya di lautan. Siapa lagi kalau bukan nelayan.

Bandingkan dengan ikan kecil yang makannya cuma plankton. Kecuali kalau plankton hendak dijadikan energi pengganti minyak bumi, maka bukan hanya paus saja yang punah, ikan pemakan plankton itupun jadi ikut punah.

Keadaan di lautan lepas ini kalau mau dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya PT. Sampoerna. Tbk hanya menghasilkan profit 100 juta pada tahun ini. Maka sudah bisa dipastikan tahun depan ada PHK besara-besaran di industri rokok ini. Bandingkan kalau Bisnis Gurem yang menghasilkan profit Rp 100 juta setahun. Pemilik usaha tersebut bisa senangnya alang kepalang.

Jadi kalau ada yang mengatakan Bisnis Kaki Lima itu anti krisis memang benar. Sebab situasinya kurang lebih sama seperti yang saya terangkan diatas.

  1. Pemilik usaha langsung mengendalikan usahanya.

Kalau Surya Paloh menyuruh seluruh kru bagian pemberitaan Metro TV untuk selalu meliput segala kegiatan yang berkaitan dengan Jokowi sebelum jadi Presiden, kira-kira ada gak yang protes? Gak ada!!!

Meskipun diantara kru pemberitaan tersebut ada yang Pro Prabowo waktu itu. Sebagai seorang pendukung Prabowo tentu dia ingin calon presidennya itu diliput oleh stasiun TV dimana dia bekerja. Tapi apalah daya kalau Big Boss berkata lain.

Namun yang harus diingat bahwa Big Boss Bisnis Besar itu adanya di puncak Menara Gading. Jauuuuhhh Bannggeet.. Bahkan terkadang tidak tahu apa yang sedang terjadi di akar rumput.

Saya yakin Toni Fernandes tidak tahu kalau Air Asia ternyata terbang gak punya surat ijin. Tahunya baru kemarin waktu pesawatnya jatuh. Mengapa? Sebab Toni Fernandes bermukim di Malaysia sementara pesawatnya berseliweran antara Surabaya dan Singapura. Jauuuuuhhhh Bangggett…

Beda dengan Bisnis Gurem. Mang Encim tahu berapa stok ayam, bakso, mie sampai kwetiau. Karyawan jangan coba-coba melakukan manipulasi. Sebab Mang Encim ada disitu mengawasi setiap gerak-gerik karyawannya termasuk pelayanan kepada konsumen. Coba kalo Mang Encim tidak ada ditempat. Kalo seandainya bakso habis, karyawannya tinggal bilang, baksonya abis mbak…, beres. Dia tinggal duduk dan BBan lagi bareng teman-teman Virtualnya. Soal untung rugi mah kagak usah dipikirin. Itu mah urusannya Mang Encim. Kita tinggal kerja akhir bulan gajian deh.. Ntar kalo Mang Encim bangkrut? Ya tinggal pindah Tauke lain dong, susah amat…

  1. Lebih Cepat Berinovasi

Meskipun Kratingdaeng tahu bahwa selama ini ExtraJoss telah mengerus pasar mereka di sektor minuman berenergi apalagi sempat ditohok oleh kalimat iklan berikut ini,  KALO BISA BELI…… BUAT APA BELI BOTOLNYA. Bukan berarti Kratingdaeng lantas bisa angkat senjata langsung putar haluan menyaingi ExtraJoss dengan mengemas produknya dalam bentuk sachet dan melepasnya dengan harga miring seperti yang dilakukan kompetitornya. Bisnis Besar lebih Birokratis.

Beda dengan Bisnis Gurem. Warung Bakso “BANG JALI” tinggal menambahkan Mie Ayam kalau pelanggan sudah mulai kehilangan selera atau Soto juga boleh. Yang penting bahan bakunya bisa saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Warung Ayam Penyet “MALANG” juga dapat berinovasi dengan sambel yang menjadi teman makan ayamnya. Setelah dapat racikannya maka tinggal masukin dalam menu jadilah Ayam Penyet Sambel Ati, Ayam Penyet Sambel Ijo, Ayam Penyet Sambel Goreng, Ayam Penyet Sambel Pete, Ayam Penyet Sambel Mangga, Ayam Penyet Sambel Strawberry, dan masih banyak kreasi sambel yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Asalkan tersedia bahan baku sambel seperti cabe, tomat, bawang dan terasi plus bahan baku yang membedakan rasa tiap sambel maka Warung Ayam Penyet “MALANG” siap bersaing dengan para kompetitornya kembali meskipun sang kompetitor berdiri bersebelahan dengan warung tersebut.

Oke deh, kayanya cukup sampai disini dulu Pokok Bahasan kita kali ini. Lain waktu Insya Allah kita akan sambung lagi dengan Pokok Bahasan yang berbeda yaitu bagaimana kita bisa survive dengan meniru Bisnis Besar. Kita harus yakin kalau suatu saat kita pasti bisa MENJADI PENGUSAHA BESAR…

Telah dibaca 27 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.