Home » Kematian Pasti Datang

Kematian Pasti Datang

Ketika Kematian Pasti Datang 

Katedrarajawen ~ 8:24 3 Oktober 2015

 

Apakah kita sanggup menolak datangnya kematian itu? Sudah jelas bahwa kematian adalah jelas dan mutlak akan datang di dunia yang penuh ketidakpastian ini.

Walau kematian itu pasti menjemput namun kita tak tahu datangnya kapan. Yang pasti peti mati itu untuk orang mati tidak peduli tua, muda atau masih anak-anak. Jadi kematian itu tidak hanya menjemput orang-orang yang sudah renta.

Siapa pun yang berada dalam pusaran kehidupan di dunia ini tidak peduli miskin atau kaya. Tua atau masih anak-anak. Rela atau takut kematian tak memilih mengambilnya.

Kemarin saya melayat saudara yang meninggal karena sakit. Anaknya masih kecil dan di antara saudaranya yang pria ia adalah yang paling muda. Sementara tiga yang lebih berumur masih sehat. Belum lama juga ada kenalan yang sepupunya masih remaja dimana sebelumnya sehat-sehat saja tahu-tahu sudah meninggal.

Yang menyedihkan banyak kematian yang sangat mengenaskan. Mati ketika sedang berbuat mesum. Mati saat melakukan kejahatan. Mati karena kebut -kebutan. Mati karena bunuh diri secara perlahan dengan obat terlarang.

Apa yang menggerakkan kesadaran kita ketika menyadari bahwa kematian itu kapan saja bisa merengut kehidupan kita?

Apakah kita masih tetap untuk menyia-nyiakan hidup kita yang sejatinya sangat berharga ini? Apakah kita tidak ingin mengisinya dengan hal-hal yang bermakna baik untuk diri sendiri maupun bagi sesama?

Apakah kita akan mengisi kehidupan ini dengan kesalahan, kebohongan , kemaksiatan, keserakahan, atau melakukan perbuatan yang merugikan?

Apakah akan terus berlomba-lomba dalam kesalahan daripada kebaikan?

Di media soal ada fenomena saling menghujat, caci-maki, menyebar fitnah. Apakah kita akan mengambil bagian?

Sejatinya perjalanan hidup kita yang pasti mengarah kepada kematian ini menyadarkan diri kita bahwa sebelum kematian itu hidup kita harus berarti.

Sungguh menyedihkan ketika hidup kita harus memiliki makna malah kita terus melakukan perbuatan yang tidak berharga. Tidak menghargai karunia Tuhan atas tubuh dan jiwa ini.

Tak jarang nilai kehidupan manusia kalah dengan seekor ayam sekali pun. Seekor ayam ketika mati masih berharga sekian rupiah. Tetapi ada yang manusia mati hanya menjadi bangkai. Belum lagi disertai sumpah-serapah. Tentu kita tak ingin seperti itu bukan?

Itu sebabnya kita harus mengerti hakekat kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa Tuhan menciptakan setiap umatnya, agar berguna bagi kehidupan di dunia ini. Kita dapat menemukan kebenaran hidup ini dalam setiap ajaran yang kita yakini.

 

katedrarajawen@pembelajarandarisebuahperistiwa

Telah dibaca 34 x , hari ini 1 x

About katedrarajawen

Leave a Reply

Your email address will not be published.