Home » Kebencian Itu Bagaikan Racun

Kebencian Itu Bagaikan Racun

Kebencian Bagaikan Racun ~ 15:16 3 Oktober 2015

 

Apakah ada kebencian di dalam diri kita? Paling tidak dalam hidup kita pernah merasakan kebencian itu kepada orang yang tidak kita sukai.

 

Tetapi seiring berlalunya waktu kita dapat melupakan kebencian itu. Intinya kita tidak menyimpan kebencian itu sebagai harga mati. Kebencian hanya datang silih berganti.

 

Belum lama ini seorang kawan mengungkapkan perasaannya. Bahwa selama 15 tahun ini ia menyimpan kebencian kepada pasangannya. Walau masih tetap hidup bersama rasa benci itu tersimpan rapih di hatinya.

 

Walau rapih ia menyimpan rasa benci itu yang pasti tak ada rasa damai dalam hidup bersama pasangannya.

 

Kebencian adalah salah satu penyakit hati yang mematikan. Ia merupakan racun yang akan menyiksa diri kita sendiri karena ia berada di dalam diri kita.

 

Bisa jadi orang yang kita benci baik-baik saja. Sebab ia tak merasakan racun kebencian itu. Mengapa harus menyiksa diri dengan racun yang kita tebarkan sendiri?

 

Ini bukan cerita benci tapi rindu seperti yang ada di lagu-lagu melankolis. Tetapi racun kebencian yang membuat hidup tak lagi ada damai. Tentu kebencian seperti ini akan menggerogoti hati kita yang suci.

 

Namun yang namanya penyakit, pasti ada obatnya. Begitu pula yang namanya racun pasti ada penangkalnya.

 

Obat penangkal racun kebencian yang paling manjur itu bernama kasih. Di mana ia berada? Ke manakah harus mencarinya? Tak usai jauh-jauh. Sebab kasih itu bersemayam di dalam setiap diri kita.

Tak ada kebencian di dalam kasih. Kasih itu bebas dari segala racun-racun hati yang membuat hidup kita menderita. Di dalam kasih tiada penderitaan.

 

Mengapa kasih yang tepat ada di dalam kita tak berfungsi dan kebencian yang mengusai? Sebab kita yang menolak kehadirannya setiap kali ia hendak muncul.

 

Yang bisa kita lakukan adalah mau rela memberi ruang kehadiran kasih dalam setiap kesempatan ketika benci hendak mengambil alih.

 

Bila tidak, maka hidup damai yang menjadi impian hanya akan menjadi omong kosong. Sebab suara kasih yang sayup-sayup terdengar akan ditelan gelombang kebencian.

 

 

katedrarajawen@refleksihatimenerangidiri

Telah dibaca 33 x , hari ini 1 x

About katedrarajawen

Leave a Reply

Your email address will not be published.