Home » Arti Memberi dalam Kehidupan

Arti Memberi dalam Kehidupan

Arti Memberi ~15:55 17 Desember 2015

 

Alangkah indahnya bila dalam hidup ini selalu ada keingingan untuk memberi setelah begitu banyak yang telah kita terima. Entah sudah berapa banyak yang telah kita terima selama hidup ini dari semesta ini. Air, udara, sinar matahari dan tanah yang kita pijak setiap hari adalah pemberian yang tak ternilai.

Hakekat kehidupan sesungguhnya adalah memberi. Dalam sejarah kehidupan manusia sejak dahulu kala sudah memberikan akan pengajaran ini.

Setiap tradisi leluhur dan pengajaran agama telah mencatatkan dengan agung dan indah soal memberi ini. Jejak-jejak yang ada dapat kita telusuri dan akan menemukan kebenaran akan hal ini.

Kabar baiknya adalah bahwa dalam memberi bukan berapa banyak yang kita berikan. Namun berapa besar kerelaan yang kita miliki dalam memberi. Nilai besar belum tentu melambangkan besarnya kerelaan yang kita miliki. Begitu pula sebaliknya kecilnya pemberian tidak menandakan kecil keikhlasan kita.

Dalam hal memberi memang tidak bisa mengukurnya dengan angka-angka. Sebab dalamnya samudra hati seseorang tak mungkin kita ketahui. Kita hanya bisa mengukur nilai sendiri.

Orang-orang yang memiliki harta melimpah pun belum tentu mempunyai keinginan memberi bila tak ada kerelaan untuk memberikan apa yang didapatnya dengan kerja keras dan susah payah.

Yang menyedihkan adalah selalu memiliki pembenaran-pembenaran yang menutupi hati untuk menjadi alasan tak perlu memberi. Dalam arti tak ada kewajiban. “Duit, duit saya mau disimpan atau diberikan itu urusan saya!”

Yang menggembirakan di dunia ini masih banyak yang cukup dan bahkan sangat memahami arti dari memberi kepada sesamanya. Tidak sedikit mereka yang begitu rela mendonasikan sebagian besar hartanya untuk membantu sesama sebagai tanda syukur dan terima kasih atas kehidupan yang mereka miliki.

Tidak sedikit pula mereka yang hidup pas-pasan dan bahkan kekurangan masih memiliki hati untuk memberi atas nama kebaikan.

Belum lama ini saya bersama istri datang ke suatu acara amal pengumpulan dana untuk pembangunan rumah ibadah. Orang-orang yang hadir dari berbagai golongan ekonomi. Semua antusias merogoh kantong untuk menyumbang. Padahal untuk hadir ke acara sudan mengeluarkan sejumlah uang untuk selembar undangan amal.

Berderet nama terpampang melalui layar lebar di tempat acara. Angka-angka yang tertera dari 50 ribu rupiah sampai jutaan. Ada juga yang mengeluarkan lagi dana untuk beramal atas barang yang dilelang. Ada yang beberapa juta, puluhan juta sampai ratusan juta. Semua dengan wajah berseri tanda bahagia.

Tentu saja saya ikut beramal juga. Apa mau diceritakan? Bukankah kata bijaknya tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu?

Nah, masalahnya tangan kiri ini sudah gatal untuk mengetik. Jadi jangan salahkan. Ingat bukan memberi tahu, cuma mengetik.

Tangan kanan ini hanya berkenan memberi beberapa puluh ribu dari harta yang beberapa puluh ribu juga. Sekadar untuk menghibur diri saya berkata pada istri,”Kalau orang-orang yang berlebih bisa memberikan banyak itu hal biasa. Karena itu hanya sebagian kecil dari harta mereka. Namun apabila kita bisa memberi dari kekurangan itulah pemberian yang sesungguhnya!”

Lumayan terhibur karena sambil berkata demikian senyum saya mengembang. Kawan, saya cuma ingin berpesan soal amal saya yang sedikit itu tolong jangan cerita-cerita ke orang lain lagi supaya tetap tidak ada yang tahu. Dengan demikian nilainya akan semakin besar. Paham, kan?

Facebook Comments
Telah dibaca 33 x , hari ini 1 x

About katedrarajawen

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif