Home » FIKSI » Cerpen » Pelangi Hati

Pelangi Hati

asieksklusif.net

asieksklusif.net

Sepi, sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang baru buat manusia, termasuk aku. Apalagi sekarang anak-anakku sudah pada besar. Lepas SMP kegiatan mereka berjibun dan mulai jarang betah di rumah. Sementara aku, semenjak tiga tahun yang lalu terkena program pengecilan karyawan di perusahaan aku bekerja, harus selalu betah di rumah, padahal aku seorang laki-laki. Tulen, buktinya dengan manisnya aku bisa membuahi istriku dua buah bibit unggul, aha.. jika dilihat betapa aktif dan banyak prestasi yang anak-anak aku dapatkan selama mereka berpredikat menjadi seorang pelajar. Bahkan anak keduaku, sebungsu di saat balita dia menjuarai balita cerdas di kampung kamu dulu, oya sekarang kami jauh dari kampung halaman baik kampung halamanku maupun kampung halaman istriku. Kami merantau mengikuti jejak pendahulu-pendahulu kami. Dan konon mereka sukses di ibu kota propinsi ini dan kamipun tidak salahnya bukan jika ikut mencoba.

Kami boyongan ke kota ini ketika usia pernikahan kami yang ketiga, di mana usia anak pertamaku dua tahun dan adiknya satu tahun. Dan alhamdulillah aku langsung mendapatkan kerja yang cukup lumayan penghasilannya di sebuah perusahaan yang cukup bonafive di kota yang terkenal dengan makanan bercukanya ini, Pempek. Serupiah demi serupiah aku raup, aku saat itu merasa sudah berkecukupan, tetapi istriku ternyata tidak, dengan alasan anak-anak sudah mulai memasuki dunia pendidikan, dia ingin ikut bekerja dan tanpa bisa kucegah dia layangkan surat lamaran di perusahaan di mana aku bekerja, dan dia memang beruntung dia langsung menepati posisi baik di perusahaan, seorang staf manajemen di sub bidang yang syukurlah berbeda denganku sehingga aku dan dia tidak terkena peraturan perusahaan, tidak boleh suami istri bekerja pada satu ruangan.

Dan begitulah kehidupan kami yang bisa dibilang sukses. Rumah kami termasuk kategori mewah, mobilpun kami punya hehe tapi itu punya istriku yang kini kepala bagian. aku hanya memiliki sebuah motor merk toyota yang sudah mulai tua, seperti juga usiaku yang mulai beranjak tua. Yaah, tiga tahun yang lalu di PHK dan tiga tahun yang lalu istriku naik jabatan jadi kepala bagian Managemen di sub bidang yang digelutinya. Dan dimulai tiga tahun lalu pula dia selalu menunjukkan warna yang sulit aku kenali. Angkuh, tidak mau mengalah, dan tidak lagi mau meladeni permintaanku sehingga untuk kebaikan bersama aku memilih pindah kamar, ke kamar depan yang awalnya merupakan kamar yang disiapkan untuk tamu. Anehnya dia kegirangan sekali ketika aku ungkapkan niatku itu, dia mencium pipiku sampai berkali-kali.

“Nah begitu dong Pa.. terimakasih ya Pa.. jadi aku bisa leluasa bekerja jika ada kerjaan kantor yang belum sempet aku selesaikan di kantor..” katanya.. aneh ya, seharusnya dia mikir kenapa aku sampai pindah kamar yang berarti aku itu sama dia pisah ranjang dan bisa-bisa dinamakan talaq 1. Tetapi begitulah dia, dan jika aku butuh dia aku samperi dia di kamarnya dan dia, pada awalnya sih menyambutku dengan penuh kemesraan, bagai seorang kekasih menyambut sang pangeran yang apel di rumahnya. Tetapi lama-lama dia semakin dingin dan engan dan banyak sekali alasan dia untuk menolak. Seharusnya sih aku sudah  PHK dia seperti perusahaan yang meng PHK kan aku. Tetapi demi alasan klise, kasihan anak-anak. Aku terima saja hal tersebut.

Begitulah, tahun demi tahun aku jalani kehidupan rumah tangga yang aneh ini. Dan selama itu sudah tak terhitung lagi lembaran-lembaran lamaran aku ajukan ke tempat-tempat yang ada kemungkinan bisa menerimaku bekerja tetapi tidak ada hasil, selalu nihil dan nihil. Akhirnya aku bosen dan sisa uang pesangon PHK ku yang tidak seberapa tetapi sempat kusimpan di bank aku ambil semua dan akupun mulai mengelola sewa menyewa beca. Lumayan karena beca kendaraan yang masih bisa bebas beroperasi di kota Palembang ini. Dari uang sewa beca tersebutlah, aku menghidupi diriku sendiri. Yaah karena untuk kebutuhan rumah tanggaku dengan sombongnya istrinya yang memenuhinya. Dia tidak pernah mau menerima pemberian uang dariku dan anak-anakku uang sakunya dia yang selalu siapi. Asisten rumah tangga yang dipekerjakannyapun, dia yang beri gaji. Yaah dia maunya begitu. Mungkin dia pikir, berapalah penghasilanku yang kadangkala narik beca juga jika tidak ada yang kukerjakan di rumah dan ada beca yang nganggur, yang nyewanya sedang berhalangan atau sakit.

Sepi.. sangat sepi yang kurasa. Anak-anakku sibuk, mereka pergi pagi pulang hampir magrib dan istriku yang tercinta sangat padat jam terbangnya atau mungkin dia sekarang sudah punya sayap sehingga sering sekali aku dapati dia tiba-tiba saja baru saja pulang dari Bandung atau dari Jakarta atau.. yaaah kota-kota besar di Indonesia ini mungkin sudah pernah semua dia jadikan tempat membuang hajat… hehehe… dan aku yang di surat-surat resminya berstatus suami tidak bisa bilang apa-apa jika dia datang mendekatiku dan mencium pipiku seraya berkata,

“Pa.. mama pergi dulu ya.. ke Surabaya Pa.. ada urusan bisnis di sana.. tiga hari pa.. Papa baik-baik ya di rumah. lihat-lihat tuh anak-anak jangan sampai terkena pergaulan tidak bener..” dan belum sempat kusahuti dia sudah berlalu dengan mobil mewahnya menuju bandara Soekarno Hatta. Aaah.. sungguh bikin hatiku sakit. Tetapi marahku tidak pernah bisa meledak, dia seperti kutu loncat, secepat kilat berlalu jika mulai melihat rona wajahku.

“Sudahlah Pa.. yang penting mama masih setia sama papa…” biasanya anak pertamaku yang kini sudah jadi mahasiswi menimbaliku begitu jika melihat aku mengeram tak jelas. Ya sih, tetapi aku kan suaminya, kepala keluarga. Tidak seharusnya aku dilecehkan semacam ini. Dan dalam setuasi yang begitulah tiba-tiba ada kejutan buatku. Di hp ada sms masuk.

“Assalamuaikum Dermawan…” begitu saja isi sms nya. dan nomor yang masuk tersebut tidak kukenal.  karena penasaran aku telpon balik dia dan ternyata dia adalah seseorang dari masa laluku.

Dan hari ini adalah sudah sebulan ini aku dan dia rajin sms an.. kadangkala telepon-telepon. Aku sebenarnya tidak tahu pasti status dia, tetapi menurut cerita dia, dia sudah menjadi istri orang dan anaknya ada dua hanya masih kecil-kecil. Yaa dia terlambat nikah karena dia pikir aku yang akan meminang dia tetapi aku yang menghilang sekian lama akhirnya membuat dia harus memilih juga untuk menjadi seorang istri seorang pedagang yang menurut dia pedagang sukses di kota asal suaminya, dia ikut suaminya karena orangtuanya sudah meninggal dan dia tidak punya siapa-siapa di Palembang, jadi yaah begitulah diapun menjadi penduduk kota Jambi.

Tetapi hari ini tidak ada sms dia yang masuk. Kenapa ya ? aku jadi sedikit gelisah. setelah tadi selesai mengurus para mamang beca berangkat mengoperasikan beca-becaku, aku duduk di depan televisi dengan harapan ada sms dari dia sehingga sambil nonton tv aku sms an. kegiatan yang sudah sebulan ini aku nikmati dan mampu membunuh sepiku.

Aku melihat jam dinding sudah jam dua siang. Perut laparku tidak kuhiraukan, berkali-kali aku melihat ke layar monitor hp, kalau-kalau ada sms masuk yang tidak aku ketahui. Tetapi ternyata tidak ada juga.

“Pa.. makan dong.. dari tadi nonton tv terus..” anak keduaku yang hari itu libur sekolah karena persiapan mau semesteran menegurku.

“Sholat kek.. gitu.. ” eeh tumben jejakaku ini rewel. Aku tidak menjawab hanya melirik dia sekilas dengan mata elangku. Jaka, begitu nama anak keduaku ini ketawa. Dia duduk disampingku.

“Pa.. papa nunggu sms ya.. dari cewek ya pa..” eeeh kaget aku, kenapa dia bisa tahu.

“hehehe … maaf pa.. aku pernah lihat tuh hp papa di tangan mama, dan dia ngomel-ngomel.. katanya papa sekarang sudah mulai tidak setia..”

Hah ? aku menanti cerita selanjutnya. Tapi Jaka sepertinya hanya tahunya segitu. Dan meski kupaksa juga tidak ada hasil. Yaah sudahlah. Sepertinya istriku memang sudah tahu dan aku menanti dia marah.. sehingga aku bisa marah juga.

Saat itupun sepertinya tidak perlu kutunggu lama. Karena aku pikir tidak akan ada SMS aku beranjak bangkit dari dudukku dan menuju ke kamar, mau sholat dan makan atau mau makan dan sholat. Tiba-tiba sosok istriku yang cantik jelita menarik tanganku dan menyuruh duduk kembali. Lha, kapan dia masuk ke ruangan ini ya.

“Papa.. siapa Delita itu.. ” Aha.. matanya yang dihiasi sempurna dengan make up kelas atas itu menatapku tajam..

“yaah Delita” sahutku santai dan berlagak cuek.. meneruskan niatku.

“Papaaaa…” wow.. bergeligar… aku cengar-cengir saja.. terus kekamarku, keluar lagi, masuk ke kamar mandi.. dengan hp yang sengaja aku tinggalkan di meja kamar.

Di kamar mandi aku ambil air wudhu dengan penuh khusuk. Selanjutnya ke musholah kecil  yang kubangun khusus untuk keluargaku. Jujur, aku selalu lakukan agar keluargaku keluarga yang shaqinah.. yang tahu Allahnya… yang tidak lalai dengan ibadahnya. Untungnya rumah ini aku yang bangun dengan seleraku sehingga rumah ini sesuai dengan keinginanku, ada ruang ibadahnya, ada perpustakaannya dan ada ruang keluarganya. Sayangnya sucses buatku sejak tiga tahun yang lalu kabur, yaah mungkin karena aku belum maksimal dalam bersyukur.

Dan selesai sholat aku ke meja makan. di sana sudah menunggu istriku dengan hpku ditangannya.. dia mendelik penuh murka menatapku dengan garang.

“ini.. hampir 100 sms masuk dan semuanya dari Delita..” katanya, mulai.

“la iya la.. hanya dia yang mau ngobrol sama aku, meski hanya lewat sms…” sahutku santai dan segera duduk, mengambil piring makan, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.

“Maksud kamu apa” katanya .. nadanya masih tinggi.

“tidak ada maksud apa-apa” kataku sambil memasukkan suapan pertamaku ke mulut.

“Papa.. yang serius dong. hargailah aku yang sudah capek-capek banting tulang bekerja demi keluarga. Papa.. aku selama ini selalu percaya bahwa papa tidak akan berbuat yang aneh-aneh dan akupun berusaha untuk tetap setia di luar sana..” naah nadanya mulai datar dan sedikit mengandung isak. Aku tersenyum senang melihatnya. Setidaknya dia kini paham bahwa aku ini meski hanya di rumah saja, mengelola usahaku di rumah saja, aku tetaplah mahkluk hidup yang berinteraksi dan aku laki-laki, bisa saja ada makluk sejenis dia yang mendekatiku bahkan bisa saja aku yang mendekati makhluk jenis dia, wanita.

“Pa.. siapa sih Delita ituuuuu” naah meninggi lagi. Aku biarkan saja sampai akhirnya dia memilih untuk menangis. Yaah puaskanlah tangismu itu, istriku. Aku menyudahi makanku, mencuci tanganku dan meninggalkan meja makan, masuk kamar dengan tak lupa mengambil hpku di tangannya. Dan tanpa melihat sedikitpun ke arah dia, aku tutup pintu kamar.. menguncinya dan tepuk-tepuk sedikit kasur tempat tidurku, kubaringkan tubuhku yang mulai sepuh.. tidur dulu… sayup-sayup aku mendengar Jaka menghibur mamanya.. hehehe.. Ola la.. pelangi hatiku, setidaknya setelah reda tangismu nanti akan kutunjukkan kepadamu di mana keindahanmu yang sebenarnya, bukan wanita karir yang gila kerja di luar sana tetapi sebagai istriku, istri seorang laki-laki, bukan bencong.

SELESAI

Palembang, 15 Desember 2013

 

Facebook Comments

About Nyimas_Herda

8 comments

  1. kisah yang banyak terjadi dalam kehidupan nyata bunda

  2. Bunda,kadang setelah kita merasa super maka kita menganggap orang-orang di sekeliling sebagai angin lalu.
    Cerita ini bukan sekedar cerita, tapi membuat kita intropeksi diri.

    • Iya tuh Kim.. apalagi jika wanita tsb terlibat di dunia politik yang menghusung namanya sampai ke langit tujuh.. heheh.. trimakasih ya atas koment nya… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  3. para wanita karir hrs selalu ingat kodratnya sebagai istri n ibu…
    nice post…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  4. selamat datang Herda
    terima kasih atas artikel perdananya https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif