Home » FIKSI » Cerpen » Bertepuk Sebelah Tangan

Bertepuk Sebelah Tangan

panjiploembond.blogspot.com

panjiploembond.blogspot.com

“Ayu…”

Suara itu mengejutkanku. Membuatku spontan menghentikan langkah. Tapi aku enggan menoleh. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, pun mendengar suaranya, tapi aku yakin dialah orang yang selama 2 hari ini membuatku menunggu. Di kamar hotel sendirian. Jauh-jauh aku datang ke kota ini untuk menemuinya tapi sungguh kecewa ku dibuatnya. Berbagai alasan dan dalih dia buat. Seakan dia memang sengaja menghindar dan tak ingin bertemu denganku. Dan aku tak bisa memaksanya. Memangnya siapa aku? Aku hanyalah teman di dunia maya. Aku hanyalah teman yang selalu merepotkannya dengan curhat-curhatku tentang kegagalan dan kepedihan yang aku rasakan. Aku selalu berharap dia adalah orang yang tepat berada di sampingku karena dia sudah berhasil menghapus air mata dan dukaku. Dia sanggup menghibur dikala sedihku. Dia sanggup menguatkan hatiku yang rapuh. Dia mampu membuatku tersenyum setelah sekian lama ku terbelenggu dalam kemuraman. Dia mampu membuatku merasa hidup kembali. Tapi ternyata aku salah menangkkap perhatiannya. Rasa yang kami rasakan berbeda. Dia hanya menganggapku teman dunia maya yang selamanya hanya akan ada di dunia maya. Tak lebih dari itu. Walau aku sangat ingin memperlihatkan betapa nyatanya diriku, aku tetap tak kuasa memaksanya untuk menemuiku.

“Maafkan aku,” katanya lagi. Kali ini terdengar lebih dekat. Bahkan helaan nafasnya sangat jelas kurasakan di belakangku. Aku masih terdiam, belum ingin menoleh.

“Untuk apa?” tanyaku akhirnya. “Kamu gak salah apa-apa. Aku saja yang salah mengartikan kebaikanmu selama ini. Aku lah yang harusnya minta maaf, sudah membuatmu repot.”

Aku masih belum ingin menoleh. Sekalian saja aku jadi tak ingin melihatnya, daripada aku harus menelan kekecewaan untuk kesekian kalinya.

“Jangan pergi dulu,” katanya meraih tanganku. Aku merasa aneh, kenapa tiba-tiba saja ada getaran yang menjalar di sekujur tubuhku. Tatapanku masih kosong. Kali ini aku tundukkan kepala, sekilas melihat genggamannya di jemariku. Seakan tersadar, segera kutarik tanganku. Aku menghela nafas panjang, mengumpulkan kekuatan untuk akhirnya memberanikan diri untuk memutar tubuhku. Tapi aku tetap menunduk, belum berani menatapnya. Aku semakin tak mengerti, kenapa aku susah sekali mengendalikan degup jantungku yang semakin kencang. Akhirnya aku mendongak, ingin melihat secara nyata seperti apa dia. Dan ya ampun, kenapa senyumnya manis sekali? Aduh…dag dig dug di jantungku semakin tak terkendali.

“Maaf, keretaku berangkat sebentar lagi. Aku tak akan datang dan mengganggumu lagi.” Aku diam sejenak. “Terima kasih, selama ini kamu sudah menghapus air mataku. Dan sekali lagi terima kasih sudah mau datang menemuiku.”

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi pasti yang terlihat adalah senyum kecut, karena rasanya terlalu sulit untuk tersenyum setelah apa yang terjadi selama 2 hari ini.

“Ayu,” katanya sambil kembali meraih tanganku. Aku membiarkannya. “Berilah aku sedikit waktu.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin menjelaskan sesuatu.”

“Tak ada yang perlu dijelaskan.”

Aku berusaha menarik tanganku tapi genggamannya terlalu kuat. Hangat mengalir ke seluruh sendi tubuhku. Degup jantungku tetap saja meloncat-loncat tak karuan.

“Maaf,” kataku sambil berusaha membalikkan tubuhku untuk segera beranjak dari hadapannya. Akhirnya dia menyerah untuk melepaskan tangannya.

“Sekali lagi aku minta maaf karena tak bisa menemanimu,” katanya lirih.

“Gak pa-pa,” jawabku singkat.

Aku melangkah gontai, menyusuri lorong menuju lift yang akan membawaku ke lantai bawah. Meninggalkan dia sendirian. Dalam hati sebenarnya aku berharap dia akan berlari menyusulku dan merengkuhku dalam dekapannya agar aku leluasa menumpahkan air mata yang sedari tadi mati-matian kutahan, tak ingin dia tahu kalo mataku berkaca-kaca. Tetapi, nihil. Dia sama sekali tak bergerak, tak berusaha mengejarku. Dan tinggallah aku sendiri, menelan kenyataan pahit karena ternyata dia benar-benar dingin, tidak merespon keinginanku untuk bersamanya. Sekali lagi harus kutanggung rasa kecewa, dan yang pasti air mataku akan berurai kembali. Kemuraman akan menyelimuti hatiku lagi. Lalu siapa lagi yang sudi menyibak kabut duka yang akan menggelayut di kalbu yang ringkih ini?

Facebook Comments

About Ayu Larasati

14 comments

  1. katedrarajawen

    Masih ada harapan ya, nak, sabar masih ada cinta menanti

    Ralat: Dia sama sekali tak bergeming.

    tak bergeming, rancu, cukup bergeming. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. menarik sekali cerpennya.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

    Tapi ingat, apa yang menurut kita baik, belum tentu akan memberikan kebaikan untuk kita dimasa depan.

    Jadi jangan gampang kecewa dan sakit hati dong, kita tak mungkin membuat bumi ini berhenti berputar, kan ?

    Maksudnya biar saja, tak bisa kita memaksanya. Bila kita selalu ikhlas dan sabar menerima kenyataan hidup, tentulah nanti akan diberi jalan olehNya..

    Langit tentu tak akan tinggal diam..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

    Salam

    • langit tentu tak akan tinggal diam…suka dengan ungkapan ini.
      bersama KK pasti akan lebih tangguh…
      makasih, mas Admin.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  3. ini adalah kisah cinta… mungkin klo dibilang ya cinta tak harus memiliki…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

    • ya itu lah…ternyata kita gak kuasa apa2…semua tetap apa kata Tuhan…
      makasih, mas Trezee.

  4. idih kok sedih jd nya ….true story kah ? semnagt mbak…

  5. Sabar pasti itu yg msi bisa ku ucap buat sosok Ayu dicerpen itu krn tdk semua apa yg kita inginkan hrs terwujud jd indah..pasti ad hikmah dibalik semua ini..cerpen yg mantap mbk…

    • iya lah…kita cuma bs merencanakan…boleh enggaknya tetap terserah Dia…
      makasih mbak Melati.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif