Home » FIKSI » Cerpen » Bukan Pelacur Tuhan

Bukan Pelacur Tuhan

bukanKuil Devadasi di India Selatan Sebelum Abad 19… Kuil Suci yang senantiasa menjadi tempat suci bagi para Wanita dari kasta tertinggi hingga para wanita dari keluarga kerajaan. Wanita-wanita yang terdiri dari para penari, pujangga, dan seniman. Wanita-wanita yang mendedikasikan hidupnya seperti biarawati dan selalu mempersembahkan yang terbaik dalam setiap ritual suci di tempat itu.

Namun…

Awal abad ke-19 dan setelahnya hingga tahun 2002… kemiskinan yang meliputi daerah sekitar Kuil Devadasi telah merubah segalanya, kebodohan menguasai, keserakahan mulai menggerogoti, dan terlumuri dengan dosa-dosa. Wanita-wanita Devadasi yang tadinya dipersembahkan dan mendedikasikan dirinya untuk ritual suci, kini berubah total menjadi wanita-wanita yang dipersembahkan untuk menjadi pekerja seksual. Dengan mengatasnamakan dogma, mereka dipersembahkan sejak usia 2-3 tahun dan kemudian menjelang remaja mulailah seperti pelelangan, siapa yang mampu menawar tertinggi, dia lah pria yang akan mendapatkan keperawanannya, setelah itu mereka pun menjadi pelacur di sekitar tempat itu.

Meskipun telah ada larangan dari pemerintah India, namun tak ayal kemiskinan pada akhirnya menjadikan tempat itu sebagai tempat prostitusi terselubung dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Demikian pula dengan Mitha yang kini kehilangan keceriannya karena harus melakukan hal yang sungguh sangat ia tak mengerti… jika boleh memilih mungkin ia sungguh tak ingin dilahirkan di tempat itu. Dengan segala rasa perih dan pedih ia harus merelakan kesuciannya terenggut oleh pria yang sama sekali tak dikenalnya dalam keadaan tak berdaya.

Kejadian itu pun menyadarkannya, jiwa berontaknya pun timbul, dengan segala kepintarannya ia akhirnya berhasil mengelabui para germo di tempat itu, ia senantiasa bermain dengan make up yang menjadikan wajahnya tak enak untuk dilihat, padahal jika dibandingkan dengan yang lainnya, Mitha lah yang tercantik di tempat itu. Kepintarannya menjadikannya pada akhirnya hanya sebagai tukang cuci pakaian bagi para wanita Devadasi… sambil berharap akan datang Dewa Penolong yang bisa membawanya dari tempat itu.

Menunggu… itulah yang terbaik yang dapat Mitha lakukan. Walau terkadang ia pun putus asa bahkan hingga meminta agar Yang Kuasa meluluhlantakkan saja tempat itu…

Sabar Mitha… dan tetaplah berdoa.

***

Juni 1999…

Kota New York Amerika Serikat…

“Berliburlah Dave… ambillah cuti, kekalutanmu malah akan mengacaukan rekan tim yang lain!” Bryan sedikit menegur sambil memberikan saran terbaik untuk stafnya Dave sambil menyodorkan formulir permohonan cuti untuk ditandatangani.

Tak pikir panjang Dave pun akhirnya menyerah dan mengisi formulir yang disodorkan oleh Brian tuk kemudian menandatanginya… 1 bulan ia ambil waktu untuk cuti… berlibur.

Selesai menandatangani formulir cuti, Dave kembali ke meja kerjanya, kemudian jarinya mengetikkan beberapa kata pada mesin pencari google yaitu “kama sutera dan India”… liburan yang ternyata malah menginspirasi daya seksualnya.

Muncullah indeks google mengenai kamasutera dan India… halaman 1, 2, 3 hingga halaman 10 terlampaui hingga akhirnya di halaman ke-11… Dave menemukan sebuah halaman web yang terindeks dengan kata yang membuat matanya sedikit penasaran yaitu“Prostitutes of God in Devadasi Temple India”. Rasa penasaran mendorong Dave untuk mengklik link tersebut dan muncullah artikel mengenai Kuil Devadasi dan pelacuran terselubung yang menjual keperawanan gadis-gadis di sekitar kuil itu.

Dave segera meraih gagang telepon di sampingnya… menekan beberapa tombol… dan…“Ya… tolong saya pesan tiket ke India… ya Benar untuk besok… ok terima kasih”.

***

Pesawat American Airlines akhirnya mendaratkan Dave di New Delhi… turun dari pesawat selain kelelahan, kebingungan pun melanda pikiran Dave… baru kali ini ia menjejakkan kakinya di India… setelah berjalan tak jauh dari pintu kedatangan, Dave akhirnya memanggil sebuah taksi dan lalu bertanya apakah si sopir mengerti bahasa Inggris atau tidak… si sopir mengangguk tanda mengerti, dan Dave pun berkata… “Tolong bawa saya ke Karnataka India Selatan ke kuil Devadasi okay… soal ongkos saya bayar berapapun”

Perjalanan selama sehari semalam dengan taksi benar-benar tak terasakan oleh Dave karena selama perjalanan ia tertidur di sebelah sopir taksi. Setelah menyerahkan beberapa ratus Dollar, ia pun turun di depan sebuah penginapan yang terbaik di tempat itu walaupun kurang memuaskan. Setelah membersihkan diri, Dave turun ke lobby dan melihat seorang penjual kare di depan penginapan. Dave memesan seporsi Kare dan akhirnya bertanya-tanya kepada pedagang kare itu…

Setelah puas makan danberbicara dengan pedagang Kare, Dave mendapatkan rujukan 3 tempat di mana ia bisa menjumpai wanita-wanita Dewadasi seperti yang pernah di bacanya di internet, namun pedagang Kare itu pun memberikan saran agar jangan sembarangan melakukan aktivitas seksual karena banyak penyakit menular dari hubungan seks di daerah itu termasuk AIDS.

Dave akhirnya berjalan kaki sambil terus bertanya kepada setiap orang yang dijumpai hingga ia tak menyadari beberapa pasang mata terus mengikutinya dari jarak tertentu…

Tiba di tempat pertama dekat bangunan kuil Devadasi… Ke hadapan Dave tersajikan beberapa wanita termasuk yang masih gadis menurut seorang wanita yang menawarkan… namun Dave akhirnya mundur karena merasa tak sesuai…

Melangkah kembali ke tempat ke-2… mundur kembali karena kurang sreegg…

Dan akhirnya tempat ke-3 sekaligus tempat terakhir… hari sudah menjelang senja dan ternyata tidak cocok juga, namun kali ini ia agak lama berbincang dengan beberapa wanita yang menawarkan jasa koleksi gadis-gadisnya hingga akhirnya Dave merasa sangat ingin sekali buang air kecil… ia mengutarakan maksudnya dan diberitahu bahwa kamar mandi ada di ruang belakang. Dave menuju ruang belakang… membuka pintu kamar mandi namun ia tutup kembali karena tak tahan dengan bau yang diciumnya…

Dave melihat pintu belakang bangunan… “aaahhh ini saja ke belakang” Dave berseru dan membuka pintu belakang… ada halaman belakang… banyak jemuran baju dan kain menggantung berwarna-warni… Dave melangkah kembali dan di dekat tumpukan kayu ia pun segera membuka resleuting celananya… keadaan agak gelap karena lampu yang temaram…

Baru saja air seninya mengalir sedikit tiba-tiba… “Aiiihhhhhhh jangaaaannnn” terdengar teriakan kecil seorang wanita yang ternyata berada persis sedang duduk berjongkok menghadap ke tumpukan kayu… berteriak karena punggungnya terkena air seni Dave…

Sosok wanita itu kemudian berdiri dan mengengok ke hadapan Dave… kaget sekali Dave melihat wajah yang seram dari wanita itu… tiba-tiba setelah memukul dada Dave, wanita itu berlari… spontan saja Dave mengejarnya hingga keduanya akhirnya menabrak sebuah bak air dan tercemplung keduanya ke dalam bak air tersebut… Dave bangkit lalu tampak pula sosok wanita itu bangkit…

Dave menatap wanita itu dengan tatapan sedikit berbeda dan merasa aneh…  setelah terjerembab ke dalam air dan basah barulah tampak kecantikan wanita itu… “Bidadarikah kamu?” Dave bertanya perlahan…

Wanita itu tertunduk dengan wajah yang masih basah dan rambutnya yang panjang sepinggang basah oleh air… lalu segera menarik lengan Dave dan mengajak Dave ke sudut halaman di balik tumpukan kayu agar tak ada yang melihat mereka… “Aku Mitha…”dengan bahasa Inggris yang agak tertatih Mitha menjelaskan keadaan di daerah itu dan meminta Dave agar tak terlalu banyak mencari tahu ke orang lain karena akan di anggap relawan yang menentang sistem Devadasi dan sudah banyak relawan yang hilang begitu saja…

Dengan berusaha memahami perkataan Mitha dalam bahasa Inggris yang belepotan, Dave hanya mengangguk-angguk… tak lama Mitha pun menyuruh Dave kembali ke ruangan dan tak banyak bercerita kepada siapapun. Dave melangkah perlahan namun Mitha memanggil kembali…

“Tolong bawa aku keluar dari tempat ini sejauh mungkin… tolong” Mitha berseru pelan.

Dave terdiam… memandang sebentar… lalu membalikkan badannya melangkah kembali ke dalam ruangan… tak berapa lama di dalam ruangan utama… Dave keluar dan kembali ke tempatnya menginap… kembali beberapa pasang mata mengikuti Dave. 3 Sosok lelaki berkumis tebal berhenti beberapa meter dari tempat Dave menginap.

Di kamarnya Dave merenungi kata-kata Mitha tadi… dan selama hampir 2 minggu Dave tak berani keluar dari penginapan… hingga ia pun menyadari bahwa uang yang dibawanya hanya tinggal untuk ongkos kembali ke Amerika…

Hari terakhir Dave di penginapan… Sore hari… Dave mengemas hanya 2 stel pakaian saja dalam ranselnya sementara yang lain ia tinggalkan. Setelah membayar tagihan… Dave melangkah keluar dan menuju ke tempat di mana ia bertemu dengan Mitha…

Masuk ke tempat Mitha berada… tampak banyak kesibukan dari para wanita di Situ sementara para penjaga berjaga di luar ruangan… Dave celingukan dan setelah dirasa tak ada yang memperhatikan… Dave melangkah perlahan menuju ruang belakang… lalu membuka pintu belakang… sesosok wanita berambut panjang dengan wajah agak hitam seram tampak sedang menarik kain-kain yang di jemur…

Dave tertawa… “hehehe pintar sekali kau menyembunyikan wajah cantikmu Mitha hehehe” masih sambil tertawa Dave segera meraih pergelangan tangan kanan Mitha dan berkata…“Ayo ikut aku ke Amerika Mitha, di sini bukan tempat untuk wanita cantik sepertimu… aku punya tempat yang pantas untuk bidadari secantik kamu… ayoo!!!” Dave meminta Mitha agar ikut dengannya…

Sosok Dave dan Mitha yang berjalan di antara kerumunan di ruangan akhirnya menyita perhatian penjaga pintu… namun dengan sigap Dave mendorong para penjaga dengan menghantamkan ranselnya ke muka para penjaga pintu itu… tak siap dengan hantaman itu para penjaga pintu pun terjerembab… “Lari ayoo Mitha kita lari” Dave dan Mitha pun berlari… di belakangnya para penjaga yang sudah bangun pun berusaha mengejar… para penjaga yang selama ini rupanya sempat mengikuti kemana Dave berkeliling daerah itu…

Beruntunglah tak lama Dave melihat taksi yang melaju… segera ia menyetopnya… memasukkan Mitha ke bangku belakang… Dave segera menyusul masuk ke bangku depan di samping sopir dan meminta kepada sopir agar segera tancap gas menuju Delhi… aman…

“Tolong bawa kami ke kedutaan Amerika Serikat di New Delhi!” Dave berseru kepada sopir taksi yang dengan sigap menganggukkan kepalanya… lalu memacu mobilnya menuju Delhi…

***

Tertahan beberapa waktu di kedutaan dan setelah menceritakan semuanya kepada pihak kedutaan dan juga atas bantuan dari Atasannya Bryan di New York yang memiliki koneksi kuat di parlemen Amerika, Dave akhirnya bisa kembali ke New York dengan membawa bidadari Cantiknya Mitha…

***

Di sebuah rumah yang menghadap ke danau di Central Park, New York…

Di tepian danau tampak seorang Wanita yang ternyata Mitha sedang memakai make up agar wajahnya terlihat seram dan jelek…. tiba tiba Dave menghapiri membawa sebungkus tissue basah… Dave pun duduk di samping Mitha… meraih alat-alat make up Mitha lalu melemparkannya ke danau, lalu dengan tissue basah ia membersihkan wajah Mitha perlahan dan lembut hingga….

“Ayo ke kamar Mitha!” Dave memegang lengan Mitha… mengajaknya ke dalam kamar… dan mendudukkan Mitha di depan sebuah cermin besar… “Lihat dirimu Mitha!”…

Mitha memandang gambar dirinya di cermin besar itu dan… senyumnya memang seperti bidadari.

***

Akhirnya pada 2003, setelah banyak desakan dari berbagai pihak… kegiatan-kegiatan seksual terselubung yang mengatasnamakan dogma di kuil Devadesi dan daerah sekitar kuil pun dihapuskan oleh pemerintah India.

~000OOO000~

 

Ilustrasi dari deviantart.net

~Hsu Numpang ngepost di Akun istri karena akun pribadi lupa pasword~

Facebook Comments

About dara jabar

2 comments

  1. akhirnya yang ditunggu tunggu hadir juga..
    Selamat datang kembali mbak Dara
    Senang sekali bisa membaca artikel anda https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif