Home » FIKSI » Cerpen » Doa dalam Hitam

Doa dalam Hitam

13612146141661199555

Bu Septi yang sedang menjemur pakaian sangat terkejut mendengar suara teriakan yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri dan ia langsung menjerit-jerit histeris berucap kata ‘tolong…tolong’ ketika menyaksikan Shinta Keluar dari dalam rumahnya dalam keadaan terbakar  pakaiannya sambil memegangi lehernya yang bersimbah darah.

Teriakan Bu Septi rupanya terdengar hingga ke beberapa rumah di Blok perumahan itu. Begitu keluar dan melihat Shinta dalam keadaan terbakar dan tergorok lehernya, kontan para penghuni blok perumahan itu pun histeris. Sopir Bu Septi yang kebetulan sedang mencuci mobil segera menarik selang air dan menyiramkannya ke tubuh Shinta yang dalam keadaan terbakar pakaiannya. Siraman air dari selang itu membuat api yang membakar pakaian yang dikenakan Shinta padam dalam beberapa saat.

Dalam keadaan tragis seperti itu Lengan Shinta menunjuk ke dalam rumah. Melihat itu, Sopir Bu Septi segera masuk ke dalam rumah dan begitu tiba di dapur, pria itu melihat pisau dapur yang berlumuran darah, jerigen berisi sisa bensin, dan melihat ke bagian atap dapur rumah itu yang telah rusak di jebol.

Bu Septi dan Sopirnya serta beberapa tetangga segera membawa Shinta ke Rumah Sakit terdekat dengan menggunakan mobil yang belum selesai dicuci. Namun… nyawa Shinta tak tertolong. Shinta meninggal secara tragis.

Dari hasil autopsi yang dilakukan oleh penyidik kepolisian setempat, ditemukan bercak sperma pada kemaluan Shinta. Sungguh Malang Nasib Shinta, Gadis berusia 15 tahun itu menjadi korban perkosaan dan juga pembunuhan.

***

“Pak Soni dan Bu Rina, Motif dari kasus yang menimpa dan merenggut nyawa Anak Bapak dan Ibu adalah dendam. Berdasarkan pengakuan pelaku target sebenarnya adalah Pak Soni, karena Pak Soni pernah memukul pelaku saat pelaku kepergok oleh Bapak saat berhubungan intim dengan istri Bapak, Bu Rina”. Penyidik menjelaskan motif perkara kepada orang tua korban.

Penyidik kemudian meminta Soni agar memberikan waktu untuk sesi pertanyaan kepada Rina…

“Apa Alasan Ibu hingga melakukan perselingkuhan dengan lelaki yang kini terbukti melakukan pembunuhan terhadap anak Ibu, Shinta?” penyidik bertanya sambil mengernyitkan dahinya kepada Rina, Ibu dari Shinta.

“Saya… saya…” tampak ragu Rina sambil sesekali melihat ke arah sosok suaminya yang duduk tak jauh darinya.

“Jawab yang benar Bu, dan jangan ragu!” penyidik menimpali keraguan Rina

“Saya tidak puas secara seksual dengan suami saya Pak!” perlahan terucap dari bibir Rina dengan muka tertunduk.

“Kamu mau berapa kali dalam semalam pun selama ini saya layani, bagaimana bisa berkata tidak puas?” dengan sangat berang, Soni suami Rina menimpali pengakuan Rina, dan ketika tangan kekarnya hendak mendaratkan tamparan ke arah wajah Rina, penyidik segera berdiri dan menahan gerakan tangan Soni yang akan menampar Rina.

“Sudah… sudah Pak Soni jangan emosi Pak, penyidikan sedang berlangsung, Bapak serahkan dan percayakanlah pada kami pihak berwenang!” Penyidik menenangkan Soni dan memintanya duduk kembali di tempatnya.

“Bagaimana mau tenang dan tidak emosi Pak, ini sudah yang ke-9 kali dan pernah pula saya pergoki sedang melakukan hubungan seksual dengan beberapa orang pria di dalam rumah… aarrrrrgggghhhhh Tuhan apa salah Puteriku dan mengapa bukan wanita jalang ini yang mati!” Soni geram dan sedikit menjambak rambutnya dengan lengannya sendiri.

“Sudah… sudah Pak, kami pihak penyidik mengerti apa yang Bapak rasakan” Polisi lainnya yang berada di ruangan itu ikut menenangkan Soni.

Rina tetap tertunduk… di atas telapak kakinya ada beberapa tetes air bening… ia tertunduk dan menangis…

***

Tiga Bulan setelah kejadian yang merenggut nyawa Shinta…

Rumah Soni dan Rina tampak sepi, tak ada lagi suara Shinta yang biasanya sering bernyanyi dengan gitar kesayangan hadiah ulang tahun ke-12 dari ayahnya, Soni.

Di dalam kamar tampak terduduk seorang wanita yang terlihat sangat kurus, dengan rambut terurai dan mengenakan gaun tidur warna hitam. Terduduk dan tertunduk, tanpa suara, menatapi jari-jari kaki yang sudah panjang kuku-kukunya.

Sesekali terdengar teriakan kecil dari bibirnya, disusul dengan suara desahan, tiba-tiba menjerit-jerit dan berakhir dengan sebuah tangisan terisak yang sangat pilu.

Hari-hari yang kini di lalui Rina dalam kesunyian, penyesalan, serta tangisan. Hitam sehitam gaun tidurnya yang kadang tak digantinya hingga berhari-hari.

Hari-hari yang penuh dengan bayangan kejadian-kejadian yang selama ini memang tersimpan dalam hatinya tanpa pernah memberitahu suaminya sekalipun.

Bayangan hitam yang begitu kelam dan semakin kelam ketika Shinta, putrinya terenggut akibat ulahnya. Sungguh beruntung, Rina tak terjerat hukum atas apa yang terjadi terhadap diri Shinta, puterinya.

Bayangan masa lalu… masa remaja Rina yang menghitamkan hati, pikiran dan kehidupannya. Yang tetap tersimpan dalam hatinya…

“Diam kamu!!! Ikuti saja dan diam, karena Ayah akan memberikan keindahan padamu Rina”. Jeritan Rina akhirnya padam dalam keperkasaan ke dua lengan Ayahnya.

Sakit dirasakan Rina saat itu dalam gelapnya malam dan di bawah deru nafas Ayah kandungnya. Rasa panas dan perih yang kemudian berganti dengan desah deru nafasnya hingga merasakan rasa yang luar biasa yang hadir mengaliri seluruh pori-pori dan persendian… Sebuah rasa yang akhirnya merasuk dan meracuni tubuh Rina. Rasa yang menyandu.

Berulang… berulang… semakin menggila dan bahkan dengan kakak kandung laki-lakinya sendiri… dengan adiknya… beramai-ramai dan bahkan tergilir oleh beberapa teman hingga orang-orang yang dijumpainya di beberapa tempat.

Menggila… Rina menjelma menjadi seorang ‘Nymphomaniac’***. Racun pertama kegilaan dari Ayah Kandungnya sendiri yang akhirnya terus tertanam dan meracuni.

Sempat menghilang ketika tersapa oleh kelembutan dan keperkasaan Soni. Namun, kesibukan Soni dalam bekerja membangkitkan rasa sepi Rina, hingga racun yang telah sekian lama ia kubur jauh menyebar kembali.

Kegilaan yang datang kembali. Hasrat yang menghitam kembali… hingga akhirnya berakhir oleh Merahnya pengorbanan Shinta, Puterinya.

***

 

“Maafkan Ibu Nak… Maafkan aku Soni. Sesungguhnya diriku yang hina ini sangat menyayangi kalian” Sebuah kata terucap dari bibir yang beberapa waktu ini. Bibir yang sepeninggal Shinta selalu teraliri oleh air bening dari mata Rina.

“Ya Tuhan, Ampunilah Dosa-dosa hambaMU yang sangat hitam ini, diri ini ikhlas jika Engkau merenggut nafasku dengan cara yang bagaimanapun ya Tuhanku… Ampuni hambaMU ini” Rina bersimpuh dalam hening kamar itu memohon ampunan.

~000OOO000~

 

Ilustrasi bmwoman by: devianart.net

Berdasarkan Kisah Nyata seorang wanita yang memiliki kecanduan seksual (Nymphomaniac)

***Nymphomaniac: istilah yang digunakan untuk menyebut wanita yang menderita kecanduan seks

 

~Hsu~ Posting via Dara Jabar Account

Facebook Comments

About dara jabar

One comment

  1. komenku cuma https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif