Home » FIKSI » Cerpen » Enam Sembilan

Enam Sembilan

black_rose_by_cynthi_dm

Enam September Sembilan Belas Enam Sembilan …

Di tengah kerumunan dalam kamar ke dua orang tuanya yang tertembak … gadis kecil berambut panjang tampak memeluk boneka beruangnya … matanya tajam menatap ke arah dua polisi pria dan seorang polisi wanita … tatapannya beradu dengan polisi wanita yang ditatapnya … polisi wanita itu menghampiri dan menuntunnya ke luar … menaikkannya ke mobil kemudian menurunkan gadis kecil itu di depan sebuah dojo tempat latihan kendo.

Gadis kecil itu berdiri di depan dojo sambil tetap memeluk boneka beruangnya dan menatap langsung ke arah mobil yang telah menjauh.

***

Jam enam lewat sembilan menit pagi ketika Shania menyibak gordyn-gordyn dojo tempat ia tinggal setelah gurunya wafat dan ia menjadi instruktur kendo di tempat itu. Pagi itu ia telah tampak mengenakan seragam hitamnya bersiap akan latihan pagi … sebelum latihan … matanya menatap ke meja-meja berpayung di trotoar tempat orang-orang sarapan dan makan … pandangannya menyapu setiap meja sampai ke sebuah meja di mana seorang pria muda tampak asik membaca sesuatu …

Shania memegang liontin berliannya dan mengarahkan pantulan cahaya matahari pada liontinnya hingga kilatan pantulannya mengganggu mata pria tampan yang sedang membaca … begitu pria itu terganggu pandangannya … Shania pun berhenti sebentar … dan begitu pria itu membaca kembali … diulanginya keisengannya sambil tertawa kecil … sampai ke tiga kalinya dan pria itu sadar Shania yang melakukannya dari balik kaca jendela … pria itu pun melangkah ke arah bangunan dojo … Shania segera saja ke tengah ruang duduk bersila dan mengambil posisi meditasi … begitu masuk ke dojo dan mendapatkan Shania dalam keadaan meditasi … pria itu tersenyum dan melangkah kembali keluar.Setelahnya Shania pun tertawa kecil kembali.

Esok paginya … jam enam lewat sembilan menit … Shania kembali melakukan keisengannya kepada pria tampan yang sudah dua hari membaca di meja-meja depan dojonya. Hingga pagi ke tiga akhirnya si pria pun nekat masuk dan begitu mendapatkan Shania yang berpura-pura serius bermeditasi … Pria itu pun duduk bersila di depan Shania dan memasang muka jelek beraneka pose sampai akhirnya Shania tak dapat menahan tawanya dan tertawalah mereka berdua

Mereka akhirnya saling berkenalan … ngobrol panjang … Mike nama pria itu …

Setelah Mike pamit … Shania memungut sebuah berkas di lantai yang rupanya tertinggal oleh Mike …

“Arsip kasus pembunuhan Enam September Sembilan Belas Enam Sembilan” demikian tulisan pada bagian depan arsip itu. Shania berdiri di samping jendela … menatap keluar … kemudian membaca arsip itu … ia menangis … arsip pembunuhan ke dua orang tuanya.

Belum lagi Shania selesai membaca arsip itu … pintu dojo terbuka … rupanya Mike kembali …

“Apa sebenarnya yang sedang kamu kerjakan Mike?” Shania bertanya sambil menyodorkan arsip Mike yang tertinggal.

Shania akhirnya tahu bahwa Mike adalah seorang polisi dan Mike pun bercerita bahwa ia sedang menyelidiki kasus penganiayaan terhadap dua orang polisi senior yang putus kedua kaki dan tangannya oleh sabetan pedang yang sepertinya pedang samurai serta di beri tatto berbentuk huruf enam sembilan pada wajahnya. Mendengar itu shania hanya diam sambil menatap ke arah meja-meja di depan dojonya.

***

Enam puluh sembilan hari kemudian …

Handphone Mike berbunyi ketika ia sedang patroli … Terdengar suara atasannya namun tiba-tiba telepon terputus … Mike dengan sigap memutar kemudi hingga membuat suara denyitan keras sekali pada ban yang beradu dengan aspal dan mengeluarkan asap putih … Mike memacu mobil patroli sekencang-kencangnya menuju apartemen atasannya .

Mike mengendap-endap sigap dengan senjata tergenggam oleh kedua telapak tangan … tiba di lantai enam berlari cepat menyusuri lorong sampai di depan pintu kamar nomor Enam Sembilan … dengan seluruh energi di kakinya … Mike menendang pintu sampai jebol pengunci besinya dan …

Sesosok wanita berpakaian seperti ninja tanpa mengenakan tutup kepala siap menghujamkan pedangnya ke arah dada wanita berumur sekitar 40 tahun yang telah putus kaki dan tangan serta pada wajahnya sudah di tatto dengan besi panas berhurufkan enam sembilan …

“Stooppp Shania … jangan lakukan … atau kutembak kau!” Mike meminta Shania untuk tidak melanjutkan tindakannya.

“Diam kau Mike … kau tak tahu dan tak mengerti bagaimana rasanya menyaksikan kedua orang tuamu di bunuh di hadapanmu sendiri!” Shania balas berteriak sambil tetap menghunus pedangnya yang siap menghujam.

Mike terus mengajak Shania berbicara sambil berharap Shania akan lengah dan begitu kelengahan itu ada hanya sekitar enam hinga sembilan detik … Mike menubruk tubuh Shania sampai keduanya jatuh … Shania menangis … Mike memeluknya dan menenangkan Shania …

“Tenanglah Shania … aku tahu perasaaanmu … aku mengerti ketidakterimaanmu akan kematian orang tuamu … namun apakah harus seperti ini caranya Shania … tenanglah … tenang … seperti saat kau bermeditasi dan sanggup bertahan selama enam menit sampai sembilan menit sampai kau tersenyum … tenanglah.” Mike memeluk Shania yang akhirnya menangis sejadinya dalam pelukannya.

Setelah Shania tenang dan terduduk di sudut ruangan sambil menundukkan kepalanya dan sesenggukan … Mike segera menelepon unit ambulan juga kepolisian tempat ia berdinas.

Selamatlah nyawa atasannya meskipun cacat dan memiliki tanda enam sembilan di wajahnya. Mike membantu Shania arah dan membawanya ke kantor polisi.

***

Arsip pembunuhan Enam Sembilan Sembilan Belas Enam Sembilan akhirnya terungkap … pembunuhan yang di lakukan oleh tiga orang anggota polisi karena mengincar tujuh puluh butir berlian milik orang tua Shania … tiga orang polisi senior yang salah satunya ternyata adalah polisi wanita atasan Mike. Ke tiga orang polisi itu akhirnya dihukum seumur hidup.Sementara Shania sendiri pun terjerat kasus penganiayaan dan akhirnya di hukum selama enam tahun sembilan bulan.

Setelah konferensi … beberapa kali Mike senantiasa mengunjungi Shania … membawakannnya makanan dan juga serangkai bunga untuk Shania. Mike tak memungkiri jika ia menyukai Shania.

Satu hari ketika Mike berkunjung …

“Mike kita bertemu nanti saja lagi setelah aku bebas … biarkanlah aku merasakan apa artinya kerinduan Mike … namun berjanjilah padaku kau akan ada di meja depan dojoku dan tolong rawat dojoku dengan baik ya dan … ini yang terpenting … buka boneka beruangku … di dalamnya ada tujuh puluh butir berlian milik ayahku … tolong yang enam puluh sembilan butir kau serahkan kepada pemerintah untuk di lelang dan uangnya di sumbangkan untuk anak-anak di dunia yang tak memiliki orang tua … kecuali berlian berbentuk hati yang merupakan liontinku. “ Meskipun berat hati Mike pun menuruti permintaan Shania.

***

Enam tahun Sembilan bulan telah berlalu …

Hampir enam puluh sembilan hari akan berlalu dan seharusnya Shania telah bebas … Namun Mike yang selalu membaca buku ditemani segelas kopi belum juga melihat Shania … Seperti halnya pagi itu di hari ke enam puluh sembilan … ia pun tak mau larut bersedih … melanjutkan kembali bacaannya … membalik ke lembar berikutnya … halaman enam puluh sembilan … ahhh silau sekali … Mike terdiam … segera bangkit menuju pintu dojo …

Sesosok wanita mengenakan gaun panjang duduk bersila … Mike melangkah dan duduk di hadapannya … bersiap akan memasang muka sejelek-jeleknya … “Aaaggghhh” Mike terpental karena di dorong dan “hihihi dasar kamu jelek Mike hihihi” Shania tertawa geli …

Mike terdiam dalam posisi jatuhnya … menatap seakan tak percaya melihat Shania mengenakan gaun hitam panjang dengan rambut terurai … “Cantik sekali …” mike berucap dalam hati.

Ruangan menjadi hening … mereka saling bertatapan … sebuah kalender harian di sudut ruang menunjukkan tanggal Enam September … dan Jam dinding pada posisi Enam lewat Sembilan … ketika dua bibir beradu dengan tangan saling memeluk erat.

***

I will wait for you until i have no more reason to wait anymore (nn).

~ 000OOO000 ~

Just My Imagination

Ilustrasi “Black Rose” by Cynthi_dm, dari deviantart.com

~ Hsu / A.H ~

Facebook Comments

About Adam Heins

One comment

  1. dan tulisan ini sudah dibaca Enam puluh Sembilan kali :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif