Home » FIKSI » Cerpen » KADO MANIS DI HARI ULANG TAHUN ICA

KADO MANIS DI HARI ULANG TAHUN ICA

info.liputan-berita.com

info.liputan-berita.com

Kulirik jam di dinding kamarku. Pukul 21.05. Huff …sudah pukul sembilan malam.Hingga detik inipun dia belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Padahal sudah terlalu banyak sms dan telepon yang masuk ke hpku. Tapi bukan dari dia. Padahal aku berharap sekali telepon darinya minimal dia mengirimiku sms.

Tiba-tiba ringtone sms di hp ku berbunyi menendakan ada sms masuk. Segera kuraih hp yang berada dimeja belajarku. mungkin dari dia, batinku

Kubuka inbox dalam hpku. SMA_Tiara. oh ternyata dari Tiara, teman SMAku.

<Date>

06/02/2009

21:10:25

Happy bday to U, Honey ……

Moga tercapai semua cita2 lo y

Sukses buat lo…

<From>

SMA_Tiara.

Sedikit kecewa, tapi bersyukur karena Tiara, teman SMAku masih teringat akan hari ulang tahunku walaupun kami sudah tidak bertemu selama tiga tahun. Segera ku ketik balasan untuk Tiara.

Ok. Thanks y, ra.

Mksih masi ingt.

Kutekan send and ok.

Hmm…kemana dia? Terlalu banyak tanda tanya memenuhi benakku. Masa iya dia lupa pada hari istimewaku. Hari dimana aku menginjak usia usia 20 tahun. Hari ini pun dia tidak nongol di depan kosanku seperti kebiasaannya hampir 5 bulan ini. Ah dia, yang tak selalu kumengerti akan sikapnya. Entahlah sosok yang selalu membuatku tersenyum melihat semua tingkahnya dan perhatiannya padaku. Sosok yang membuat wajahku bersemu merah dan hati berbunga-bunga bila bertemu.

*****

Ku tersenyum mengingat perkenalanku dengannya.

Hari itu. Semenjak beberapa bulan terakhir aku yang barusan menajadi pengurus di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas – BEM-F- disibukkan oleh kegiatan yang akan diselenggarakan. Berbagai perlombaan akan diadakan. Salah satunya lomba futsal untuk mahasiswa. Terdapat beberapa jurusan dari berbagai fakultas yang mendaftar hingga hari itu merupakan hari penutupan pendaftaran.

Setelah kuliah, kulangkahkan kaki menuju sekretariat dengan maksud menemui Alfia, temanku yang bertugas disekretariat hari itu. Hingga terdengar keributan sedikit.

”Ya ampun, mbak. Saya ini anak Teknik”  kudengar suara seorang cowok dengan nada kesal.

”Ya saya nggak tahu, kalo kamu nggak bawa bukti KTM.” suara Alfia, temanku yang pada saat itu bertugas menjaga meja registrasi.

Kudekati mereka dan kulihat Alfia sedang berhadapan dengan dua cowok yang kutaksir umurnya seusia kami.

”Ngapa, Fi?” tanyaku pada cewek manis berambut panjang tersebut.

”Ni lo, Ca. Mau daftar futsal nggak menyertakan KTM.” jawab Alfia dengan mimik yang amat kesal.

”Nggak gitu mbak, cuma punya saya kok yang nggak bawa. Kebetulan KTM saya ketinggalan dan rumah saya jauh dari sini.” cecarnya sebelum aku bertanya padanya. Kuperhatikan cowok itu. Tinggi, berkulit coklat, berambut cepak dengan wajah yang lumayan.

”Anda salah satu yang mau ikut juga?” tanyaku.

Dia mengangguk. ”Kalo mbak nggak percaya, tanya dia?” jawabnya sambil menunjuk rekan yang berada di sebelahnya.

Kulirik cowok disebelahnya. Cowok ini terlihat lebih lembut, smart dan berkacamata. Namun, tingginya tak berbeda jauh dari rekannya.

”Iya, saya satu jurusan dengannya. Kebetulan kami yang disuruh mendaftar. Tapi Arya nggak bawa KTM” jelasnya. oh, cowok menyebalkan ini namanya Arya.

”Ya iyalah Ca, dia temennya makanya dibela. Siapa tahu dia bukan anak teknik” celetuk Alfia dongkol.

”Ya nggak segitunya mbak. Kami ini memang anak teknik.” balasnya sengit. Sepertinya cowok ini mulai kesal dengan sikap Alfia yang tetap enggan diajak kompromi.

”Iya masalahnya kan anda tahu syarat mendaftar menyertakan KTM. Itu sebagai bukti anda masih mahasiswa jurusan tersebut, anda lihat kan di brosurnya?” ucapku dengan nada hati- hati.

”Saya tahu, mbak.” katanya. ”Tapi kalo KTM saya ketinggalan gimana?” lanjutnya ngotot.

”Masa’ gara-gara gini aja tim kami nggak bisa maen, mbak!” sahut si kacamata.

”Ya udah deh, gue ambil di rumah. Tapi lo mau nungguin gue sampe sore.” Tantangnya. Nah udah pake elo-gue dia.

Aku melirik Alfia. “Sorry Ca, ini udah jam tiga. Kita kan tutup pendaftaran hari ini. Besok udah TM.” ujar Alfia menyadari arti lirikanku padanya.

Aku melirik jam tangan. Pukul 14.56. hmm… iya juga udah jam segini.

”Jam berapa kamu bisa nyampe sini?” tanyaku pada Arya.

”Secepatnya jam 4, gimana? cuma punya gue kan yang nggak ada.” katanya dengan menyerahkan berkas anggota timnya yang lain.

”Ya udah, gue yang nunggu.”  Jadi ikut- ikutan gue-lo kan.

Kutatap Alfia.”Masukin aja namanya ke pendaftaran Fi. Ntar berkas pendaftaran gue aja yang bawa.” kataku padanya.

”Ya udah, gue pergi dulu. yuk Sam!” katanya sambil mengajak temannya –yang baru kutahu namanya Sam- pergi meninggalkan sekret kami.

”Trus lo gimana Ca, sendirian disini. Gue mau balik takut kemaleman nyampe rumah” ujar Alfia setelah keduanya pergi.

Aku tersenyum kecut. “Ya nggak papa, entar juga ada Hendra, Anang yang laen kan.” jawabku. Padahal kemungkinan mereka kembali ke sekret kecil, karena mereka langsung pulang setelah mencari peralatan guna perlombaan besok.

”Ya udah, gue tungguin lo dulu sampe jam setengah empat ya.” kata Alfia padaku. Aku mengangguk. Kami pun disibukkan dengan berkas-berkas pendaftaran peserta lomba. Tak lama setengah jam kemudian, Alfia pulang. Dan tinggallah aku sendirian di sekret.

Hah, sendirian di sekret. Baru kali ini deh. Kulihat sekret lain di sebelah sekretku. Di kampusku, disediakan satu gedung yang ditempati 5 organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas. Kudengar beberapa orang bercakap- cakap. Uff…. masih ada orang, pikirku.

Kuraih novel ditasku. Lebih baek baca novel aja ah. Dan tak lama akupun larut dalam kisah yang terjadi.

Oahmmmmmm…..

Akhirnya selesai juga novel ini. Kulirik jam tangan. Pukul 17.05

Hah, aku terlonjak  kaget sudah jam lima dan manusia menyebalkan itu belum nongol. Tak lagi kudengar suara orang bercakap-cakap. Duh, jangan-jangan udah pada pulang lagi batinku.

Kulihat pintu- pintu sekret lain sudah tutup. Nah lo, gimana ini.

Aku bingung. Harus pulang atau menunggu. Akhirnya kuputuskan menunggunya 10 menit lagi. Tak lama…

”Sorry, sorry macet banget.” tiba- tiba cowok yang bernama Arya tiba di pintu sekretku dengan wajah kelelahan. Walaupun masih kesal tapi aku mencoba tersenyum.

”Nggak papa, mana?” tanyaku padanya. Dia pun menyerahkan KTMnya.

”Gue pikir lo dah pergi.” katanya lagi.

“Gue kan dah janji”

”Lo sendirian nungguin gue?” tanyanya. Aku hanya diam. Dan bergegas memasukan KTM nya di berkas pendaftaran dan segera pulang, pikirku.

“Rumah lo dimana?” ternyata Arya masih menungguku ketika aku mengunci pintu.

“Gue kost di daerah kopi” jawabku dengan menyebutkan salah daerah perkampungan mahasiswa di sekitar kampusku.

“Ya udah gue anterin yah!” ajaknya. Aku diam. Bisa dipercaya nggak ya ni orang, pikirku.

”Nggak deh, thanks kok. Gue naek angkot aja.” jawabku sambil bergegas pergi meninggalkan dia. Namun, Tiba- tiba dia sudang didepanku.”Eh, nggak-nggak. Lo kira ini masih siang.”

“Gue  juga yang tanggung jawab. Tenang aja gue ni cowok baik- baik lagi” katanya menambahkan dan menarik tanganku untuk ikut dengannya.

”Dah naek aja,” ajaknya agar aku menaiki motornya. Walaupun dengan enggan aku pun terpaksa menerima ajakannya. Itupun karena kudengar suara azan dari kejauhan.

*****

Dari hal tesebutlah akhirnya aku pun dekat dengannya. Kukenal ia dengan nama Arya Hendra Wiguna. Mahasiswa Teknik Sipil semester enam yang berarti dia satu angkatan denganku. Selama pertandingan futsal, ketika timnya tidak bertanding dia akan mengajakku mengobrol. Banyak hal yang selalu menjadi topik kami.

Kupikir setelah usai semuanya usai pula pertemanaku dengannya. Tapi ternyata diakhir acara, dia meminta nomor hpku dan pada malam harinya dia mengirimkan sms pertamanya padaku. Sejak itu kami sering sms-an sekadar say hello ataupun menceritakan kejadian yang dialami setiap hari, dia juga sering menelponku. Tak jarang diapun datang ke kosanku. Hingga akhirnya…

”Ca, lo jadian ya ma Arya?” tanya Laras, teman sebelah kamar kostku tiba-tiba ketika dia sedang bertandang dikamarku.

”Nggak ah, kata siapa?” tanyaku balik padanya.

”Ya elah Ca, lo tu jalan mulu ma Arya.” ujar Laras.

“Nggak ah, saat ini gue cuma anggep dia sahabat kok.”

Aku tersenyum. “Soulmate, soulmate,”

“Hati-hati lo, Ca. Ntar kalian saling suka lagi.”

”Nggak tau ya dianya, kan gue cantik!” kataku sambil tertawa.

Laras tergelak sambil melempar bantal kepadaku.”Narsis lo.”

Tak hanya Laras, beberapa sahabatku juga bertanya soal kedekatanku pada Arya. Tetapi aku bersikeras mengatakan Arya hanya sahabatku. Hingga akhirnya kuceritakan hal tersebut padanya.

”Ya, tau nggak kita digosipin pacaran?” kataku pada Arya pada suatu kesempatan ketika kami sedang makan di salah satu warung favoritnya.

”Masa’ sih?” tanyanya balik sambil asyik menikmati nasi gorengnya.

Aku mengangguk. ”Jadi gimana?”

”Biarin aja kali” jawabnya cuek. Dia tetap asyik dengan makanannya.

Dasar cowok nggak peka, omelku dalam hati.

*****

Entah bagaimana caranya gosipnya semakin santer hingga teman- teman satu jurusanku tahu. Tapi lagi-lagi Arya tetep cuek. Namun, aku yang gundah karena merasakan perasaan yang lain. Entah mengapa aku malah jadi bingung dengan perasaanku. Aku terkadang kalang kabut, kalau Arya tidak menelponku atau mengirimkanku sms. Tapi aku juga terlalu gengsi kalau akan menelpon dia duluan atau aku suka tersenyum sendiri mengingat kekonyolanku dan Arya kalau sedang makan bersama atau jalan berdua. Aku juga selalu kangen ngobrol dengan dia. Kangen hal- hal kecil yang sering kami perdebatkan atau ributkan. Hingga kangen untuk tertawa bersama. Apa mungkin aku yang menyukai dia.

*****

Hingga suatu hari ketika kami sedang berada di gunung dalam rangka mengikuti teman- teman dari MAPALA dalam kegiatan hari bumi. Kegiatan yang diadakan salah satu organisasi dikampus mengikutsertakan semua organisasi di kampus. Aku pun mau ikut serta sebagai perwakilan BEM-F.

Mendengar aku ikut, Arya pun tiba-tiba ikut serta mewakili jurusannya. Kegiatannya berlangsung seru hingga malam terakhir kami menginap. Ketika acara bebas dia mengajakku mengobrol di tempat terpisah dari kumpulan teman-teman. Menurutku tempatnya sangat indah karena dari tempat dimana aku dan Arya duduk dapat melihat pemandangan desa kecil di malam hari.

”Nyesel kan kalo nggak ikut?”tanyaku tiba-tiba padanya yang sedang asyik memandangi langit malam.

”Nggak ah, biasa aja.” Tetep aja keras, nggak mau ngalah. Itulah Arya

”Ngaku aja,lo suka kan ngeliat pemandangan gini. Buktinya menikmati.” sahutku.

”Ihh, dibilang biasa aja juga,”

”Ngaku aja sih,” paksaku padanya sambil tertawa geli.

Tak kudengar suaranya menjawab pertanyaanku. Kulirik dia yang asyik merebahkan tubuhnya di rumput sambil tegak memandang langit.

”Ngapa? bagus ya bintangnya,” tanyaku kembali padanya sambil melihat ke bintang- bintang yang bersinar dilangit.

Dia tersenyum.”Dasar bawel,” katanya sambil bangun dan mengucek kepalaku.

Aku tersenyum dalam hati. Ingin deh selalu begini deh ribut sama Arya.

”Gue tuh udah sering kali naek gunung.” Jelasnya. “Nah kalo lo, belum pernah kan?”

”Nah trus ngapain mau ikut?” tanyaku. Dasar egois.

”Nah, kalo gue nggak ikut yang ngejagain anak bawel ini siapa?” katanya sambil tersenyum.

”Gue masih bisa jaga diri sendiri kok.” Sahutku.

“Yakin?” tanyanya mengejek.

“Yakin,” Jawabku mantap. Arya hanya tertawa dan lagi- lagi mengucek kepalaku.

“ Trus?” tanyaku.

“ Trus sekarang kita kumpul dengan yang laen. Besok pagi kan kita udah pulang.” katanya sambil menarik tanganku untuk bangkit dan mengikutinya kembali bergabung dengan teman- teman lainnya.

*****

Kejadian di perkemahan itu kuceritakan pada Laras dan menurutnya, Arya menyukaiku.

”Ih, lo kok nggak percaya ma gue,” Laras masih menyakinkanku kalo Arya menyukaiku.

“Masa sih,” tanyaku ragu. Masa iya Arya menyukaiku yang sangat jauh dari tipe dia

“Yakin deh, say.” Laras tersenyum.”Nah sekarang lo nya gimana?”

Aku tersenyum sambil mengendikkan bahu. ”Nggak tau,”

”Ih, cowok kayak gitu lo anggurin,” ”Dia tuh baek, ramah, perhatian lagi ma lo.” kata Laras.

”Kalo diperhatiin sih lo juga suka ma dia.” ungkap Laras yang membuatku terbengong ria.

Percakapanku dengan Laras membuatku berpikir. Apa iya dia menyukaiku. Semua perhatiannya selama ini kuanggap hanya sebagai seorang sahabat. Maklumlah dia tidak memiliki adik perempuan. Keluarganya cowok semuanya kecuali ibunya tentunya. Lagian dia juga baik kesemua teman-temannya..

*****

Namun setelah itu, kami tetap menjalani hari-hari kembali seperti biasa. Hingga kuhilangkan pikiran itu. Kupikir kalau  jodoh nggak kemana. Aku tetap berkomunikasi dengannya.

Hingga tiba di malam ini. Kupikir dia akan jadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun. Namun hingga hari ini akan berakhir dia belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

Hingga akhirnya aku tertidur dengan mimpi, merindukan ucapan selamat darinya.

Tak lama aku terjaga karena dering hp ku berbunyi. Kulihat pukul 23.30.

Kuraih hp yang tergelatk disamping temapt tidurku.

Arya  Calling..

Hah…mimpi apa ya ini. Kukucek kedua mataku. Mimpi nggak sih. Hingga akhirnya kutekan tombol ok.

”Hallo, Assalamualikum.” sapaku mengangkat telpon tersebut.

”Walaikumsalam.” jawab suara diseberang telpon. Upz… bener suara Arya.

”Dah bobo ya, Ca?“ tanyanya lagi.

”Iya,” kujawab pendek. Jaga image, Ica.

”Happy brithday ya, Ca,” katanya tiba- tiba. ”Moga tercapai semua cita- cita lo”

Aku tersenyum.”Kirain dah lupa lo,” sahutku jutek padanya. Tetep jaim, Ica.

“Ya nggak lah, Ca.”jawabnya sambil tertawa kecil.” Gue kan sibuk banget Ca hari ini.” Sesibuk apa sih sampe lupa ulang tahun gue dalam hatiku.

Aku diam.”Ngambek tah?” tanyanya lagi

”Nggak ah.” Duh bingung mau ngomong apa. ”Mana kadonya??.“ tanyaku mengalihkan pembicaraan dan perasaanku yang nggak keruan.

”Udah kan, dibawah tempat tidur lo. Liat aja,” suruhnya.

Dengan tak percaya, kuintip kolong ranjangku. Kulihat ada kotak kecil bersampul kado warna hijau. Segera, kuraih dan kubuka.

Sebuah jam tangan lucu berwarna silver. Eitz…tunggu dulu ini kan jam tangan yang kuinginkan minggu lalu di salah satu toko favoritku. koq Arya tahu….

Seingatku waktu itu aku jalan sama…

”Laras ya?” tiba- tiba terpikir nama itu.

Kudengar Arya terkekeh. ”Ya iyalah, lo pikir siapa yang masukin ke situ. Dengan resiko akan ketahuan dulu sebelum waktunya.”

“Thanks ya, Ya” Aku tersenyum. ”Trus ngapa baru sekarang ngucapinnya?” tanyaku kembali karena penasaran

”Gue cuma mau ini jadi hari ulang tahun yang terindah buat lo” jawab Arya. Kudengar nadanya serius.

”Maksudnya?”

”Ca, gue suka ma cewek. Cewek yang manja dan bawel yang sudah hampir selalu nemenin gue. Cewek yang rela nungguin gue waktu gue ambil KTM di rumah buat ikut lomba futsal.”

Aku terdiam. Maksud Arya adalah …

“Gue sayang ma lo Cahya Kirana!” lanjutnya. Kata-kata terakhirnya hampir membuatku pingsan. Namun, tetap ku tahan. Entah terlalu bercampur perasaanku. Akupun terisak.

“Ca, lo masih denger gue kan.” Tanyanya panik.

Aku tersenyum kecil. ”Masih Ya, tapi masa’ iya gue ditembak ditelepon.”

”Tenang aja, gue dah di depan gerbang kosan lo kok.” katanya sambil tertawa.

Hah…….kejutan apa lagi

Bergegas kuberlari ke pintu kosan depan. Dan kulihat Arya didepan pintu gerbang dan tertawa lebar. Dasarrr…….

”Nggak mungkin kan, gue masuk?” celetuknya. Padahal dia tahu peraturan dikosanku yang melarang tamu cowok setelah pukul 22.00

”Thanks banget ya,”  jawabku sekenanya

”Ya….. jadi jawabannya?”  aku berfikir sesaat

”Mau jadi cewek yang bawel, manja, suka nyusahin orang, nggak mau ngalah, iseng, jail.” sahutku padanya.

Kulihat dia mengacungkan jempol. ”Ok kalo gitu.”  dan tersenyum.

“Ok sayang, abang pulang dulu ya.” Pamitnya dengan tertawa ”Ntar ditangkep warga lagi.”masih sempat juga bercanda dia.

Aku mengangguk.” Hati- hati yah, thanks buat kado yang terindah” ujarku padanya.

Dia mengacungkan jempolnya kembali. ”Daa….sayang, bye mmmuuuaachhh.”

Kulihat dia menghidupkan mesin motornya dan melambaikan tangannya.

Kucubit pipiku setelah melihatnya pergi dikegelapan malam. Ah, ini bukan mimpi. Ini kado terindah yang pernah kudapat. Besok aku bisa bilang, ini pacarku…

 Bandar Lampung, Desember 2009

========================================================

PS. Taraaaaa…………………………. cerpen yang dibuat di tahun 2009. hihihi….. masih remaja banget yakkk!!!! belum pernah di post dimanapun. cuma dikirim ke majalah tapi nggak layak tayang sih. hehheehe…..

Facebook Comments

About Imas Siti Liawati

8 comments

  1. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gifIiiihhhh….. Sukaaaa……. Berasa jadi abege lagiiiiii….

  2. Wah, aku sampe hanyut bacanya. Tiba-tiba aja udah habis :mewek
    Nanti ada sambungannya nggak, mbak? Mau baca lagi :request

    • Imas Siti Liawati

      kan cerpen mbak…. *eh jadi kepikiran dibuat bersambung dehhh….
      makasihh ya mbak. :)

  3. Auda Zaschkya

    uhuyyyyyyyy… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif