Home » FIKSI » Cerita Keseharian Anak Kost (1)

Cerita Keseharian Anak Kost (1)

uncleyono.blogspot.com

uncleyono.blogspot.com

1. EPISODE TIKUS

“Hufft, akhirnya nemu kasur juga,” gumamku perlahan. Rasa lelah dan kantuk yang menyerangku sudah diambang batas sepertinya. Kegiatan mahasiswa yang berskala nasional yang diselenggarakan angkatanku mau tidak mau menguras habis energiku hampir sebulan menjelang acara. Apalagi seminggu terakhir mengacaukan jadwal kegiatanku sehari- hari. Untungnya kuliahku sedang dalam tahap minggu tenang jelang UAS. Tiga hari selama kegiatan berlangsung membuatku meninggalkan kosan tercinta. Hanya sesekali kembali untuk mengambil baju ganti saja. Kebetulan acara berlangsung di sebuah wisma. Jangan bayangkan akan tidur nyenyak? Tahukan jadi panitia acara? Sangat- sangat sibuk. Apalagi skala nasional! Sudah diwanti- wanti pak Rektor untuk membuat peserta senyaman mungkin, “Jangan bikin malu almamater,” pesannya.

“Ta, Sita. Udah pulang lo?” kudengar pintu kamarku diketuk. Duh ni bocah ganggu aja,nggak tahu orang ngantuk, gerutu dalam hati.
“Udah Fan,” sahutku cepat. Alih- alih membukakan pintu kamar,aku malah mengambil bantal untuk menutupi telinga.
“Udah siang, bangun napa!” serunya kencang.
“Ngantuk Fannn!” suaraku tak kalah kencang. Namun kulirik jam di dinding kamar. 7.15. Semalaman tidur belum cukup ternyata, mataku masih terasa berat.
“Nggak kuliah lo? Bangun napa?” masih tak menyerah rupanya ia. Dan kali ini ketukan di pintu sudah berubah menjadi gedoran.
“Ngggggaaaaaakkkkk Fannnn, udah ah gue mau tidurrrrr!” teriakku frustasi. Benar- benar ngantuk ini.
“Ada yang mau gue ka…..,”
“Faannniiii, berisik! Gue mau tiduuur!” potongku cepat. Dih ni anak nggak pergi- pergi dari pintu kamarku.
Ia tertawa kecil, “Ya udah, gue nggak tanggung jawab dah, ” sahutnya ringan. Tak lama kudengar langkah kaki menjauhi kamar.
Akhirnya aku bisa tidur lagi, batinku. Segera kupeluk guling kembali.

Cit, cit, cit,,
Samar kudengar suara. Terasa sangat dekat. Ah, gangguan apa lagi, gumamku dalam hati tanpa membuka mata.
Cit, cit, cit, cit, cit.
Namun kurasa suara tersebut semakin keras, benar-benar mengganggu.
Perlahan kubuka kedua mata. Kulirik jam di dinding, ah baru setengah jam tidur.
Cit, cit, cit, cit, cit,
Aku terkesiap. Segera mengambil posisi duduk, ini suara tikus. “Duh dimana ya?” Aku fobia terhadap binatang satu ini, menjijikan.
Kulirik pintu kamar mandi tertutup. Ku longokkan kepala kebawah tempat tidur juga tidak ada apa- apa. Lalu dimana?, pikirku.
Tiba- tiba mataku menangkap gerakan di ujung selimut yang tergeletak di pojok ranjang. Oh Tuhan,,,
Dengan pelan- pelan aku bangkit dari kasur.
Perlahan ku dekati ujung ranjang, menarik lembut ujung ranjang. Dan,
“Faaaaaaannnnnnniiiiiiiiii,”
Refleks akupun segera berlari mendekati pintu kamar. Segera kuputar kuncinya.
“Apaan sih teriak- teriak!” seru Fani yang sudah berada di depanku. Kami berhadapan berdiri di pintu kamar.
“Ittuuu,” tunjukku ke arah ranjang. Aku bergidik.
Ia memandang ke arah yang kutunjuk, tak lama tawanya yang terdengar.
“Kok lo ketawa?” tanyaku kesal.
“Itu yang mau gue bilang, ada tikus di kamar lo. Kemarin gue tahunya pas pinjem komputer. Tapi karena buru- buru belum sempet gue usir. Gue mau sms, lupa. Lagian mana gue tahu lo pulang tadi malam. Tadi pagi lo juga marah- marah,” ungkapnya santai.
“Hah! Berarti dari kemaren?”
Ia mengangguk.
“Jadi semalem gue tidur sama….”
Aku menatap horor Fani yang tersenyum- senyum menahan tawa.
(ISL)

Bandar Lampung, 2 Januari 2014

ps. Menjadi anak kosan memang harus dilakoni sebagian besar mahasiswa. Mau tidak mau, bukan! Selalu ada cerita menarik yang terjadi. Penulis mencoba membuatnya menjadi kumpulan cerpen! Bisa jadi pengalaman pribadi bisa juga pengalaman teman lain. So,, tunggu saja cerita selanjutnya. ;-)
Terinspirasi karena dalam perjalanan ke kota BandarLampung, tempat penulis menghabiskan hampir 7 tahunan menjadi anak kost. Berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa. :-D

Facebook Comments

About Imas Siti Liawati

One comment

  1. katedrarajawen

    sepertinya enak juga ya jadi anak kos? moga gak bosan aja :sungkem

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif