Home » FIKSI » Cerpen » Jatuh Cinta

Jatuh Cinta

gosipartisindonesia.com

 

Jatuh Cinta

Oleh Ewin Suherman

 

MUSIM hujan setahun lalu, Rosalia adalah perempuan yang paling membenciku. Secara terang-terangan dia tidak segan-segan menunjukkan kebenciannya terhadapku. Di jalan, di kantor, bahkan saat mengantre tiket bus trans Jakarta, Rosalia tak lupa memperlihatkan sikap antipatinya.

            “Lebih baik jalan kaki daripada satu kompartemen sama kamu!” semprotnya saat tahu nomor tiketnya berurutan dengan nomorku.

Aku hanya bisa nyengir. Didiamkan, tingkah nyelekitnya kian jadi. Tapi kalau ditanggapi, masa iya aku harus melawan perempuan? Lebih-lebih, tanpa banyak mikir, memang aku yang punya salah sama dia. Aku yang melaporkan kalau dia memiliki hubungan khusus dengan branch manager di kantor cabang Cakung. Aku yang mengadukannya karena itu sudah kewajibanku sebagai senior sebab dia telah melanggar aturan paling tegas di Nusantara Bank.

Setiap karyawan dilarang memiliki hubungan khusus!

Toh, sebelum aku mengadukannya, aku sudah menegur. Tapi Rosalia cuek. Dalihnya dia dan David tidak satu kantor. David pun demikian songongnya. Mengandalkan sang paman, dia malah menantang balik. Alih-alih dirinya yang bakal dipecat, dia sesumbar bakal membuatku sangat bersyukur hanya dilempar ke luar pulau Jawa!

“Besok-besok, kalau ketahuan lagi kamu lirik-lirikan sama Anita. Kamu bakal saya salib!” ancamnya galak. Satu jam setelah kabar dikeluarkannya David diberitahukan ke seluruh karyawan Nusantara Bank se-Indonesia.

Aku hanya tersenyum membalasnya. Tersenyum juga ketika dendam-dendam dibalaskan secara kecil-kecilan. Rosalia menyembunyikan kunci mobil inventaris sementara jam ketemu dengan calon nasabah hampir melampaui batas waktu yang kami janjikan. Dia menuang tinta ke dalam kopi pesananku. Dan paling ekstrem, dia menaruh paku-paku kecil di sepatuku saat aku melepasnya hendak sholat.

“Apa yang kamu rasakan itu enggak sebanding dengan apa yang saya rasakan!” teriaknya beralasan.

Aku tertegun. Apa hubungannya? Usut punya usut, ternyata dia dan David putus seminggu kemudian. Entah apa penyebabnya. Aku sendiri ingin tertawa jika tindakanku diambil sebagai penyebab putusnya hubungan mereka.

“Kan konyol! Kecuali setelah itu David lebih tertarik sama sosok cowok badboy!” kataku membela diri di depan Seno, rekan kerjaku yang secara suka rela mengusut hubungan sakit hatinya dengan tindakanku.

Aku tertawa oleh kalimatku sendiri. Tetapi tidak dengan Seno. Seno memukul perutku dengan punggung tangannya. Matany terbeliak melewati mukaku memandang ke belakang. Aku pun menoleh mengikuti arah pandangannya.

“David enggak homo!” teriak Rosalia tepat di hadapan mukaku. “Kamu tuh yang homo! Kalian berdua yang homo!”

“OH, ya? Terus kalau kami homo ada masalah sama Tuan Puteri?” aku menekan dua kata terakhir. Sudah menjadi rahasia umum kalau dua kata tersebut merupakan sebutan paling membunuh baginya. Tiga bulan magang di Nusantara Bank, Rosalia telah membuktikan bahwa dirinya memang layak berada di sana. Kontribusi salah seorang nasabah prioritas yang memasukkan ke sana nyatanya hanyalah sebatsa penunjuk jalan semata. Sebab, Rosalia memang memiliki kualitas dan tenaga yang menjadi standar dari bank swasta ini.

Pandangan  kami beradu. Kupikir dia akan membalas. Tapi aku kecele. Meski tidak menangis, rupanya aku benar-benar telah membunuhnya hari itu. Dia diam dan melengos pergi. Dia menjadi sangat diam semenjak saat itu. Bahkan ada kesan jika dia menjaga jarak dengan siapa pun!

*

Bulan kedua Rosalia terdiam. Aku merasa ada sesuatu yang kurang. Saat memesan kopi dan aku mendapati kopiku waras. Saat kunci mobil tak pernah nyelesep di mana-mana. Atau tak ada ranjau paku di sepatuku usai sholat. Ah, semuanya itu terasa kurang bagiku. Apakah, itu memiliki makna sentimentil selain penyesalanku saja?

Entah…

Suatu sore dan hujan, kami bersama-sama memakai mobil inventaris untuk tujuan dan keperluan yang sama.

“Rumahmu di mana?” tanyaku pelan. Niat untuk mengantarnya pulang muncul begitu saja ketika hujan turun dengan sangat lebat dan waktu itu hampir lewat dari pukul lima.

“Menteng,” Rosalia menjawab ringkas. Saat kualihkan arah menuju daerah Menteng, dia kembali berkata, “Ngapain kamu putar ke balik?”

“Nganterin kamu pulang.”

“Nggak usah!”

“Sekalian, biar kamu nggak bolak-balik.”

“Apa urusanmu?”

Aku tertegun. Hening. Konsentrasiku kufokuskan untuk menyetir.

“Turunkan saya sekarang juga!” hentaknya agak kasar.

“Kalau saya nggak mau, kamu mau lompat dan teriak-teriak kalau saya mau menculik kamu?”

“Mau kamu apa sih?”

Aku mengangkat bahu sembari terus menjaga keseimbangan.

“Marco, jangan gila kamu!” teriaknya lagi. Mulai mengardik dia.

“Kenapa? Takut?”

Rosalia mencibir. “Apa yang musti saya takutin dari homo macam kamu?”

“Banyak. Yang paling signifikan, saya tetap laki-laki dan kamu perempuan. So..”

“Kamu ngancam saya?”

Aku tidak memperhatikan lagis egala teriakan, makian, dan cibirannya menuduhku homo. Yang jelas, saat dia menumpahkan dendamnya, ada perasaan lega di hatiku. Rasanya, sesuatu yang kembali mengisi kosong di dalam sana.

“Mentengnya mana?” akhirnya aku bersuara. Kala itu kami sudah sampai di daerah Menteng. Rosalia terpana menatapku. Mulutnya ternganga. Lalu, entah apa yang terjadi. Paska helaan napas panjang dan dengusan, aku menghentikan mobil, Rosalia tertawa lepas. Dia membalas tatapanku tanpa ada kebencian menandak-nandak di atas kepalanya. Tak hanya tertawa, Rosalia juga memukul bahuku. Mencubit dan memukul lagi lebih keras.

“Dasar homo sialan!” teriaknya. Tertawa lepas. Tertawa semakin lepas.

Dan kemudian, begitulah.. Rosalia kembali tertawa. Dia tak hentinya memukul dan mencubitku. Ia juga menggenggam tanganku erat. Sore itu kisah kami bermula. Dan musim hujan tahun ini, Rosalia menjadi satu-satunya perempuan yang memelukku hangat.

Oh, cinta…

*

 

 

 

Facebook Comments

About Ewin Suherman

4 comments

  1. cieeeeee..benci jadi cinta..semua karena hujan

    hujan memang mak comblang sejati :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif