Home » FIKSI » Cerpen » Bubrah

Bubrah

80695748

Seumur hidup adalah putusan pengadilan atas hal yang sebenarnya tak pernah dan tak mungkin kulakukan. Namun tiada saksi atau siapapun yang benar-benar melihat apa yang terjadi sesungguhnya di tempat itu. Tiada alibi yang menguatkan posisiku. Semuanya terjadi begitu saja. Keberuntungan yang hampir menghinggap adalah bahwa beberapa kali baik penuntut maupun hakim menyatakan bahwa aku tidak waras. Namun pilihan sulit yang sama adalah jika aku dinyatakan tak waras maka aku harus mendekam di rumah sakit jiwa. Sebuah pilihan yang sama saja membuatku gila. Semua memberatkanku. Dua pasang manusia terlepas nyawa dalam keadaan termutilasi. Hanya aku yang selamat. Walaupun sebenarnya sangat ganjil karena tak ditemukan benda tajam untuk melakukan pembunuhan itu. Namun empat nyawa yang mati secara mengenaskan itu sangat cukup untuk menyeretku ke dalam jeruji besi dengan putusan Seumur Hidup. Telah coba kuceritakan apa yang sesungguhnya. Tiada yang percaya. Ya sudahlah. Mungkin ini sudah takdirku. Kuterima semuanya sambil berdoa dan berharap akan ada pengampunan untukku.

***

Sebelum kejadian itu memang ada sebuah peristiwa yang membuatku mampu melihat hal-hal yang tak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya. Aku tak terlahir sebagai indigo atau apapun istilah untuk menyebut hal itu. Adalah sebuah peristiwa yang hampir merenggut nyawaku dan juga nyawa sahabat serta keluarganya. Semacam membuat perjanjian dengan mahluk halus. Namun aku lolos dari maut, sahabatku pun lolos dari maut, demikian jua dengan keluarganya. Kekuatan Iman yang menyelamatkan kami jika aku pernah berkonsultasi dengan seorang ahli Agama. Apapun itu sungguh tak pernah terlintas akan terjadi untuk kedua kalinya. Seperti ada sesuatu yang mengekor dari sejak kejadian pertama. Seperti penasaran mengincar dan terus menguji sampai di mana tingkat  keImananku.

Beberapa kali kuingat-ingat sambil menatap langit-langit kelam kamar sel penjara ini hanya ada satu hal yang sama dari dua peristiwa itu, yaitu tempat yang sejenis dan mirip, berada di tanah yang datar seperti lapangan di atas perbukitan ataupun pegunungan. Tiada pohon apapun yang mampu tumbuh di dataran itu. Padahal setelah tanah datar itu ada pada batas-batasnya, pohon-pohon tumbuh begitu subur. Seperti ada sesuatu yang menyebabkan pohon apapun tak dapat tumbuh di dataran yang rata itu.

***

Siang itu di sebuah warung nasi yang berada di bawah gunung memang kami berlima sempat mampir untuk melepas lelah. Ketika dua pasang temanku asik mengobrol di panggung meja lesehan, kandung air kemihku yang penuh membuatku tak mampu menahannya lagi dan kubertanya pada pemilik warung di mana letak kamar kecilnya? Bapak pemilik warung pun menunjuk ke arah belakang warung. Ada bilik tersendiri di belakang warung itu, bilik dari bahan bambu yang disatukan dengan ikatan bambu yang rapi pula. Berbentuk persegi setinggi dadaku. Posisi air pancuran yang lumayan pendek dan deras membuatku tak bisa buang air kecil dalam posisi jongkok. Aku pun berdiri untuk melepaskan rasa sakit menahan penuhnya air seniku. Saat hampir selesai mataku dikejutkan dengan sekelebatan bayangan hitam yang menghilang di balik tingginya rerumputan tak jauh dari kamar kecil.

Penasaran dengan kelebatan bayangan tadi segera ku keluar setelah merapikan pakaianku. Ku mengendap-endap ke arah rerumputan di mana bayangan hitam tadi menghilang… dan ah ternyata seorang kakek tua mengenakan pakaian hitam yang sedang menggali lubang dengan menggunakan sebuah parang besar bergagang kepala ular. Ketika kusapa, si kakek pun menoleh dan menjawab sapaku bahwa ia sedang menggali lubang persembunyian kelinci hutan. Oohh aku menganggukkan kepala.

Pertemuan itu menjadi obrolan yang mengasyikkan walaupun sesaat. Ketika tahu bahwa maksudku dan teman-teman adalah untuk mendaki ke puncak gunung, si kakek berpesan jika bermalam sebisa mungkin jangan di dataran yang rata yang tidak ditumbuhi apapun di puncak gunung, lalu jangan berbicara sembarangan dan jangan berbuat hal yang tak pantas. Ketika kutanyakan kembali mengapa? si kakek hanya tersenyum sambil berpamitan. Kuterdiam sesaat dan ketika ku membalikkan badan, si kakek sudah tak terlihat lagi. Ehh cepat sekali menghilangnya. Ahh biarkan saja yang pasti apapun itu pesan si kakek tadi benar-benar kuingat.

Masih tersisa empat jam lagi sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung. Hingga sekitar setengah jam sebelum matahari tenggelam, kami tiba di dataran yang rata yang tidak berpohon… Aahh mungkin ini yang di maksud si kakek tadi.

“Kita menginap di sini kawan-kawan, perjalanan tak mungkin kita lanjutkan!” Edo memberi aba-aba sambil memegang lengan kekasihnya cyntia.

“Jangan! Apapun alasannya aku bilang jangan!” demikian aku mencoba memberi saran.

“Kita berjalan lagi melewati tempat ini selagi matahari belum benar-benar tenggelam! yang pasti jangan di tempat ini!” Aku menyanggah sekali lagi.

“Tempat ini saja, ini bagus, mudah membuat api unggun dan juga ada aliran air di depan sana itu!” Edo menentukan sambil telunjuknya menunjuk aliran air sekitar lima puluh meter dari tempat kami berdiri.

“Tidak Do!” Ku menyanggah lagi.

“Demokrasi saja ya kita Vote ok!” Edo memutuskan

Empat setuju berbanding satu tak setuju… aku kalah dan mengalah dan ikut mendirikan lima buah tenda kecil. Sambil sesekali menyapu pandangan berkeliling karena rasanya seperti banyak mata yang mengawasi kami. Ahh mungkin hanya halusinasiku saja sambil kuusap mukaku.

Malam mulai merayap… hawa dingin masuk ke dalam tendaku yang memang masih terbuka bagian depannya. Bangkit dari pembaringanku selepas tadi bersantap makanan kaleng bersama Edo dan lainnya. Ketika jariku akan bergerak menutup tutup tenda… kulihat ada sosok-sosok berdatangan membawa sesuatu. Aku mengintip… semakin lama kusaksikan sekeliling dataran ini semakin ramai. Ramai seperti pasar. Kuberanikan diri keluar… ahhh ramai sekali… kuberanikan diri untuk mulai melangkah… Aahhh wajah-wajah yang tak enak dipandang… bau anyir sekali pikirku… mendekati kerumunan dan Aarrggghh rupanya ini pasar dan ahhh yang diperdagangkan adalah potongan-potongan tubuh manusia.

Gila-gila Arrgghhh aku menjengggut-jenggut sendiri rambutku dan berkeliling terus dan sama saja pemandangan yang kudapatkan… ini pasar! ini pasar setan! aku menggumam.

“Kamu memang manusia yang baik ya… tak seperti empat orang temanmu itu!”

Astaga… Kakek tadi siang yang membawa parang besar… dan Arrgghh parang besar itu berlumuran darah. Kuberlari menuju tenda Edo… astaga hanya ada pakaian dan juga pakaian dalam… dan ahhh ini pakaian dalam wanita… pasti Edo gila dan Cyntia itu nekat ML di tenda ini… beralih ke tenda lainnya… sama saja di tenda Dodi pun mendapatkan keadaan yang sama. Aku berlarian berputar-putar hingga tiba di sebuah batu besar tak jauh dari belakang tenda… beberapa sosok seram memegang parang sedang memotong-motong sesuatu… dan Arrgghhh ternyata kawan-kawanku.

Teriakan kecilku sambil menjenggut rambut membuat sosok-sosok menyeramkan bersenjatakan parang besar menoleh ke hadapanku… mereka segera berlari menuju arahku… spontan aku pun berlari. Aku terus dikejar dan semakin kencang aku berlari. Berlari menuju aliran air dan menyibak semak-semak serta dahan dan ranting pepohonan. Entah berapa jauh dan berapa lama aku berlari hingga akhirnya kakiku terbentur sebuah batu… aku terguling-guling ke bawah dengan derasnya… dan ketika terhenti entah tersangkut apa tubuhku ini… semuanya gelap… gelap… dan gelap.

***

Ketika tersadar… mataku mulai membuka… warna putih di sekeliling adalah yang beradu dengan pandanganku… dan begitu menoleh ke samping kiri… dua orang pria berjaket sudah menungguku… beberapa menit kemudian ketika aku mulai bertanya… mereka menjelaskan bahwa aku ada di rumah sakit dan mereka pun kemudian mulai bertanya-tanya mengenai kawan-kawanku dan mengenai apa yang terjadi. Mereka terdiam ketika kuceritakan apa adanya. Entah apa arti diamnya mereka.

***

Beberapa hari kemudian mereka datang kembali dan menyodorkan sebuah buku besar seperti skripsi atau paper aku tak membacanya… mereka memberitahu bahwa itu adalah berkas perkara dan aku didakwa sebagai pelaku pembunuhan sadis dua pasang kekasih di atas gunung. Aku diminta tanda tangan. Kucoba untuk menceritakan lagi kejadian yang terjadi, namun mereka bungkam sejenak lalu berkata… tak ditemukan apapun selalin potongan tubuh korban dan juga tas mereka dan tasku sendiri. Tiada orang lain selain aku.

“Tapi Pak…”

“Silakan nanti kamu bicara dipengadilan!”

Itulah yang kudengar… persidangan yang kujalani… seumur hidup adalah putusan hukuman yang kuterima. Semua memaki aku… terutama keluarga korban… tiada seorang pun yang membela.

***

Kini senantiasa ku tengadahkan telapak tanganku ke langit… memohon doa dan ampunan serta harapan agar kebenaran akan terkuak. Entahlah.

“Jangan berbicara sembarangan, jangan berbuat hal yang tak pantas!” demikian pesan kakek penggenggam parang besar yang selalu kuingat.

Di manapun akan senantiasa kuingat. Dan satu hal… Aku bukan pembunuh. Mungkinkah ini takdir kehidupanku?

Tuhan pasti tahu.

~000OOO000~

~Just My Imagination~

Ilustrasi “pasar bubrah” dari panoramio.com

~A.H.~

Facebook Comments

About Adam Heins

3 comments

  1. katedrarajawen

    Wah seramdan ngeri

  2. Vivi Tirta Wijaya

    grrr, nggak nyangka ceritanya bakalan serem :takuts
    ternyata, mas Adam jago juga bikin cerita horor https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. kok diturunin jumlah pembacanya ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif