Home » FIKSI » Cerpen » Perempuan Teh Manis #2

Perempuan Teh Manis #2

Tutorial KK

Cintaku tidak lagi berwarna pink

Kesiangan! Itu artinya aku harus lari-larian menuju halte bus yang akan membawaku menuju tempat kerjaku. Menunggu selama lima belas menit, bus yang aku tunggu datang. haapp…. Setelah celingak-celinguk memastikan apakah ada tempat kosong yang mampu menampungku. Ternyata ada, kursi di baris kiri no dua dari pintu belakang disamping lelaki baju coklat tua. Aku mendekati kursi itu.

“Kesiangan lagi? “ tanya lelaki yang duduk disebelahku

Mendengar pertanyaan itu, aku setengah kaget. Siapa lelaki ini?  Aku menoleh dan mengenal senyuman itu.

“eh kamu kok di sini?”

Cuma kata-kata itu yang terlintas di otak ku ketika aku melihatmu. Lelaki yang hampir setengah tahun ini aku tidak tahu rimbanya. Lelaki yang aku kenal semenjak di suatu acara salah satu temanku.

“Pertanyaanku belum kamu jawab.”

“eh..iya aku kesiangan. Kamu kapan balik kesini?” tanyaku penasaran

“belum lama. Kabarmu baik ?”

“ohh..baik. “

Setelah jawabanku itu kami hanyut dalam diam. Dia sibuk memandang kearah kaca jendela. Sementara aku, aku sibuk dengan berbagai pertanyaan yang ada di otakku. Kapan dia balik kesini? Kerja dimana sekarang? Kemana selama setengah tahun ini? Kenapa tiba-tiba dia ada satu bus denganku? Kenapa dia bisa menebak soal kesiangan hari ini? Dan masih banyak lagi. Akan tetapi, aku memilih diam. Aku merasa tidak mempunyai hak untuk memberondongnya dengan pertanyaan itu.

Dua puluh menit bus itu membawaku membelah kota, sampailah aku di depan deretan-deretan gedung tinggi. Dia mulai bergerak, bersiap turun rupanya.

“ nomor Hp mu masih sama?”

“Hah…ohhh iya.”

“ OK..simpan aja dulu pertanyaan-pertanyaanmu. Aku bakal kasih tahu kapan aku bisa menjawabnya.”

Aku melongo mendengar kata-katamu. Kamu bisa tahu apa yang ada di otakku selama kita duduk bersebelahan tadi. Dan kamu pun turun dengan meninggalkan senyuman.

***

Sabtu pagi, pagi itu cukup cerah. Waktu yang tepat untuk menghilangkan penat beban kerja seminggu. Menikmati teh di teras sambil berpikir tempat mana yang akan jadi tujuanku hari ini. Tiba-tiba alunan musik  ringtone HP berbunyi, panggilan dari no baru.

“Halo..”

“Hei…ini aku. Hari ini pergi kemana?”

Suara ini, aku masih hafal betul suara ini.

“aku…aku belum tahu mau kemana. Kenapa?”

“aku mau jawab atas pertanyaan-pertanyaanmu yg kamu simpan waktu di bus kemarin. Bisakah?

Mendengar pernyataanmu itu, entah apa yang membuatku langsung mengiyakan permintaanmu untuk bertemu hari itu. Kafe Le Petit Coin, tempat yang sama dengan beberapa bulan lalu. Terakhir bertemu denganmu sebelum kamu pergi, pergi menghilang, sekarang kamu datang lagi dan tempat ini lagi.

“sudah lama? “ sapaku

“belum seberapa. Aku senang kamu mau datang menemuiku.”

Beberapa waktu tidak bertemu, membuatku agak canggung. Ditambah lagi pikiranku yang menduga dia pergi beberapa bulan ini memang untuk menghindar dariku. Dan sekarang, aku dengannya bertemu lagi. Entah dia sengaja muncul lagi atau ini memang sudah digariskan harus seperti ini.

“Aku tahu, kamu punya banyak pertanyaan buatku. Aku bisa tahu dari gelagatmu waktu di bus kemarin.”

“emmm….aku kaget aja kemarin. Kita bisa ketemu di bus. Ohh ya aku lupa tanya kabarmu.”

“Baik..”

Diam. Suara langkah kaki para pelayan kafe dan samar-samar suara pengunjung kafe yang terdengar. Kita hanyut dalam diam. Alunan musik yang diputar di Kafe tidak mampu memecah kediaman kita. Keadaan yang membuat waktu terasa berjalan melambat.

“Aku pergi memang karena mu, aku memang menghindar darimu. Maaf waktu itu aku mendadak menghilang lantas sekarang muncul di depanmu lagi.”

DEGGG…benar ternyata dugaanku selama ini. Dia pergi karena aku, karena kata-kata ku waktu itu. Di Kafe ini, enam bulan yang lalu.

“ aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin aku menerimamu karena sebuah pelarian, pelarian dari sakit hatiku yang masih sulit aku lupakan waktu itu. “

“Kekecewaan mu itu beralasan, trauma yang kamu alami aku mencoba memahaminya. Tapi kamu terlanjur menutup jalanku, jalanku untuk meraihmu. Aku ingin meraihmu, membantumu keluar dari rasa itu. Rasa yang mengurung hatimu selama 3 tahun. Memang itu tidak mudah, tapi sesuatu yang tidak mudah bukan berarti tidak mungkin diraih bukan?”

“Aku tidak ingin kamu ikut terseret dalam masa laluku. Itu saja, untuk itu aku tidak bisa menerimamu.”

“Bukan itu, bukan itu alasannya. Kamu belum yakin denganku, kamu belum yakin dengan perasaanku. Iya kan? Setengah tahun ini, aku mencoba menghindar darimu, menarik diri dari segala hal yang berkaitan denganmu. Tapi apa? Aku kembali lagi, aku menemuimu lagi, hari ini. Gagal total usahaku selama setengah tahun ini untuk tidak peduli lagi denganmu.”

Aku hanya menghela napas, hati ini sepersekian detik tadi seperti terisi entah oleh apa. Sesak. Penuh. Aku menunduk meliha kearah jam tanganku. Sama sekali aku tidak ingin melihat ekspresi lelaki di depanku ini.

“ Ada dimana kamu selama enam bulan ini?” hanya kalimat itu yang terlintas di pikiranku untuk melawan pernyataanmu barusan.

“Aku terima proyek dari temanku di Surabaya. Itu jalan satu-satunya yang aku ambil untuk menjadi alasan aku keluar dari kota ini. Berharap aku bisa mengubah pandanganku, agar tidak lagi tertuju padamu. Tapi entah apa yang membuatku datang lagi ke kota ini, yang aku tahu aku harus menemuimu, mencoba peruntunganku sekali lagi. Ya sekali lagi.”

“Apakah hatimu masih seperti dulu?”

“Tidak, tentu tidak. Dua tahun aku mengenalmu, tentu hati ini tidak seperti dulu, justru karena tidak seperti dululah makanya aku datang menemuimu lagi. Usiaku sudah 27 tahun, dan kamu tahu itu. Hatiku tidak seperti dulu yang berwarna pink atau merah jambu ketika melihatmu, berwarna pink ketika aku duduk bersamamu, berwarna pink ketika melihat senyumanmu, berwarna pink ketika melihatmu marah denganku. Tidak, tidak seperti itu lagi. “

“Aku tahu perasaanmu selama ini, hanya aku pura-pura tidak tahu. Sampai kamu menyatakannya enam bulan lalu. Di Kafe ini. Kamu bisa dapatkan yang lebih baik dariku, kamu tidak perlu susah payah terseret dalam masa laluku.”

Diam. Lagi-lagi diam. Otak ku penuh. Hatiku penuh. Entah kenapa rasa minuman dingin di meja yang masih separuh lebih ini juga berubah. Rasanya aneh. Menambah kegaduhan hati dan otakku semakin menjadi. Perasaan kita, bukanlah perasaan yang seperti dirasakan para ABG itu lagi. Usiaku hampir setengah abad, usia yang sepatutnya menatap masa depan. Bukan terkungkung oleh cinta masa lalu, cinta ABG. Ini aneh memang.

“Hatiku tidak lagi berwarna pink, tapi biru. Bukan karena luka. Biru karena perasaan ini justru semakin dalam, biru karena berada di dekatmu aku tenang, biru karena memang aku sudah tidak lagi berada di warna kebimbangan.”

Lemas rasanya tubuhku mendengar pengakuannya. Sehebat itukah aku mempengaruhi hidupnya. Aku bahkan tidak tahu, tepatnya tidak mau seberapa besar arti nya aku untuknya. Aku membatasi diri agar aku tidak jatuh cinta kepadanya. Tapi justru apa, kepergiannya yang mendadak, menghilang tanpa kabar itu membuatku mengerti arti hadirnya. Kehilangan, tapi lagi-lagi aku berusaha menepis rasa itu. Aneh jika ketika dia selalu ada di dekatku aku merasa biasa saja dan begitu dia menghilang aku mencarinya. Jadi aku putuskan sekali lagi untuk menepis perasaan itu.

“Aku hanya memberi satu kesempatan untukku sendiri. Kesempatan untuk menemuimu lagi. Menyatakan ini lagi, dan jika ini memang masih tidak bisa juga. Aku akan mundur. Dan mungkin aku harus tetap pergi menjauh dari pandangan. Itu menyakitkan, tapi itulah caraku untuk membunuh perasaan yang terlanjur membiru ini.”

**********

Hari ini, aku tahu ini hari terakhirmu di kota ini. Seperti ceritamu kemarin, kamu harus kembali ke Surabaya untuk kerjaanmu. Dan aku? Aku harus memberikan jawaban itu hari ini. Aku putuskan menemuimu di stasiun kereta. Kereta pukul 9 pagi. Entah apa yang membuatku datang sepagi ini. Jarum jam di tangan masih menunjuk diantara angka enam dan tujuh. Hah? Aku kepagian? Entahlah. Satu jam aku menunggu, dari kejauhan terlihat samar-samar lelaki dengan jaket hitam, topi merah dengan menggendong ransel cukup besar berwarna senada dengan jaket. Itu pasti kamu.

“kamu sudah datang? sudah lama?”

Aku hanya menatapmu, menatap wajah yang dari dulu selalu ada untukku. Wajah yang kemarin di Kafe tidak berani aku tatap. Tapi hari ini, aku begitu rindu wajah ini.

“se jam yang lalu.”

“pagi sekali…tumben. Biasanya kamu suka telat untuk masalah seperti ini.”

“aku…masalah di Kafe kemarin.”

“ sudah…aku tidak apa-apa. Aku merasa lega sudah menggunakan kesempatan ini. Yang terpenting, aku tidak menyesal suatu hari karena aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Iya kan? Aku hanya butuh waktu saja. Setelah itu, kita bisa seperti dulu. Teman…sahabat..yang selalu ada.”

Senyuman ringan itu merekah dari bibirmu. Entah apa maksudnya, tapi aku justru khawatir melihat senyuman itu. apaka senyuman itu berarti kamu sudah benar-benar lega. Atau…

“kesana yuk…ada tempat duduk disana. “ ajakmu

Diam. Lagi-lagi diam. Duduk bersebelahan namun hanya diam yang ada. Memandangi orang lalu lalang dengan bawaan mereka. Kardus, koper, tas besar dan entah bungkusan apa.

“Hatiku sudah tidak pink lagi “ aku memecah kediaman kita

“hah…maksudmu ?”

“sudah tidak pink lagi, pink saat kamu menemaniku lembur deadline, pink saat kamu mengajakku makan eskrim ketika aku marah dan bête, pink ketika kamu mendengar celotehku tentang apa saja, pink saat kamu mau bela-belain ke Bandung menjemputku padahal kamu baru saja tiba dari proyekmu di Palembang dan masih banyak lagi. tapi itu dulu buka sekarang.”

“ mungkin tidak seharusnya aku pergi enam bulan yang lalu. “

“tidak…sekarang tidak pink. Tapi merah.  Merah karena aku sekarang berani mengakui perasaan ini, merah karena aku sudah tidak ingin diantara dua warna lagi. pink. Merah karena aku ingin menjemput masa depanku. Yang ada di dekatku.”

“maksudmu ?”

“Ya…pergilah. Selesaikanlah urusanmu disana. Lalu kembalilah.”

“Oh Tuhan….sejak kapan kamu bisa merangkai kata seperti tadi? Pujangga mana yang sudah merasukimu? “

“ ahh kamu itu…aku serius.”

“aku tahu….ini akan cepat membawaku kembali kesini.”

Aku hanya manyun melihat reaksimu. Menyebalkan. Memerah pipiku. Karena memang aku tidak pandai merangkai kata.  Genggaman tanganmu erat, hangat, dan nyaman. Genggaman itu lepas ketika kereta itu datang. Dan akhirnya kereta itu tetap membawamu pergi. Pergi dengan membawaa merahnya hatiku dan meninggalkan birunya hatimu.

Facebook Comments

About septiyaning

6 comments

  1. katedrarajawen

    Ada senyuman ada manyunan, tapi ceritanya tetap tentang gadis teh manis:)

  2. Vivi Tirta Wijaya

    waah, happy ending, tapi apakah ini sudah endingnya? semoga saja belum, hehe. ayo tulis lagi ceritanya, mbak https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif
    ngomong2, Perempuan Teh Manis #1 nya belum di publish di sini, kok udah ada yg kedua nya? https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif
    salam https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif