Home » FIKSI » Lelaki di Penghujung Senja

Lelaki di Penghujung Senja

Langkahnya tertatih. Berat. Namun apa daya, rasa lapar melilit perutnya. Minta diisi. Nakas yang terletak di sebelah ranjangnya hanya gelas berisi setengah air putih. Tanpa apapun disisinya. Sesaat sebelum mencapai pintu kamar ia berhenti melangkah. Ragu. Sejenak ia berfikir. Hatinya bimbang.  Diusapnya perutnya yang semakin berbunyi. Ah, Aku benar- benar lapar.

Dengan pasti diraihnya handel pintu, dilongokkan kepalanya . Matanya melirik kanan kiri. Sepi. Dihelanya nafas panjang, ah sudahlah yang penting saat ini ia ingin makan. Dengan perlahan ditutupnya kembali pintu kamar. Pelan, langkah membawanya ke dapur.

PRANGGG

Ia terkesiap. Kaget. Matanya nanar menatap ke lantai. Nasi yang sudah berserakan. Piring yang sudah tak berbentuk. Makananku,

“APA- APAAN INI!”
Suara keras nyaris disebut teriakan membuatnya lagi- lagi kaget. Sejenak dibalikkan tubuhnya. Seorang perempuan paruh baya berdiri tak jauh dari pintu dapur dan berkacak pinggang. Ia tergagap. Ketahuan sudah,

“KAMU!” Tunjuk perempuan itu padanya. Dengan raut wajah menegang, perempuan itu berjalan mendekatinya, “Ngapain kesini? Bukankah sudah kubilang kalau aku di rumah jangan keluar kamar. Jangan tampakkan wajahmu itu!”

“Dan sekarang kamu memecahkan piring dan membuang nasi!”Omel perempuan itu kembali, “Benar- benar lelaki payah! Kenapa masih hidup di dunia ini!”

Matanya memanas mendengar ucapan perempuan itu. Perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya hingga saat ini. Sungguh hatinya sakit. Sehina itukah ia sebagai lelaki?

“A…aku lapar! Lastri be…lum mengan…tarkan nasi,” Ia membela dirinya. Ia tahu peraturan itu, namun  tak bisakah kali ini menjadi pengecualian. Perutnya yang memberontak membuatnya tak ada pilihan lain.

“Huh, Lastri lagi ke pasar! Tak bisa kamu sabar ya!” Rutuk perempuan itu lagi, “Sudah kembali ke kamar sana!”

“Tapi…,”

“KE KAMAR!!”

Ia menarik nafasnya panjang. Tak ada gunanya berdebat. Perlahan ia menarik langkahnya menjauhi dapur.

“Ugh, kapan pak tua itu mati! Selalu menyusahkan!”

Ia memang sudah tua, namun telinganya masih cukup tajam menangkap gerutuan istrinya. Hatinya semakin sakit. Matanya yang semakin memanas. Setitik air jatuh membasahi pipinya. Ya Tuhan, inikah hukuman untukku?

***
Keduanya berpagut. Tergelegak dalam pusara hasrat. Saling meluapkan. Melepaskan pertahanan tubuh. Saat ini mereka saling memiliki. Saling membutuhkan. Saling menyalurkan. Untuk saat ini, keindahan surgawi direguk keduanya. Hanya dinding- dinding hotel yang menjadi saksi bisu.
***
“Kamu memang memuaskan, Baby!” Lelaki itu terkekeh setelah menuntaskan hasratnya. Ia sandarkansebagian tubuhnya di kepala ranjang. Tangannya menggapai nakas untuk mencari sebungkus rokok yang memang telah disiapkan.

Sesaat ranjang bergerak. Selimut putih khas hotel tersibak. Seorang perempuan muda tersenyum. Ia lilitkan sebagian tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya ikut bersandar.

“Jadi ke Surabaya?” Tanyanya kemudian.

Lelaki itu mengangguk, tak berniat menjawab. Mulut dan tangannya sibuk menikmati rokok. Kenikmatan ganda,

“Kamu tega, Hon?” Rajuk perempuan itu kembali. Kali tubuhnya memilih membenamkan pada dada bidang sang lelaki. Sungguh ia menyukai lelaki ini.

Lelaki itu menghela nafas. Direkuhnya tubuh mungil itu, “Kamu kan tahu kalau ini tugas kantor. Sudahlah jangan manja!”

“Kalau aku kangen?”

“Nanti bisa aku kirim tiket atau aku kan masih sering pulang kesini,”

“Tapikan kamu pulang ke rumah istri kamu!”

Lelaki itu terkekeh, “Ah, itu bisa diatur, Sayang! Perempuan itu hanya bisanya menyusahkanku saja,”

“Ugh, sepertinya ia mulai curiga denganku!” Ungkap perempuan itu seraya mengerucutkan bibirnya.

“Biarkan saja! Toh ia takkan bisa berpisah denganku. Bisa apa dia?” Lelaki itu mencibir, “Sudahlah yang penting itu kamu, Sayang!”

“Tapi…”

“Sudah jangan banyak bicara, mari lanjutkan yang harus dilanjutkan!” potong lelaki itu cepat dan keduanya kembali ke pusara kenikmatan.
***
“Jadi gimana, Om?” Kali ini perempuan lebih muda 33 tahun yang bersandar di peluknya. Tangannya yang mungil sedari tadi mengelus perutnya yang kencang di usia kepala lima.

“Apa yang kamu inginkan, Sayang pasti Om kasih!”

Perempuan muda itu melonjak senang, “Bener, Om?”

Lelaki itu mengangguk lalu meraih dagu perempuan itu. Mengecup bibirnya sesaat, “Whatever you want, Honey!”

“Ah, Om!” Perempuan itu tersenyum senang.

“Tapi,”

Perempuan itu mengernyitkan dahi, “Tapi apa, Om!”

“Buat Om puas lagi dong, Sayang!” Ujar lelaki tanpa malu. Lagi untuk kesekian kalinya mereguk kenikmatan. Lebih nikmat karena perempuan yang lebih muda. Tak peduli usia. Tak peduli gadis ini sahabat anaknya. Yang penting ia terpuaskan.

***
“Ini siapa?”

Sebuah foto terlempar di meja kerjanya. Ia tersentak. Foto ini?

“Siapa gadis muda ini, Pa?”

Pertanyaan itu lagi- lagi terhenyak. Ia mendongak. Matanya menangkap mata yang sedang menahan tangis. Mata yang berkaca- kaca.

“JELASKAN, PA!” Kali ini mata itu membulat sempurna. Wajah yang semakin memerah menadakan bahwa amarah sudah menggelegak dari sosok dihadapannya. Sosok yang sudah mendampingi hidupnya hampir seperempat abad. Perempuannya. Istrinya.

“Rasti,” Sahutnya singkat.

“RASTI? Rasti teman Kayla, Pa!” Tanya perempuan itu. Ia memastikan bahwa salah satu objek yang di foto adalah sosok yang dikenalnya. Sosok sahabat dari anaknya. “Ya Tuhan, ngapain kalian,Pa!”

“Ini kami sedang…,”

“NGAMAR! SELINGKUH!” Potong perempuan itu cepat. Air matanya sudah tak terbendung. Selama ini ia tahu kelakuan liar suaminya. Bertahun- tahun lamanya ia diam, namun kali ini ia tak mentolerirnya.

“IYA! KENAPA KALAU KAMI SELINGKUH!” Jawaban yang tak kalah sengit yang keluar dari bibir lelaki itu sejenak membuatnya terhenyak. Kali ini sepertinya bom waktu sudah meledak.

“Lalu mau apa kamu? Minta cerai!” Ujar lelaki itu kembali. Egonya bertindak. Ia lelaki, ia tak suka diatur apalagi oleh wanita.
Perempuan itu menggeleng, “Tidak akan pernah! Camkan itu baji**an!” Ucapnya dengan kasar, “Aku masih memikirkan anak- anakku. Tapi ingat saat ini kita hidup masing- masing. Terserah apa yang kamu lakukan di luar! Tapi kupastikan kelak kamu akan menderita! Ingat itu!”

***
“Pak, Maafkan saya terlambat mengantarkan makanan!”

Lelaki tua itu tersentak dari lamunan panjangnya. Lastri, perempuan berusia 30an yang bekerja di rumahnya sedikit menunduk sambil meletakkan makanan di nakas sebelah ranjangnya.

Ia mengangguk, “Ti…dak apa-apa,”

“Tapi gara- gara saya bapak dimarahin ibu lagi,” Ucap Lastri bersalah. Tadi ia buru- buru ke pasar, hingga melupakan belum menyiapkan makanan untuk majikan lelakinya.

“Sudah, tidak apa- apa!”

Lastri menunduk, “Maaf, Pak!” Ia tak pernah habis fikir sikap kedua majikannya. Si istri demikian tega dengan suaminya yang sudah tua dan sakit- sakitan. Ah, sudahlah bukan urusannya. Toh ia juga masih baru bekerja disini, pikirnya.

“Sudah kamu ke belakang nanti di cari i…,”

“LASTRIII!!!” Suara panggilan nyaring terdengar sebelum lelaki itu menyelesaikan ucapannya. Ia menghela nafas, istrinya takkan membiarkan ia berbicara lama- lama dengan siapapun.

“Iya, Bu!” Jawab Lastri cepat. Ia tahu majikannya itu tak suka dibantah,  “Permisi, Pak!”

Lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepala. Namun tak berniat berucap. Pikirannya justru menerawang. Dosa masa lalu. Inikah derita yang akhirnya ia terima karena sakit hati istrinya. Hidup di usia tua. Tidak diperhatikan keluarga. Istrinya yang pemarah. Anak- anak yang tak peduli. Ah, tak bisa disalahkan. Ada sebab ada akibat. Dulu ia lebih mementingkan ego dan libidonya. Don Juan. Playboy. Menghabiskan banyak waktu dengan wanita- wanita lain. Berkencan dengan perempuan yang bukan istrinya. Ia tak peduli apapun dan siapapun. Dan saat ini di usia senja ia merasakan ketidakpedulian mereka. Ya Tuhan, Ampuni aku.

LamSel, November 2014

ilustrasi gambar : wallpaper-kid.com

Facebook Comments

About Imas Siti Liawati

One comment

  1. katedrarajawen

    WAH jadi rindu pengen nulis fiksi lagi nih, mbak Imas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif