Home » FIKSI » CerBung » Sang Penanya

Sang Penanya

http://dareliman.or.id

http://dareliman.or.id

Teko stainless steel di atas kompor itu bersiul. Uap air mengepul. Beberapa sekon kemudian kompor dimatikan. Teko tak lagi bersiul tapi uap tetap mengepul.

Seorang pemuda berperawakan biasa meramu kopi untuk dirinya sendiri. Satu sendok teh bubuk Kopi Arabika dicampur dengan setengah sendok teh bubuk Kopi Nias lalu ditaburi satu sendok teh gula putih. Ketiganya diguyur dalam sebuah cangkir kecil dengan air mendidih.

Pemuda bernama Gada itu menikmati kopi racikannya sendiri sambil merokok. Nikotin dan kafein sangat cocok diserap tubuh saat udara dingin begini. Matanya menerawang jauh ke luar jendela, memandangi hujan yang makin lebat baku pukul dengan suara petir.

“Bang, sudah waktunya,” seorang pemuda lainnya masuk ke dapur.

“Siapa saja?” tanya Gada.

“Yang baru saja datang Deputi Bidang Kontra Intelejen dan beberapa orang dari intel Mabes TNI,” jawab pemuda bernama Alu itu.

Gada tersenyum sinis, meletakkan kopinya lalu berjalan meninggalkan dapur menuju ke sebuah ruangan yang penuh dengan komputer dan peralatan elektronik lainnya. Ruangan itu berhimpitan dengan ruangan lainnya. Dua ruangan itu dipisahkan dengan sebuah tembok berjendela kaca yang sangat besar, tampak seperti akuarium.

Namun akuarium itu tidak berisi air dan ikan koi. Dalam akuarium itu berdiri seorang berseragam loreng hijau. Ia menjaga seorang lelaki yang duduk dengan tangan dan kaki terborgol kencang ke kursi yang telah dimatikan dengan lantai. Badannya setengah telanjang. Kepalanya diselimuti kantong kain berwarna hitam. Lelaki itu menunduk.

Gada disambut oleh Wijaya, Staf Ahli Bidang Hankam, Badan Intelejen Negara. Wijaya lalu mengenalkan Gada pada beberapa orang yang hadir di ruangan itu. Suprapto, Deputi Bidang Kontra Intelejen BIN. Seorang wanita muda berpangkat Letnan Satu bernama Linda, perwira intel yang dikirim oleh Mabes TNI. Linda datang bersama 5 orang anak buahnya yang berseragam loreng hijau Angkatan Darat.

“Linda,” sebuah tangan nan lembut tapi menyimpan kekuatan tersodor ke hadapan Gada.

“Gada,” dan mereka berdu berjabat tangan. Tatapan mata mereka bertumbukan, menciptakan semacam gelombang radiasi nuklir yang menghentak hati keduanya. Kekaguman dua anak manusia berlawanan jenis berfusi dengan sinisme dan egoisme antar dua anggota intelejen dari lembaga intelejen yang berbeda. “Kolonel Gada tepatnya. Tapi kau boleh memanggilku Gada saja.”

“Oke Kolonel Gada atau Gada saja, mungkin anda sudah tahu kemarin sebuah bom plastik C4 meledak di Stasiun Pasar Senen. Bersamaan dengan itu Presiden dan keluarganya diculik. Beberapa jam setelahnya tim saya berhasil menangkap salah satu pelakunya, orang yang ada di ruangan itu,” jari lentik Linda menunjuk ke lelaki di dalam ruang akuarium. “Saat kami interogasi, dia bilang bom itu hanya sebuah hidangan pembuka saja. Sebuah prolog sebelum inti cerita dipertontonkan kepada dunia. Dia bilang Presiden akan dibunuh jika dalam waktu 24 jam Papua Barat tidak dimerdekakan.”

“Ya kalau begitu dicari dong tempat Presden disekap,” kata Gada.

“Bahkan dengan kekuatan penuh kita tidak akan bisa menemukannya dalam waktu 24 jam, Ga..” jawab Wijaya.

“Ya kalau begitu tanyakan saja pada dia dimana Presiden disekap,”telunjuk Gada mengarah ke lelaki dalam akuarium.

“Kami sudah mencobanya, Kolonel..tapi masalahnya dia tidak mau mengatakannya,” kata Linda.

“Aahh…jangan bercanda. Bukankah kalian ahlinya?” Gada tersenyum sinis sambil menyulut nikotin di ujung bibirnya.

Hening. Kaku. Gelombang egoisme dan sinisme kembali merambat di hati kedua makhluk Tuhan itu.

“Untuk yang satu ini kami belum bisa membuatnya mengaku,” kata Linda dengan sedikit pasrah berselimut geram.

“Itu artinya kalian menyerah pada bajingan itu?” tanya Gada.

“Ya.”

“Dan kalian membutuhkan bajingan yang lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan kalian?” kini ibu jari Gada menunjuk pada dirinya sendiri.

Linda mendekatkan bibirnya ke pipi kanan Gada seakan hendak menciumnya lalu berbisik, “Kolonel, kalau tidak memikirkan tentang nyawa panglima tertinggi kita, saat ini juga sepatu saya ini pasti sudah tercokol ke dalam mulut anda.”

“Heeemm…wangi juga ya kamu..” Gada menggoda Linda yang kemudian secepat kilat menarik mukanya menjauh dari pipi Gada.

“Kolonel, kami tahu anda yang terbaik. Jadi dengan ototritas yang diberikan kepada saya, tolong tanyakan pada orang di dalam sana dimana kelompoknya menahan Presiden,” Suprapto menyela kemesraan antara Linda dan Gada.

“Padahal aku ingin ibu letnan satu ini yang mengatakan hal itu,” Gada mengerling genit pada Linda dan berlalu.

Ia mengajak Alu masuk ke akuarium. Sesampainya disana Gada memberi kode pada penjaga untuk meninggalkan ruangan.

“Alu, fase pertama!” perintah Gada pada Alu.

Alu yang sudah paham dengan perintah itu lalu melepaskan borgol yang mengikat lelaki bertelanjang dada. Pelan tapi pasti, Alu meletakkan kedua tangan lelaki itu ke atas meja kemudian diikatnya dengan sabuk pengekang dari kulit berwarna coklat, menengadah. Kantong hitam yang menutup kepalanya dibuka.

Namanya Moses. Lelaki dari timur Indonesia berumur 35 tahun yang bermukim di Bogor. Rambutnya ikal hitam. Berjenggot dan berjambang, mirip Bang haji Rhoma Irama. Mukanya telah dihiasi lebam bekas pukulan. Tatapannya kosong.

“Moses, waktu kecil pernahkah kau bermain dokter-dokteran? Karena disini kita akan bermain permainan yang sama. Tapi kita akan memainkan peran yang berbeda. Kita akan bermain guru-guruan. Aku gurunya dan kau muridnya. Anggap saja sesi belajar mengajar kita sudah dilakukan. Nah sekarang waktunya ujian. Sebagai guru yang kreatif, ujian akan aku lakukan bukan dengan cara tertulis tetapi dengan cara verbal.

Aku bertanya dan kau menjawab. Jawaban benar akan mendapat nilai bagus. Tapi jika kau tidak menjawab atau jawabannmu salah, maka kau akan mendapat hukuman. Oke? Kita mulai,” Gada mengawali pertunjukkannya..

Linda dan lainnya menyaksikan dari ruangan lain melalui kaca besar tadi. Berharap Gada segera menyelesaikan tugasnya dan Presiden bisa segara diselamatkan.

(bersambung)
.
.
.
Klaten_31122013
Without mercy, without compassion, without remorse.

Facebook Comments

About Rendra

9 comments

  1. bikin penasaran…..
    cerita spionase begini, menaikkan adrenalin

    lanjut mas Rendra

    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gifSip! Dah lebih rapi….

  3. sambungane kapan ndan?

  4. Satu sendok teh bubuk Kopi Arabika dicampur dengan setengah sendok teh bubuk Kopi Nias lalu ditaburi satu sendok teh gula putih. Ketiganya diguyur dalam sebuah cangkir kecil dengan air mendidih.

    —-

    Gak pait itu ya?

    • Nikmatnya kopi itu di paitnya, Bu Ngil…
      Makanya saya kalo bikin kopi, temen saya nggak akan berani yang minta…paiiiiittt…

      *kok malah nyeritain saya ya? kan ini kopinya si Gada :roll:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif