Home » FIKSI » CerBung » Sang Penanya (Bagian 2)

Sang Penanya (Bagian 2)

Sebelumnya…

http://dareliman.or.id

http://dareliman.or.id

Linda dan lainnya menyaksikan dari ruangan lain melalui kaca besar tadi. Berharap Gada segera menyelesaikan tugasnya dan Presiden bisa segara diselamatkan.

********************

Moses hanya diam mendengarkan Gada berceloteh tentang permainan guru-guruan. Namun kini kepalnya mendongak perlahan. Bola matanya menatap tajam pada Gada.

“Oke..pertanyaan pertama, terakhir, dan satu-satunya : dimana kalian menyekap Presiden?” tanya Gada pada Moses. Tapi lagi-lagi Moses hanya diam sambil menatap Gada.

“Satu..dua..tiga..” Gada menghitung, dan di akhir hitungannya kepalan tangannya mendarat keras di muka Moses. Hidung Moses patah. Berdarah. Parah.

“Mungkin kau tadi kurang jelas mendengar pertanyaannku. Kalau begitu aku ulangi saja karena hari ini aku sedang baik hati,” Gada seperti sedang bermain drama. “Dimana kalian menyekap Presiden dan keluarganya?”

Kali ini Moses menyeringai, seperti sedang mengejek Gada dan orang-orang di ruang sebelah yang ikut menyaksikan dari balik kaca. Seringaian itu seketika hilang saat Gada menekan nyala ujung rokoknya ke telapak tangan Moses. Seringai tadi kini berubah menjadi wajah yang menahan kesakitan. Bau daging terbakar tercium samar.

“Alu, fase dua!” perintah Gada pada Alu yang langsung disambut anggukan kepala, tanda Alu telah mengerti apa maksud Gada.

Anak buah Gada itu melepaskan ikatan di kedua tangan Moses lalu memborgolnya di belakang sandaran kursi. Persis seperti posisi semula sebelum fase pertama dilaksanakan. Setelah dirasa kencang, Alu mengangkat meja di depannya menjauh dari Gada dan Moses. Kini Moses duduk terikat tak berdaya, sementara Gada berdiri tegap di hadapannya.

Gada menarik nafas dalam-dalam lalu dengan sekuat tenaga kaki kanannya diangkat. Kaki gempal bersepatu lars itu kemudian menghujam dada Moses. Begitu kerasnya hingga kursi yang sebenarnya telah dibaut mati dengan lantai itu lepas. Moses ambruk bersamanya. Darah segar meluncur dari mulut Moses yang terbatuk.

Gada kembali menarik sebatang rokok dari bungkusnya dan menyalakannya. Dengan santainya ia mendekati Moses lalu jongkok di dekatnya. Jarinya meraba-raba dada Moses, seperti mencari sesuatu. Pada tulang rusuk yang keenam itulah pencarian Gada berakhir. Gada menemukan apa yang dibutuhkannya, seruas tulang rusuk yang patah.

“Hey, Jagoan…dimana teman-temanmu menyekap Presiden?” Gada kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Moses. Ajaib. Kali ini Moses buka mulut.

“Aku tidak tahu,” jawab Moses terbata.

“Heemm…jawaban yang salah,” bisik Gada sambil menekan jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di ruas tulang rusuk Moses yang patah itu. Moses menjerit, berteriak, hampir menangis.

Linda menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menyilang di perut untuk menyangga tangan kanan. Matanya tampak begitu keras menahan air mata agar jangan sampai keluar. Bagaimanapun juga Linda adalah seorang wanita. Dan selama karirnya ia tidak pernah diajarkan ataupun melakukan interogasi semacam ini.

“Bukan seperti ini yang ingin aku lihat,” Linda berbisik pada Pak Wijaya.

“Semua cara harus diusahakan, Linda..demi keselamatan Presiden dan keluarganya,” jawab Pak Wijaya.

“Tapi ini melanggar HAM, Pak…kita tentara bukan pembunuh,” Linda masih mendebat.

“Ya..memang. Siapa bilang kita akan membunuh? Kau lihat si Moses masih hidup kan?” jawab Pak Wijaya.

Linda menyerah tak berani lagi membantah. Ia lanjutkan menonton Gada dan Alu melangsungkan pertunjukkan. Menyaksikan Moses menerima pukulan berkali-kali di mukanya. Mendengar Gada bertubi-tubi menanyakan pertanyaan yang sama.

“Oke Alu…sepertinya orang ini lumayan tangguh juga. Siapkan fase ketiga,” perintah Gada.

Alu mengambil sebuah handuk tebal berwarna hitam dan sebotol besar air putih. Sedangkan Gada menyarangkan kepalan tangannya, sebuah uppercut tepat di dagu Moses yang membuatnya jatuh terjengkang masih dengan tangan dan kaki tertambat di kursi.

“Moses, dimana teman-temanmu menahan Presiden?” tanya Gada dengan cepat.

“Aku tidak tahu,” Moses menjawab masih dalam posisinya terlentang, wajahnya mengahadap ke langit-langi ruangan.

Alu langsung membekapkan handuk hitam tebal ke wajah Moses yang menengadah . Handuk berfungsi untuk menutup jalan nafas lewat hidung. Maka ketika Moses membuka mulutnya–yang juga tertutup handuk—untuk mencoba bernafas, Gada segera menuangkan air ke dalamnya. Seberapapun kuatnya Moses mencoba memuntahkan air di dalam mulutnya, tetap saja tidak bisa karena tertahan oleh handuk yang dibekapkan tadi. Meminumnya adalah pilihan paling realistis, walaupun pasti tersedak hebat. Pada dasarnya sama seperti mencelupkan kepala orang ke dalam wadah berisi air, tetapi cara ini lebih efektif, efisien tempat, dan tentunya efisien tenaga.

Lima detik dan Alu membuka bekapannya. “Dimana kalian menyekap Presiden, Moses? Katakan!” Gada mulai berteriak. Moses tak menjawab, hanya batuk saja. Tersedak oleh air.

Alu membekap wajah Moses untuk kedua kalinya. Gada langsung menuangkan air di wajahnya. Moses berusaha berontak, tapi kaki dan tangannya terbelenggu. Kini lebih lama, sepuluh detik. Alu membuka bekapan handuknya. Gada masih menanyakan pertanyaan yang sama, meskipun redaksinya berubah-ubah.

Linda mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sebuah upaya upaya agar emosinya tidak meledak secara tiba-tiba. Sebagai tentara ia memang ingin Presiden dan keluarganya segera diselamatkan, tetapi sebagai wanita ia tak tega melihat penyiksaan yang dilakukan oleh Gada dan Alu.

“Pak Suprapto, hentikan semuanya! Tolong…” Linda tak bisa menahan emosinya lagi. Matanya berkaca-kaca. Ia mendatangi Pak Suprapto.

“Jangan, Pak! Biarkan Gada bekerja!” Pak Wijaya tak mau Linda mengganggu pekerjaan anak buahnya.

“Gada akan membunuhnya, Pak Wijaya! Kalau Moses terbunuh kita tidak akan bisa menemukan Presiden dan keluarganya!” bantah Linda.

“Gada akan menyelesaikan tugasnya!” Pak Wijaya tak mau kalah.

“Linda! Kalau kau ingin menyelamatkan Presidean, kau harus membiarkan Gada bekerja. Kalau tidak bisa melihatnya silakan keluar dari sini!” bentak Pak Suprapto.

Linda terdiam.

Sudah kali ketujuh Moses menerima gelontoran air dengan handuk membekap wajahnya, tapi bukan jawaban yang didapatkan oleh Gada. Gada hanya mendapatkan Moses terbatuk, tersedak dengan raut wajah menyedihkan menahan siksaan.

Ketika Gada akan melancarkan aksi yang sama untuk ke delapan kalinya Linda tiba-tiba berlari masuk ke ruangan interogasi. Dibukanya pintu dengan kasar dan tergesa-gesa. Gada menengok ke arah pintu, dan…

Jlaagg…!! Kaki jenjang Linda menghantam tubuh Gada. Ia coba menghentikan pertunjukkan trio Gada, Alu, dan Moses.

Gada terjengkang dari jongkoknya. Pak Suprapto dan Pak Wijaya segera berlari menyusul. Di belakang mereka anak buah Linda mengikuti.

(bersambung)
.
.
.
Klaten_31122013
Wanita oh wanita…

Facebook Comments

About Rendra

4 comments

  1. waah, meskipun ngeri jijik ga tega dan entah rasa apalagi yang ada di kepalaku, tapi teteeeeppp…..menunggu lanjutannya

    lantai ruang interogasinya pasti sudah merah hingga ke ujung-ujungnya tuuh

    menarik, makin penasaran, lanjuuuuttt mas Rendra :2thumbup

  2. #nggelar karpet, sangu marshmallow#

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif