Home » FIKSI » CerBung » Sang Penanya (Bagian 3)

Sang Penanya (Bagian 3)

http://dareliman.or.id

http://dareliman.or.id

Sebelumnya…

Gada terjengkang dari jongkoknya. Pak Suprapto dan Pak Wijaya segera berlari menyusul. Di belakang mereka anak buah Linda mengikuti.

*****************************************

Gada kaget, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Dadanya nyeri bukan main. Hebat juga kaki wanita ini, pikir Gada. Tapi lagi-lagi ia berusaha menahan linu di dadanya. Menampakkan muka kesakitan akan berpengaruh pada turunnya tingkat teror yang telah ia berikan pada Moses. Gada tidak akan tampak jumawa lagi di hadapan Moses. Dan Gada tidak akan membiarkan itu terjadi.

Yang lain hanya diam, menyimpan geram dalam-dalam. Kunci keberhasilan sebuah interogasi adalah kekompakan tim. Perbedaan pandangan antar para interogator akan berakibat fatal. Seharusnya semua yang ada di ruangan itu sudah tahu. Tapi Linda?

Linda mendudukkan Moses—tetap dengan kaki dan tangan terikat, berlutut di hadapannya. Dipandanginya wajah basah Moses yang tertunduk lemah. Nafasnya pendek-pendek, mungkin akibat dada yang sesak karena tulang rusuknya patah oleh kaki Gada. Sisa air di tenggorokan juga masih membuatnya terbatuk.

“Moses, dimana tempat Presiden dan keluarganya diculik? Tolong katakan, Moses…katakan tempatnya dan semuanya akan berakhir. Aku berjanji kau akan segera dilepaskan. Tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi Gada, tidak ada lagi semua ini. Tapi sebelumnya kau harus memberitahu kami dimana tempatnya,” suara Linda bergetar menahan air mata agar jangan sampai tertumpah di hadapan Moses.

Melihat wajah Linda, tangis Moses pecah juga. Sementara Gada dan yang lain meninggalkan mereka berdua. “Bodoh,”gerutu Gada sambil melangkah keluar ruangan.

“Aku tidak bisa…mereka akan membunuh istriku,” kata Moses sesenggukan.

“Siapa? Siapa yang akan membunuh istrimu?” Linda mencoba mengejar jawaban Moses dengan pertanyaan lain. “Dimana mereka? kami akan menemukannya. Kami akan menyelamatkannya!”

Moses hanya menggeleng sambil terus terisak. Pendekatan lembut Linda ternyata telah meruntuhkan benteng dalam hati Moses yang selama ini coba didobrak oleh Gada dengan berbagai macam teknik penyiksaan tapi gagal.

Gada melihat dari ruangan lain sambil menyalakan rokok dan meminum kopi buatannya yang kini telah dingin. Pak Suprapto duduk termenung. Sebatang cerutu terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Berbeda dengan Pak Wijaya yang tampak sekali gelisah. Ia mondar-mandir seperti seorang suami yang sedang cemas menunggu istrinya melahirkan. Berkali-kali Pak Wijaya melirik jam tangannya.

Cangkir kopi Gada telah kosong saat Linda keluar dari ruang interogasi, meninggalkan Moses dengan seorang penjaga di dalamnya. Kaki dan tangannya terbelenggu. Kepalanya tertunduk dengan rambut yang basah. Mukanya pucat dihiasi lebam di beberapa sudut. Darah masih ada yang menetes dari hidung dan mulutnya. Nafasnya terengah karena rusuknya patah.

“Dapat sesuatu, Tuan Putri?” Gada mengejek Linda. Tapi Linda tak berkutik. Ia langsung duduk dan menangis. Bukan tangisan seorang tentara, tapi tangisan seorang wanita yang lembut hatinya.

“Gada, lanjutkan! Selesaikan pekerjaanmu. Kita harus segera menemukan Presiden,” perintah Pak Wijaya.

“Beri dia istirahat, Pak. Lima belas menit untuk memulihkan tenaganya,” jawab Gada

“Kau pikir ini apa, Kolonel? Sekolah? Tidak ada waktu istirahat! Kita harus segera mendapatkan info darinya!” sergah Pak Suprapto.

Gada menghela nafas sambil melangkah, mendekati Pak Suprapto. “Saya bilang istirahat lima belas menit, Pak. Moses butuh istirahat. Moses harus punya tenaga. Karena hanya dengan tenaga dia bisa merasakan semua yang saya berikan kepadanya,” kata Moses. “Lagipula saya kehabisan kopi. Oke?”

Gada berjalan ke dapur untuk meracik secangkir kopi lagi. Tiba-tiba Linda berdiri, menghampirinya lalu memakinya,”Kamu menikmati ini semua kan? Dasar orang gila! Psikopat! Kamu bukan tentara! Kamu bukan perwira! Kamu pembunuh!”

“Linda!” hardik Pak Wijaya, yang tak digubris oleh Linda.

“Ingat, Gada! Hukum karma akan mendatangimu. Suatu saat kau akan melihat keluargamu diperlakukan seperti Moses! Suatu saat kau akan menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri keluargamu sedang disiksa seperti Moses! Dan kau akan menyesali semua perbuatanmu ini, Gada! Kau akan menyesal!” Linda melanjutkan sumpah serapahnya pada Gada.

“Letnan Linda! Cukup!” Pak Wijaya kembali memperingatkan Linda untuk berhenti.

“Biarkan saja, Pak Wijaya. Jarang sekali seorang letnan memarahi kolonel,” kata Gada dengan tenang sambil berlalu meninggalkan Linda.

Tapi Linda belum berhenti. “Aku akan memastikan kau diajukan ke Pengadilan Militer, Gada! Ingat itu!” ancam Linda.

Gada berhenti sejenak, menengok ke belakang. Sambil tersenyum ia berkata, “Tidak usah repot-repot, Linda…tanpa itupun  aku sudah berada di dalam penjara.”

Sebuah kalimat sederhana tetapi sulit bagi Linda untuk mengetahui maksudnya. Namun tekad Linda sudah bulat. Ketika semua ini berakhir, ia akan melaporkan semua kejadian di ruang interogasi. Ia akan mengajukan Gada ke Pengadilan Militer.

Sepeninggal Gada, Pak Wijaya mendekati Linda yang tampak lemah. Matanya sembab. “Linda…kalau boleh aku memberi saran, jangan pernah membicarakan keluarga Gada di depannya,” Pak Wijaya mengawali ceritanya.

“Memangnya kenapa dengan keluarganya? Apa sama psikopatnya dengan dia?” tanya Linda dengan nada sinis.

“Hhhhh…bukan itu,” Pak Wijaya menghela nafas panjang, seperti ada sesuatu yang ditahannya. “Dulu Kolonel Gada adalah agen lapangan terbaik di BIN. Banyak misi yang telah dijalankannya dengan sukses. Jaringan teroris di Malaysia, kartel narkoba di Thailand, perdagangan senjata illegal di Burma, penyelundupan plutonium di China. Tinggal kau sebut saja, dia pernah melakukannya. Kau tahu Thaksin Shinawatra? Gada adalah satu-satunya agen rahasia yang berhasil menjalankan skenario penggulingan kekuasaannya. MI6, CIA, NSA, KGB semuanya gagal. Dengan prestasinya itu tak heran ia sudah berpangkat Kolonel saat umurnya baru 27.

“Sayangnya semua itu harus dibayar mahal olehnya. Orang-orang yang merasa dirugikan oleh aksi Gada mulai mengincarnya, mengincar keluarganya. Suatu hari orang-orang mantan pendukung Thaksin mendatangi ayah dan ibunya Gada yang sedang berlibur di Kepulauan Karimunjawa. Mereka berdua dibunuh. Kepalanya dipenggal dan ditaruh di depan rumah Gada. Saat itu Gada yang sedang bertugas di Mesir bersama dengan dua orang agen KGB langsung dipanggil pulang. Saat dalam perjalanan dari Bandara Halim, mobilnya diserang sekelompok orang tidak dikenal. Tapi dia selamat dan hanya menderita luka tembak di kaki dan pundaknya.

“Sejak saat itu Gada tidak pernah lagi dikirim ke lapangan. Selain untuk menjaga keselamatannya, ditambah lagi kekhawatiran para jenderal bahwa kesetian Gada pada negara akan goyah setelah kejadian yang menimpa orang tuanya itu. Akan sangat berbahaya jika Gada membelot dengan ratusan info rahasia yang ia punya. Maka jadilah Kolonel Gada yang sekarang.”

Linda hanya terdiam. Ada rasa bersalah menjalar di sekujur perasaannya karena telah memaki Gada dan keluarganya. Tak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Linda bahwa Gada telah melewati semua yang diceritakan Pak Wijaya. Linda sama sekali tak mengira bahwa Gada sampai kehilangan orang tuanya karena menjalankan tugas negara. Tapi semua sudah terlambat. Sumpah serapah telah meluncur mulus dari mulutnya dan itu tidak bisa di-undo atau di-delete.

“Kisah yang menyentuh hah? Letnan Linda?” tiba-tiba Gada keluar dari dapur membawa kopi dan rokoknya yang mengepul. Linda hanya diam. Pak Wijaya bangkit dari kursinya. Sementara Gada terus berjalan ke ruang interogasi. Memberikan kode pada Alu untuk mengikutinya.

Saat akan membuka pintu ruang interogasi Gada berhenti. “Letnan Linda, kalau ingin menemukan Presiden kiita harus bekerjasama,” pinta Gada yang kemudian membukakan pintu, mempersilakan Linda untuk ikut masuk. “Musuh kita kejam, Letnan. Oleh karenanya kita juga harus kejam.”

Entah sihir apa yang telah menguasai perasaan Linda. Kini ia seperti mendapatkan kekuatan baru. Ia merasakan ada kekuatan lain di hatinya yang membuatnya menyanggupi permintaan Gada. Linda masuk ke ruang interogasi bersama dengan Gada dan Alu.

“Bangun, Moses. Kau sudah cukup beristirahat,” kata Gada sambil menepuk-nepuk wajah Moses. “Sekarang waktunya kau mengatakan dimana Presiden ditahan?”

Moses kembali diam, membuat amarah Gada memuncak.

“Bangsat kau, Moses!!” teriak Gada sambil melemparkan air kopinya ke wajah Moses. Tak pelak Moses menjerit kesakitan karena panasnya kopi yang baru saja diseduh itu.

Gada kini berdiri di belakang Moses. Tangan kirinya memegangi dagu Moses, memaksa kepala Moses mendongak. Seketika itu sebuah bara api dari rokok yang tadi sedang dinikmatinya kini terhujam tepat ke leher Moses. Moses berontak, coba berteriak tapi rahangnya terkunci cengkeraman tangan Gada.

“Katakan dimana Presiden berada sekarang, Moses! Aku bisa melakukan ini seharian penuh kalau kau mau!” teriak Gada tepat di samping telinga Moses. Lagi-lagi hanya tangis yang keluar dari mulut Moses.

“Alu, fase ketiga!” Gada kembali memberikan perintah kenaikan fase pada Alu sambil melepaskan cengkeramannya pada Moses.

Alu seperti biasanya langsung mengerti perintah yang diberikan Gada. Ia mengambil sebuah golok dari dalam tas perlengkapan. Menyerahkannya pada Gada lalu mendekati Moses.

Moses kini tampak ketakutan melihat Gada menggenggam sebuah golok yang berkilauan diterpa cahaya lampu. Ia berontak. Berteriak. Menggoncang-goncangkan badannya, berusaha melepaskan tangan dan kakinya dari belenggu.

Namun semua usaha itu percuma. Karena kini Alu telah berada di dekatnya, bersiap mencengkeramnya. Sementara Linda mencoba bertahan menyaksikan.

.

.

.

Klaten_02012014

Apa yang akan dilakukan Gada dengan goloknya? See you next episode..

Facebook Comments

About Rendra

2 comments

  1. makin menarik mas Rendra…makin nggak sabar menunggu lanjutannya
    siiiippphttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif