Home » FIKSI » CerBung » Sang Penanya (Bagian 4)

Sang Penanya (Bagian 4)

http://dareliman.or.id

http://dareliman.or.id

Sebelumnya…

 

Moses kini tampak ketakutan melihat Gada menggenggam sebuah golok yang berkilauan diterpa cahaya lampu. Ia berontak. Berteriak. Menggoncang-goncangkan badannya, berusaha melepaskan tangan dan kakinya dari belenggu.

 

******************************

 

Tak perlu tenaga ekstra, Alu telah memindahkan kedua tangan Moses ke atas meja–dalam keadaan terikat tentunya. Segera setelah Alu menyingkir Gada mendekati Moses. “Moses, dimana Presiden?” tanya Moses sekali lagi. Moses menggeleng.

So unwise,” bisik Gada sambil mengayunkan goloknya. Dan slaasshh…!!! Seruas ibu jari putus…menggelinding di atas meja dengan siraman darah kental. Moses menjerit kesakitan.

“Kau punya sisa sembilan jari, Moses. Tiap aku hitung sampai tiga dan kau tetap tidak mau mengatakan dimana Presiden diculik, kau akan kehilangan satu jarimu,” kata Gada. “Satu…dua…tiga..”

Slaasshh..!!! golok terayun, telunjuk Moses hilang.

“Satu…dua…tiga…” Gada menghitung lagi, tapi Moses hanya berteriak menahan perih dan nyeri.

Slaaasshhh…!!! Sebuah jari tengah terpisah dari kawanannya oleh mata golok yang berkilau-kilau. Moses menangis.

“Ayo, Moses! Kau tinggal punya tujuh jari..!! Satu…dua…tiga…”

Crrraasss…!!! Jari manis Moses menggelinding, berkumpul dengan potongan-potongan jari yang lain. Genangan darah membasahi meja.

“Moses…satu…dua…tiga…” Gada memainkan goloknya, seperti sangat menikmati apa yang dia lakukan.

“Anjiiing…!!! Bunuh aku, Bangsaaat..!! Bunuh saja aku..!!!” teriak Moses sebelum jari kelingkingnya sempat terpotong oleh golok. Tangisnya makin menjadi.

Gada terhenti sejenak, mengamati Moses. Ia seperti sedang mencari-cari sesuatu dari dalam mata Moses. Kebodohan atau keberaniankah yang memenuhi otak si Moses ini? tanya Gada dalam hati.

“Sabar, Moses…aku pasti membunuhmu. Tapi nanti. Sekarang aku akan bermain-main denganmu dulu,” jawab Gada sambil menempelkan goloknya di atas jari kelingking Moses. Ia berniat memotongnya pelan-pelan, menggoroknya.

Linda hanya terdiam. Mencoba menguasai dirinya saat melihat jari-jari Moses dieksekusi satu persatu oleh Gada. Rasa iba menjalar di hatinya. Jantungnya berdegup kencang saat dengan santainya Gada mulai mengiris jari kelingking Moses. Perlahan. Satu inchi demi satu inchi mata goloknya menyayat kulit, kemudian urat dan dagingnya mulai robek. Darah mulai merangsek keluar dari pembuluh yang bocor. Masuk lebih dalam lagi, seruas tulang beradu gesek dengan mata golok yang digerakkan maju mundur seperti orang menggergaji.

Jeritan dan tangisan pilu Moses tak membuat Gada tampak sedih atau setidaknya menyisakan sedikit iba untuk orang yang diinterogasinya. Bahkan ia membalas tangisan, jeritan, dan erangan Moses dengan mendendangkan sebuah lagu. Seperti tak peduli dengan apa yang mungkin dirasakan Moses.

Linda mendekati Moses, memegangi tangan kanannya yang masih utuh—entah untuk berapa lama. Gada masih asyik menggesekkan mata goloknya ke dalam jari kelingking Moses yang sudah hampir putus. “Moses, beri tahu kami dimana Presiden,” kata Linda.

“Tolong hentikan…tolong aku…” Moses mengiba pada Linda.

“Iya tapi katakan dimana Presiden! Kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, Moses…caranya dengan memberi tahu kami dimana Presiden berada sekarang!” Linda coba meyakinkan Moses.

“Oke! Oke! Aku akan bilang dimana Presiden sekarang!” kata Moses disela tangisnya. Tapi Gada bergeming. Goloknya masih menari-nari di jari kelingking Moses yang tulang dan dagingnya telah putus. Hanya beberapa inchi kulit saja yang membuat jari itu belum putus sepenuhnya.

“Gada! Cukup!” hardik Linda. Gada berhenti. Sejenak membatu. Lalu mengangkat goloknya.

Ia mengambil kain kecil dari dalam tas perlengkapannya untuk mengusap bekas darah Moses yang berlumuran di goloknya. Hatinya tertawa. Tawa kemenangan. Memang hal inilah yang diharapkan Gada. Moses itu ibarat gelas kaca. Membantingnya hanya akan membuatnya hancur berantakan. Diperlukan air panas dan bongkahan es batu untuk bisa membuatnya retak sedikit demi sedikit, menciptakan celah.

Dia dan Alu keluar dari ruang interogasi untuk memberikan kesempatan bagi Linda untuk memanfaatkan celah yang telah tercipta. Untuk mengorek sebanyak-banyaknya keterangan dari Moses.

“Kolonel, apa yang kau lakukan? Kenapa kau keluar? Dan kenapa Linda kau biarkan di sana? Apa yang mereka berdua bicarakan?” Pak Suprapto memberondongkan pertanyaan pada Gada.

“Lebih baik kita tanyakan pada Linda saat dia keluar dari sana. Oke?” jawab Gada santai sambil merogoh sakunya, hendak merokok.

“Kolonel, kita tidak punya banyak waktu! Cepat segera selesaikan tugasmu!” suara Pak Suprapto meninggi.

Mendengar ada kegeraman dalam suara pak Suprapto, Gada batal menyalakan rokoknya. Ditatapnya mata lelaki paruh baya itu. “Anda pikir saya sedang apa? Apa saya kelihatan sedang berlibur?” kata Gada.

“Kalau kamu memang sedang melakukan tugasmu, harusnya Linda tidak sedang dengan Moses sekarang! Sementara kamu enak-enakan merokok! Kalau dari tadi kamu melakukan tugasmu, harusnya sekarang Presiden sudah ketemu! Tapi apa yang kita dapat, heh?!” Pak Suprapto tampak jengah dengan kelakuan Gada.

Gada tak menggubrisnya. Ia malah lanjut menyalakan gulungan nikotin yang tadi sempat terhenti. Sambil menikmatinya ia mendekati Pak Suprapto. “Anda boleh memaksa saya melakukan tugas ini. Tapi jangan pernah sekalipun mendikte bagaimana saya melakukannya,” kata Gada. Ketus.

“Hei, Gada! Apa ini termasuk dalam prosedur interogasi versi Kolonel Gada?” Pak Wijaya menyela. Tangannya menunjuk ke dalam ruang interogasi.

Di sana tampak Linda telah melepaskan ikatan di tangan dan kaki Moses. Ia kemudian membalut tangan kiri Moses yang putus jari-jarinya untuk menghentikan pendarahan. Memberinya minum dari air dalam botol besar. Mengusap-usap kepala Moses, seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Sementara Moses hanya menangis, sesekali meringis menahan perih.

Gada tercengang. Bukan ini yang ia rencanakan tadi. Seharusnya Linda hanya boleh menanyai Moses saja. Dia tidak punya kewenangan untuk melepaskan Moses. Rencana Gada meleset.

Belum sempat tersadar dari ketercengangan, mereka dikejutkan oleh pemandangan yang di luar perkiraan. Moses memukul kepala Linda dengan tangan kanannya hingga gadis itu terjatuh. Kepalanya membentur tepian meja. Moses rupanya telah merencanakan ini semua. Dicabutnya pistol yang terpasang di pinggang Linda.

Linda terhuyung. Bangkit sambil memegangi kepalanya. Pandangannya kabur seperti orang baru bangun tidur. Belum lagi sempat berdiri tegak, ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sebuah lengan tanpa jari melingkar erat di lehernya. Bibir laras pistol menempel di kepalanya. Moses menyandera Linda.

.

.

.

Klaten_10012014

Berhasilkah Moses melarikan diri dengan cara menyandera Linda? Ahaaayy…kita tunggu saja…

Facebook Comments

About Rendra

2 comments

  1. Hadooooooh…. bikin sport jantuuuuuung….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif