Home » FIKSI » CerBung » Nana [17] – Sebuah Pencarian

Nana [17] – Sebuah Pencarian

sumber gambar : mboir.com

sumber gambar : mboir.blogpsot.com

Dua bulan sudah Andre sibuk membolak balik halaman iklan surat kabar di kolom Rumah Dijual. Selama itu pula ia mati-matian menyembunyikan persoalan yang membelitnya di perusahaannya.

Senyumnya mengembang ketika sebuah iklan mini menarik perhatiannya.

Dijual: Sebuah rumah 2 lantai, 3 kamar tidur dengan kamar mandi dalam, kamar tamu, ruang keluarga, dapur, carport, listrik 900 watt, lingkungan nyaman dan tenang, masuk 100m dari jalan raya. Peminat serius hubungi no hape: 081******811 dengan Bastian.

Diraihnya hapenya, lalu ia pun sibuk menelepon nomor yang tertera di iklan mini itu. Meike yang sedang sibuk membuat kue di dapur berusaha menajamkan telinganya. Ia ingin tahu apa yang dibicarakan Andre di telepon.

 

“Maaa……. Kuenya sudah matang belum? Udah pengin nyicip…….,” Nana muncul dari balik pintu samping. Ia mengusap-usap perutnya sambil tertawa lebar. Meike mencubit pipinya gemas.
“Bantuin mama dong, baru nanti mama bagi chiffon cakenya untukmu. Irisan yang paling besar….,” goda Meike. Nana cemberut. Matanya berkerjap-kerjap seolah ingin menangis.
“Aduuhh, anak mama. Jangan menangis. Sini……sini…..,’ Meike luluh hatinya. Ditariknya Nana ke dalam pelukannya dengan sayang.

Sambil merengkuh Nana, Meike berusaha mencuri dengar pembicaraan Andre. Namun rengekan dan celoteh Nana membuatnya harus memusatkan perhatian pada anak gadisnya.
“Ambilkan piring ceper itu Na, yang bergambar kembang-kembang warna biru ….,” Meike sibuk memasang celemek lalu meraih cempol di samping meja dapur. Dibukanya tutup oven dengan hati-hati, dikeluarkannya loyang yang berisi chiffon cake yang berkepul-kepul. Panas.

Wajah Nana sumringah. Hidungnya kembang kempis membaui aroma kue kesukaannya. Selesai meletakkan piring ceper itu, Nana menyodorkan piring dan pisau pemotong roti. Meike tertawa geli. Diacaknya poni rambut Nana yang basah oleh keringat.
“Sabaar sayang….ini masih panas. Belum bisa diiris…….,” Meike mentowel pipi Nana lembut.

 

Andre masih berkutat dengan surat kabar harian dan telepon genggamnya.

* * *

Sudah hampir tengah malam ketika Andre memasuki halaman rumahnya. Wajahnya kusut, kelelahan tergambar jelas.
“Mei….bisa kita bicara sebentar?”
“Apa kau nggak terlalu lelah? Besok pagi saja, sambil sarapan…..,” tawar isterinya lembut.
“Mumpung Nana tidur ma……aku ingin mama dulu yang mengetahuinya…..,”
“Baiklah. Kubuatkan kopi susu dulu yaa……,” Meike beranjak ke dapur menyeduh kopi kesukaan Andre.
“Ini……..,” diletakkannya cangkir kopi itu di hadapan suaminya. Meike duduk diam, menunggu.

Hening. Tak ada suara. Bahkan helaan nafas Andre terdengar seperti hisapan mesin penyedot debu.
“Ma…….kita ……. Kita harus pindah dari rumah ini….”

Lalu meluncurlah sederetan cerita yang selama ini ditahan-tahan Andre. Tentang perusahaan yang hampir bangkrut, tentang PHK sebagian besar karyawan, tentang kemungkinan Andre harus mencari pekerjaan lain…….dan tentang kemungkinan mereka harus pindah rumah. Meike tertegun. Sudah demikian parahkah kondisi perusahaan tempat Andre bekerja? Bodohnya aku, kenapa tak menyadari bila Andre sedang punya masalah di kantornya? Aku yang tenang- tenang saja di rumah….., Meike merutuki dirinya sendiri.

“Tenang ma, aku sudah punya rencana lain…..,” Andre seperti bisa membaca keresahan hati Meike.
“Kita jual rumah ini, setelahnya…..kita akan buka usaha baru….,”
Meike masih diam menimbang-nimbang.

“Bagaimana? Kau siap meninggalkan semua kemewahan ini?” tanyanya serius. Dipandanginya wajah teduh isterinya. Dalam hatinya Andre merutuki dirinya sendiri. Ia menyesali keputusannya bekerja sama dengan temannya semasa kuliah. Siapa nyana, temannya itu justru telah menohoknya dari belakang? Ia kecewa dan menyalahkan diri sendiri, tak membicarakan persoalan sebesar itu dengan Meike. Bukankah seharusnya Meike ikut dilibatkan saat ia mengambil keputusan dulu? Tak henti-hentinya Andre menyumpah-nyumpah dalam hati.

“Aku isterimu mas. Aku akan ikut kemana mas pergi. Bukankah seorang isteri itu harus selalu ada di samping suaminya, dalam susah dan senang?” jawab Meike mantap.

 

=====%%%%%%%=====

Facebook Comments

About enggar

4 comments

  1. aduh, nanda banyak ketinggalan nih ma, udah episode 17

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif