Home » FIKSI » CerBung » Nana [24] – Saat Untuk Bangkit

Nana [24] – Saat Untuk Bangkit

bangkitRumah jadi terasa lebih sepi sejak Nana diijinkan pulang ke rumah. Celetukannya, senandungnya, hingar bingar kamarnya setiap kali Nana ada di rumah, seakan lenyap tak berbekas. Hanya sesekali terdengar keriut kursi rodanya yang bergeser dari ambang jendela, atau ketak ketuk kruknya saat Nana berpindah tempat.
Jendela lantai dua rumahnya menjadi satu-satunya tempat Nana mengasingkan diri. Merutuki nasibnya, menangisi kaki kirinya yang buntung hingga lutut, menyesali kenekatannya mendaki meskipun mamanya telah melarangnya……
“Naaa……ikut mama ke kebun krisan yuukk…..,” bujuk Meike. Ia sudah siap ke kebun rupanya. Sepatu booth warna kuning, celemek berbahan kulit sintetis berwarna kuning juga, topi lebar dari anyaman bambu di cat hijau daun dengan hiasan bunga-bunga plastik berwarna kuning…….tak lupa kaca mata lebar berwarna coklat tua yang melindungi dari sinar matahari. Cantik sekali.
Diam-diam Nana memperhatikan mamanya dari samping. Masih nampak cantik dan menarik di usia yang setengah baya.
“Heii….Nana…..,” Meike menggoyang-goyangkan tangannya di depan Nana. “Kok malah bengong? Mama keliatan kaya badut Ancol gitu?”
“Nana nggak ingin pandang kasihan dari mereka ma…..,” jawabnya lirih. “Nana yang biasa beredar kemana-mana, sekarang harus tergantung di kursi roda, juga kruk sialan ini….,” ia membanting penyangga itu sekuat tenaga. Air mata mengalir turun di pipinya.
“Heii….anak mama. Kenapa membahas soal itu lagi?” Meike berusaha menekan suaranya yang tercekat menahan tangis.
“Mereka justru akan angkat kedua jempolnya kalau Nana mau bangkit. Beraktifitas seperti sedia kala seperti sebelum sebelumnya. Percaya sama mama…..”
“Tapi maa….Nana malu. Apa kata orang nanti kalau Nana pakai kruk ke kebun? Toh Nana nggak bisa apa-apa di sana?”
“Siapa bilang nggak bisa apa-apa? Hari ini kita akan panen bunga krisan kuning di petak 39 dan 40. Nana bisa bantu mama mencatat setoran dari para petani penggarap. Sudah lama kau tak ketemu Irsan kan? Dia sering sekali menanyakanmu…..,” goda Meike.

“Nanaaa….yuhuuuu…..,” suara langkah Andre beradu kencang dengan siulannya yang riang. Sepatu booth yang dikenakannya mengetuk-ngetuk tangga penuh irama. Ia membungkuk sambil mengangkat topinya, membuat Nana tersenyum melihatnya.
“Jadi kita berangkat?” tanyanya jenaka. Mata kirinya dikedipkan ke arah Meike yang mengangguk lega.
Beriringan mereka turun ke lantai satu, Andre sengaja menggandeng Meike dan mengacuhkan Nana yang terseok-seok menuruni tangga. Mereka sengaja membiarkan Nana berusaha sendiri.
Bertiga mereka duduk di ujung bak pick up, menghadap ke belakang. Andre menggoyang-goyang tubuhnya mengikuti lagu dangdut yang distel keras-keras dari ruang kemudi. Pak Parno mengacungkan jempolnya sambil tergelak-gelak.
“Pa, kau lihat Nana? Dia mulai bisa tersenyum…..,” Meike menyikut lengan suaminya sambil berbisik.
Andre bangkit dari duduknya lalu mengangkat tangan Nana mengikuti goyangan tubuhnya sambil tertawa-tawa. Meskipun pada mulanya Nana menolak, tetapi Andre terus saja berjoget ria. Tak dipedulikannya wajah Nana yang merengut.

************
Andre segera tenggelam dalam kesibukannya menerima dan mencatat bunga krisan hasil panen para penggarap. Meike menyibukkan dirinya dengan menyusuri petak demi petak kebun krisan yang belum waktunya dipanen. Ia meninggalkan Nana duduk sendirian di bangku panjang. Kruknya tergeletak di sisi kiri kursinya, se jangkauan tangan.
“Kita jalan-jalan yuuk….,” Nana terdongak kaget. Irsan sudah berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangannya.
“Kita?” Nana menunjuk dirinya sendiri. “Kau….tidak malu jalan denganku? Memakai kruk ini?”
“Memangnya Nana nggak bisa jalan? Harus kugendong?……Hayuuukkk, sini….,” Irsan menggoda Nana. Ia berjongkok membelakangi Nana.
“Tapiiii…..tapiii……,” Nana menggeleng-geleng, pipinya bersemu merah. Apa Irsan benar-benar akan mendukungku di punggungnya? Enggak aah, aku malu. Masa digendong?
Nana meraih kruknya, memasangkannya di ketiak dan mulai melangkah. Irsan yang berjalan di sampingnya tak berusaha membantu gadis itu yang terseok-seok. Dibiarkannya Nana memilih pijakan sendiri meskipun agak kesulitan.
Andre mengacungkan jempolnya saat Irsan menoleh ke arahnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Nana.

Kini Irsan menjadi pengunjung tetap di setiap malam Minggu. Rumah bertingkat dua itu tak lagi sepi dan lengang. Nana sudah mulai sering tersenyum, sesekali tertawa bila Irsan mencandainya. Aah, diam-diam Andre dan Meike mengelus dada. Lega.

=====%%%%%%%=====

Facebook Comments

About enggar

4 comments

  1. Suka … :Dhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif