Home » FIKSI » CerBung » Nana [25] – Kebetulan atau Kemudahan DariNya?

Nana [25] – Kebetulan atau Kemudahan DariNya?

bermain-dadu

Widagdo tak menyerah begitu saja. Ia gigih bertanya kepada orang-orang yang dianggapnya mengerti kemana Andre dan Meike pindah rumah. Entah kebetulan atau ini rencana Allah, Dagdo membaca juga iklan rumah dijual yang dilihat oleh Andre.
“Halloo…. Mas Bastian? Saya Dagdo. Saya membaca iklan koran anda tentang rumah yang dijual itu. Boleh saya melihatnya? Alamatnya dimana?…..,” pagi itu Nana mendengar Dagdo tengah menelepon seseorang. Ia agak terkejut saat disadarinya suaminya tengah bertanya-tanya tentang rumah yang dijual.
Rumah? Bukankah mereka sudah punya? Kenapa….kenapa mas Dagdo mau beli rumah lagi? Untuk apa? Nana tak habis pikir. Sekian lama mereka berumah tangga, sekian lama pula penghuni rumah mungil mereka tak juga bertambah. Siapa yang akan mendiaminya nanti?

“Maas……siapa yang ditelepon pagi-pagi?” Nana meletakkan secangkir kopi yang masih panas ke hadapan Dagdo. Asbak yang penuh berisi punting rokok itu diambilnya, digantinya dengan asbak baru yang bersih.
“Mas nanyain rumah yang diiklankan mau dijual. Mas minta alamatnya tadi. Nanti siang kita tengok yuukk…siapa tahu tertarik? Sudah lama kita nggak jalan-jalan ke Kaliurang…..,” Dagdo mencandai Nana.
“Memangnya mas mau ngapain ke sana? Toh Kaliurang nggak berubah banyak dari dulu……,” gerutu Nana sambil lalu.
“Entahlah, tapi firasatku mengatakan kalau aku bakalan menemukan sesuatu….cuma nggak tahu apa? Bukankah kata hati tak pernah menipu? Siapa tahu kita ketemu Nana……,” ada secercah harapan di balik nada suara Dagdo. Sebuah keyakinan yang entah. Terbuktikah?

Mereka meluncur ke Kaliurang menggunakan mobil mas Dargo yang sejak kemarin dititipkan di rumah mereka. Sebuah kebetulan atau memang ini kemudahan yang diberikanNya untuk mereka? Tak henti-hentinya Mardiana mengucap syukur. Hari ini gerimis mengguyur hampir di seantero kota bahkan hingga mereka memasuki kawasan Kaliurang.

*********

“Ini yaa…….alamatnya sudah benar. Tapi…..kok tulisan dijualnya nggak ada? Apa sudah laku ya?” gumam Dagdo sambil memarkir kendaraannya di sebelah gerbang. Dikelilinginya gerbang yang tertutup rapat itu, tapi tak ditemuinya seorang pun di sana.
“Bapak mencari siapa?” teguran dari pria paruh baya itu mengagetkannya. Ia menoleh dan mendapati senyum ramah dari pria itu.
“Ooh, saya hanya melihat-lihat. Katanya rumah ini dijual pak?”
“Aduuh, Bapak terlambat. Rumah ini sudah laku……,” jawab pria itu. “Tapi kalau Bapak mau, ituu…rumah di sebelah selatannya itu juga dijual. Nanti saya antar ke pemiliknya….,”
“Begitu ya pak. Baiklah. Terima kasih kalau Bapak mau mengantar ……,” Widagdo menggandeng Nana mengikuti langkah pria itu ke rumah sebelah.

“Gimana Na? Tertarik untuk pindah kesini….atau….??” Dagdo menggoda Nana.
“Mauu siii, tapiiii…….,”
“Tapi apa?”
“Memangnya mas punya duit? ……” pertanyaan Nana yang mengambang itu membuat Dagdo tersenyum senang. Mereka masih mengelilingi ruang demi ruang di rumah itu.
“Kami pikir-pikir dulu pak. Dalam seminggu ke depan, kami akan memberikan keputusannya. Boleh kan pak?” tawar Dagdo penuh harap.

“Silahkan nak..mangga dipenggalih ingkang lebet……,” jawab si pemilik rumah.

Dagdo menoleh ke arah pria yang tadi mengantarnya, berharap mendapatkan penjelasan.
“Pak Harjo, nakmas iki ora isa basa Jawa….,” pria itu menepuk sang pemilik rumah sambil tertawa.
“Itu artinya silahkan, dipikir dulu dengan tenang….,” sahut pria itu sambil tersenyum. Pak Harjo tertawa senang. Ia sedikit kesulitan berbahasa Indonesia rupanya.
Widagdo menjabat tangan Pak Harjo erat-erat lalu segera mohon diri. Nana mengekor di belakangnya. Ia masih tak mengerti, rencana apa yang ada di kepala suaminya.

Nana diam membisu selama perjalanan pulang. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya, membuatnya bingung sendiri. Kenapa mas Dagdo mau membeli rumah? Lalu, rumah di tengah kota itu mau dikemanain?
“Naa……kenapa diam saja? Nana nggak suka dengan rumah itu? Atau…..kita cari di tempat lain?” Dagdo menyentuh lengan Nana.
Mardiana menggenggam jemari suaminya. “Aku nurut sama kemauan mas Dagdo. Kalau mas anggap rumah itu baik buat kita, Nana akan menurut. Begitu pun sebaliknya…..tapiiiii….,” Nana sengaja menggoda Dagdo.
“Apa?”
“Oke. Besok kita telepon Pak Harjo. Berharap beliau mau menurunkan harganya sedikit lagi….,” sahut Dagdo gembira.
“Daaan……,” sambungnya lagi penuh semangat.
“Kita pindah ke sana secepatnya……,” kali ini Nana menyambung kata-kata suaminya. Ia geli dengan ekspresi wajah suaminya yang terheran-heran.

 

=====%%%%%%%=====

Facebook Comments

About enggar

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif