Home » FIKSI » Cerpen » Separuh Tugasku, Lunas Sudah

Separuh Tugasku, Lunas Sudah

lempar

www.colorfuldystar.wordpress.com

Ridha menutup album foto yang terhampar di depannya. Senyum penuh kepuasan terkembang di bibirnya yang mulai kisut. Pipinya yang menggelambir, jemari tangannya yang tremor~gemetaran, dan rambut yang mulai memutih pun seakan ikut tersenyum riang.

“Lunas sudah … jerih payahku akhirnya terbayar,” gumamnya pelan.

Lalu dengan telaten disusunnya album foto sesuai dengan nomor urutnya. Yaa, Ridha memang seorang perempuan yang sangat teliti. Ia rajin mendokumentasikan semua kejadian yang dialaminya, tak ada satu peristiwa pun yang tertinggal.

Dua hari yang lalu, Hoho memeluknya dengan tangis tertahan. Anak lelakinya yang selama ini terlihat tegar dan kuat, kini menggelendot di bahunya yang ringkih.

“Kenapa nak?” Ridha bertanya bingung.

Hoho hanya memandangi wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Binar kebahagiaan dan kebanggaan tersirat jelas di sorot mata itu.

“Kau menyembunyikan sesuatu nak?” Ridha makin penasaran.

Sambil terduduk dan memeluk kedua lutut ibunya, Hoho mengabarkan berita gembira itu.

“Besok aku ujian pendadaran maaa …..,” serunya riang. Wajahnya berlumur air mata keceriaan.

Beban yang selama ini membebani dadaku seakan-akan dihempaskan entah kemana.

======================separuh tugasku, lunas sudah=====================

Ridha membesarkan Hoho dengan susah payah. Bramantyo, lelaki gantungan hidupnya, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat tergesa-gesa pulang ke rumah. Saat itu Ridha menginginkan rujak bebek kegemarannya.

 Maklum, selagi hamil muda, permintaan Ridha terasa aneh-aneh saja. Minta siomay tengah malam buta, pengin diantar mengelus tulisan Huruf Jawa yang berjejer di selatan Stasiun Tugu selepas Subuh, mencari ikan di Kali Code yang lumayan dingin di malam Jum’at Kliwon …..

Bramantyo berusaha menuruti semua keinginan Ridha yang tak masuk akal itu. Sebagai suami, ia tak ingin mengecewakan istri yang dikasihinya, yang sedang mengandung anak pertama mereka.

Hingga kecelakaan maut itu memisahkan cinta kasih dan kemesraan di antara mereka berdua. Bramantyo meninggal dunia, tanpa sempat melihat janin di perut Ridha tumbuh dan berkembang. Bayi laki-laki itu lahir tepat di tanggal yang sama dengan kematian Bramantyo, enam bulan kemudian.

Bisa dibayangkan, betapa kalut dan terpukulnya perasaan Ridha. Ditinggalkan suami dalam keadaan hamil tiga bulan.

===================separuh tugasku, lunas sudah====================

Untunglah Hoho tumbuh menjadi anak yang manis dan penurut. Ia sangat mengerti kesulitan yang dihadapi Ridha. Masa kanak-kanak dilaluinya dalam keprihatinan dan kesederhanaan. Ridha berusaha untuk berperan ganda, menjadi ibu dan sekaligus ayah untuk Hoho. Lelaki kecilnya yang menjadi gantungan hidupnya.

Seharian ini Ridha mondar mandir di beranda rumah mungilnya. Anak lelakinya sudah berangkat ke kampus  pagi-pagi sekali. Celana panjang hitam, baju putih lengan panjang dengan dasi hitam melingkari lehernya, ditambah lagi dengan jas almamater yang menambah gagah penampilannya.

Ridha tertegun. Bramantyo seolah berdiri tegak di hadapannya. Wajah teduh itu, sorot mata penuh cinta itu, juga bahu kekar yang berbalut jas warna hijau muda yang soft. Semuanya semakin menegaskan kehadiran Bramantyo di depannya.

Berulang kali disekanya air matanya. Ia tak menampik, rasa rindu yang selama ini disimpannya dalam-dalam telah membuatnya limbung. Justru di hari paling bersejarah bagi Hoho, anak lelaki semata wayang.

“Maaa …,” Hoho berlari-lari mendapatkannya. Peluh berlelehan di keningnya, jas almamaternya melambai-lambai seirama ayun lengannya.

“Aku lulus ….. aku lulus maa …..,” teriaknya tidak sabar. Matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.

“Alhamdulillah,” ucap Ridha penuh syukur. Ia jatuh terduduk, lalu bersujud mengucapkan terima kasih pada Allah dalam isak tangis yang tak dapat ditahannya lagi.

Kedua anak beranak itu pun larut dalam tangis, kebahagiaan bercampur kesedihan. Ridha menengadah, sekilas dilihatnya bayangan Bramantyo tersenyum di keremangan senja. Gema adzan bertalu-talu dari masjid di tengah kampung.

“Alllahu Akbar”

 ===========oOo===========

 

Facebook Comments

About enggar

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif