Home » FIKSI » Cerpen » Perempuan Kedua Itu, Cinta Sejatiku

Perempuan Kedua Itu, Cinta Sejatiku

http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hari.ini/lelaki.menangis.hm/005/006/43

Namaku Riko, pria berumur 25 tahun yang telah bekerja di salah satu bank pemerintah di kampung halamanku. Aku telah memiliki kekasih yang merupakan adik kelasku di kampus dulu. Namanya Ayu. Gadis cantik dan kaya ini sering ke luar negeri untuk berobat. Aku mengenal Ayu karena mantan kekasihku yang menjodohkan kami. Namun sebelum mengenal Ayu, aku terlebih dahulu mengenal Anda.

***

Tak sengaja mengenal Anda. Ya.. tak sengaja memang. Dia adalah seorang gadis hitam manis yang tinggal di kota lain. Memang aku mengenal Anda di facebook, namun seiring waktu berjalan ada rasa dihatiku yang ingin kuungkapkan pada Anda. Apalagi anda adalah sepupu dari sahabatku semasa SMA yang ternyata Anda pernah kulihat juga dirumah sahabatku ketika hari meninggalnya ayah sahabatku itu.

Aku ingin mengatakan padanya bahwa, “Sejak pertama melihatnya dadaku berdegup kencang, kau tahu Nda? aku ingin mendapatkan cintamu.”

Kubiarkan waktu berjalan hingga aku tak sanggup lagi menahan gejolak rasaku. Akhirnya kuberanikan diri untuk ungkapkan isi hatiku. Namun saat itu saat itu Anda telah memiliki kekasih dan kelihatannya hubungan mereka serius, maka aku pun tak berani mendekatinya lagi.

***

Ternyata keresahanku ditangkap oleh mantan kekasihku, Vera. Tak tega melihatku kehilangan sosok Anda, lalu ia mengenalkan Ayu padaku. Singkat cerita, aku pun menjalin cinta dengan Ayu. Inginku katakan pada Anda bahwa, “aku telah memiliki kekasih namun aku masih mencintaimu, Nda. Kau tahu, bayangmu tak lantas hilang dari ingatanku.”

Dua bulan kemudian, Anda menghubungi ponselku.

“hai Sayang, apa kabarmu?”, ujarnya seperti biasa dulu. “aku baik-baik saja, Nda. Kamu gimana?’, tanyaku.“yah,, beginilah Ko orang lagi patah hati”, tukasnya.

Lalu panjang lebar anda menceritakan bagaimana perangai buruk mantan kekasihnya, Abi yang sering memarahinya jika cemburu. Tak ketinggalan ia memintaku menceritakan tentangku sekarang dan tiba-tiba terdengar,

“oo,, udah punya cewe’ yah Ko. Selamat ya, semoga langgeng, jangan sampai sepertiku.” Lemah suaranya menanggapi ceritaku tentang Ayu. Tak lama telepon pun terputus. Namun semakin hari aku seperti tak sanggup kehilangan Anda. Aku terus mengirimkan SMS berupa perhatian padanya, sering menghubunginya sampai seminggu kemudian aku mengatakan perasaanku padanya.

“Kamu ‘gak tau gimana perasaanku saat aku tahu kamu sudah memiliki Abi dulu, Nda. Hingga aku putuskan untuk mundur tanpa mengatakan apapun padamu.”

“Lho.. emang kamu mau bilang apa Ko, kenapa ‘gak bilang aja?” Lirih Anda.

“Saat itu, aku berpikir untuk pergi saja karena aku ‘gak mau kedatanganku merusak hubunganmu dan Abi. Aku gak mau melihatmu bersedih karena Abi memarahimu bila ia cemburu, ya.. seperti tadi katamu.”

Nda, kalau boleh jujur aku ingin memilikimu. Aku ingin melanjutkan kisah kita yang sempat tertunda dulu, Aku…

Aku mencintaimu Nda”, sambungku.

“Gak mungkinlah Ko, kan udah ada Ayu yang sekota denganmu”, tanggapnya ringan.

“Aku tu Nda, tapi aku mencintaimu. Namun aku ‘gak mungkin lepasin dia, dia sakit dan orang tuanya udah percayain dia sama aku”, kataku.

Anda lagi-lagi menjawab ringan, “Ya sudahlah Ko, udah jelas kalau kita ‘gak bisa saling memiliki. Kasihan Ayu kalau kamu sama aku juga dan dia tau.”

“Gak Nda, ini hanya kita yang tahu, bahkan sama sahabatku yang sepupumu itu gak bakal aku ceritain.

Singkat cerita, aku memulai menjalin cinta dengan Anda.

***

Sebulan setelah kami menjalin cinta, aku pun ke kotanya. Sesampai di kotanya, Aku memintanya untuk datang ke kostnya temanku. Begitu melihatnya, aku amat bahagia. Setelah ia masuk ke kamar kost itu, aku langsung memeluknya. Aku menumpahkan segala kerinduanku di peluknya. Hangat dan nyaman kurasakan bila tengah berada dalam dekapan perempuan yang aku cintai, walaupun ia perempuan keduaku.

Aku mengecup keningnya, matanya, pipinya hingga bibirnnya. Itulah pertama kalinya aku berani mencium bibir perempuan. Dengan Ayu aku tak pernah melakukan itu, paling Cuma mengecup keningnya. Kata Anda sambil mengejekku, “Kecup kening aja? Kayak ciuman ayah ke anaknya lah, ya”.

***

Seminggu dikotanya, aku harus kembali ke kotaku. Sesampainya dikotaku, suatu ketika Ayu membuka facebookku yang pastinya ada peribu pesan sayang dari Anda, ponselku tak lupa diraih dan ia mendapati fotoku bersama Anda yang lupa kusimpan ke flash disk serta sms-sms mesra dari Anda yang lupa kusembunyikan.

Ia marah-marah hingga pingsan. Saat itu, aku amat ketakutan. Aku lupa kalau ia memiliki penyakit dan aku meminta maaf padanya. Hingga ia memaafkanku. Aku mengirimkan sms kepada Anda yang aku yakin saat itu pasti menyakitinya,

“Sayang, aku udah ada di kotaku lagi dan sedang bersama Ayu, barusan Ayu pingsan gara-gara liat inbox di facebook, sms mesra kita dan juga foto kita. Terpaksa semuanya harus kuhapus sayang.”

“Maafkan aku. Aku berjanji akan selalu mencintaimu walau kita tak mungkin bersama”. Jangan balas smsku yang ini ya sayang. Nanti aku yang akan menghubungimu”.

***

Sesampai dirumah, aku menghubunginya dan terdengar olehku isak tangisnya. Aku pun sebenarnya ingin menangis, namun tak sanggup kulakukan. Ia berkata, “Jadi kita gimana? Kita putus?

“Gak Nda, aku gak mau gitu. Memang aku yang salah, aku yang memintamu untuk jadi kekasih keduaku. Tapi aku mohon sabar ya…Jika memungkinkan kita bisa sama-sama, kataku.

“Baik, bulan depan aku kesana. Aku ‘gak tahan Ko, aku pengen ketemu kamu”, kata anda.

***

Sebulan kemudian, Anda datang ke kotaku. Tiba-tiba di hari minggu, ia menghampiriku di toko tempat aku bekerja. Aku ingin memeluknya lagi, namun tak enak karena Anda datang bersama temannya. Beberapa hari ia disana, Ayu pun tiba-tiba mengajakku membicarakan tentang Anda. Karena tak tahan dengan ocehan Ayu, maka aku menghubungi Anda dan mengatakan, “Nda, tolong bilang sama Ayu kalau kita ‘gak ada hubungan apa-apa”.

“Oh, iya mana Ayu biar aku bicara” kata Anda. “Gak usah, aku gak mau ngomong sama perempuan itu.” terdengar suara Ayu.

Praktis saat itu pun aku harus berpisah dengan Anda, ini bukan inginku. Keadaan yang memaksaku untuk memilih Ayu. Maafkan aku harus menyakitimu lagi, Nda. Aku terpaksa harus mengakhiri hubungan kita. Aku tahu, kau tak salah. Ini mutlak karena keegoisanku. Semoga kau mendapatkan penggantiku yang dapat membahagiakanmu, bukan seperti Abi atau pun aku.

***

Pernah mengenalmu adalah keindahan hidupku. Sempat mereguk nikmat cinta bersamamu adalah bahagiaku walaupun aku tahu, betapa tersiksanya hatimu karena kau menjadi perempuan kedua setelah dia. Meski cerita kita telah usai, tenyata kau memang tak dapat ku lepaskan. Itu terbukti saat kita merajut cinta lagi dan posisimu tetap menjadi yang kedua. Kusadari memang salahku biarkan kamu terlalu dalam mencintaiku. Maafkan aku harus mengakhiri hubungan kita, Namun bayangmu masih melekat dan selamanya ku dekap erat dalam dalam ingatanku.

Facebook Comments

About Auda Zaschkya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif