Home » FIKSI » Cerpen » Dia Perempuanku, Namun Bukan Milikku

Dia Perempuanku, Namun Bukan Milikku

1346947848819550848

www.langitberita.com

Rasa sakit itu mungkin masih berbekas di hatiku. Namun, ini bukan salahnya. Ini salahku, belum bisa mewujudkan harapan kami untuk hidup bersama. Dia akan selalu mendapat tempat istimewa di hatiku walaupun nanti aku telah menemukan perempuan lain yang menjadi ibu bagi anak-anakku. Namun, aku harus menyelesaikan kuliahku yang tak kunjung selesai ini.

***

Orang tuaku memberiku nama Reza. Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang juga bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta di kotaku. Sebelum menjadi penyiar radio, aku adalah seorang presenter sebuah acara musik maupun talkshow pada televisi lokal, di kotaku juga tentunya. Saat masih di dunia pertelevisian, hari-hariku dipadati dengan pekerjaan di dunia broadcasting itu yang sedikit banyak menyita waktuku. Karena kesibukanku, kuliahku terlambat selesainya, padahal aku bukanlah mahasiswa bodoh. Nilai-nilaiku di kampus, rata-rata bagus.

Seharusnya dibelakang namaku sudah ada gelar sarjana hukum. Ya.. seharusnya namaku Reza Fahlevi, S.H sekarang. Atau aku dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang s2. Namun, keinginan itu belum terwujud sampai kini, sampai saat dia menikah dengan pria lain.

***

Namanya Rina Wahyuni. Ia adalah seorang perempuan pendiam dan penurut. Itu terbukti ketika aku melihatnya di sekolah semasa kami SMA dulu. Aku mengagumi semangatnya dalam mengikuti MOS di awal masuk sekolah dulu. Semakin sering aku memperhatikannya hingga timbullah rasa suka di hatiku. Aku tak yakin akan perasaan ini. Ah,, mungkin ini yang dikatakan cinta monyet. Kubiarkan rasa itu berjalan seiring kedekatanku dengannya, hingga suatu hari aku memantapkan hatiku untuk menyatakan perasaanku padanya.

Sekitar pukul 4 sore setelah menunaikan shalat ashar, aku datang ke rumahnya untuk meminjam buku. Aku tahu, alasanku meminjam buku itu adalah alasan klise yang terlalu dibuat-buat. Aku bingung, bagaimana harus kuutarakan perasaanku padanya. Ya.. dengan alasan meminjam buku itu, semoga saja keberanianku muncul.

Setelah ia memberikan buku yang ingin kupinjam, aku bangun dari dudukku dan tanpa banyak berkata lagi langsung kuraih jemarinya, “Na, aku mau ngomong nih, penting.”

Ia tampak terkejut mendengar suaraku yang tiba-tiba menjadi berat, bahkan intonasinya cenderung serius. Sambil berusaha tersenyum dan melepaskan jemarinya dariku, ia berkata, “silahkan Za, tapi ‘gak pake pegang-pegang tanganku juga dong, kayak di sinetron aja. Hahahaha.. eh, emang kamu mau bicara apa Za?”

“Wajahku seperti kepiting rebus nih,” yakinku dalam hati akibat malu. Terlebih aku masih dilanda kegugupan, namun aku memberanikan diri dan akhirnya berkata,“aku cinta kamu”. Seperti kebanyakan perempuan lainnya, Rina pun terkejut dan terdiam. Segera saja ia meletakkan bokongnya di kursi taman itu. Aku menyadari, mungkin Rina berharap sesuatu yang romantis diaksi nembak ini, namun dasar aku yang tak tahu bagaimana cara beromantis ria, jadi Cuma tiga kata itu yang mampu kuutarakan.

Aku melihatnya yang tetap diam, mungkin ia marah pikirku namun aku harus mendapatkan jawaban saat ini maka aku memberanikan diri bertanya, “Na, gimana? Jawab dong.. kamu cinta ‘gak sama aku? Aku tau, aku ‘gak romantis ya? Maaf ya Na.. aku Cuma pengen kamu jawab, Ya atau nggak. Kalau iya, berarti kamu mau jadi pacar aku. Kalau ‘gak, berarti kita tetap berteman saja dan lupain aja kebodohanku ini ya Na.”

Seketika Rina pun akhirnya tersenyum dan ia berkata, “Maaf, aku ‘gak cinta sama kamu Za.” Seketika itu juga aku merasa tubuhku lunglai. Aku tak tahu, masih dapatkah aku beranjak pulang. Yang ada dalam kepalaku adalah aku telah kecewa.

“Tapi aku mencintaimu.” Lanjutnya kemudian sambil tertawa. Aku terkejut, sambil berusaha tertawa dan berkata, “Ah,, kamu yang benar Na? Kalau benar, mulai malam minggu ini kita malam mingguan ya.”

“Baiklah kalau begitu, kita malam mingguannya dirumah aja ya, sambil ngobrol-ngobrol kalau perlu sambil buat PR.” Senyumnya kemudian.

Mulai malam minggu itu, cerita cinta kami dimulai. Walaupun kami memulainya saat kami masih sama-sama duduk dikelas 1 SMA, tapi hubungan kami terus berjalan tanpa pernah ada masalah sampai kami lulus SMA.

Dimana ada Reza, disitu ada Rina dan begitu pula sebaliknya. Saat memilih jurusan untuk SPMB pun kami saling bertukar pikiran. Bagiku, Rina yang pendiam dan penurut itu adalah seseorang yang mampu memberikan pandangan yang masuk akal kepadaku. Ya.. Rina memang perempuan cerdas yang tak hanya pintar di sekolah namun wawasannya luas.

Kamipun dapat melewati SPMB dengan lancar dan kami diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kotaku. aku di Fakultas Hukum dan Rina di Fakultas Sastra, tepatnya Sastra Inggris. Kami memulai perkuliahan seperti biasa. Beberapa bulan kemudian, aku mencoba untuk bergelut di dunia televisi dan berhasil menjadi presenter disana. Sementara Rina, tetap berkonsentrasi dengan kuliahnya.

Hubungan ini berjalan lancar dari tahun ke tahun hingga tak terasa sudah tujuh tahun cinta ini telah kami rajut, dan Rina pun telah diterima bekerja sebagai costumer service di sebuah Bank Swasta di kota kami. Sementara aku? Masih setia bersama dunia broadcaster dan kuliah hukumku.

***

Di Sabtu siang itu, Rina mengajakku bertemu. Ditelepon ia mengatakan ada hal yang harus ia bicarakan. Kelihatannya ini serius. Setelah jadwal pekerjaanku, bergegas aku pergi untuk menemuinya di cafe biasa. Setelah memesan makanan, Rina pun mengatakan, “Za, aku dijodohkan oleh orang tuaku dengan anak temannya namun aku tak mencintainya. Aku telah berkata, aku telah memiliki kekasih, namun orang tuaku malah menyuruh kita untuk putus saja. Bagaimana ini? Aku tak mencintainya. Hatiku telah seutuhnya ke kamu Za.”

“Cubit aku Na, supaya aku tahu bahwa aku sedang bermimpi.” Ujarku. “Kamu ‘gak mimpi kok Za, itulah kenyataannya dan bulan depan kami akan bertunangan.” Rina meneruskan.

Terlihat air mata di sudut matanya, aku tahu ia ingin menangis dan aku pun merasakan hal yang sama, namun sebagai laki-laki, aku tak boleh cengeng. Sambil menyantap makanan di meja kami, aku baru berpikir dan mungkin sedikit menyesal.“Seandainya saja kuliahku telah selesai dan dengan modal pekerjaan yang aku miliki, aku dapat melamarnya”.

Sejak saat itu, kami harus berpisah sebab orang tuanya telah menyuruhnya untuk memutuskan aku. Dan praktis, saat itu pula aku tak pernah mengetahui kabarnya, sampai ia berpisah dengan tunangannya itu.

Rina memang tak mengatakan bahwa ia telah berpisah dari tunangannya itu. Aku mengetahui kabar itu dari Opi. Opi adalah sahabat Rina sejak SD yang masih berhubungan dengan Rina. Opi menyuruhku untuk menghubungi Rina, namun aku tak melakukannya. Aku berusaha ikhlas. Ah,, rasanya lagi-lagi itu adalah alasan klise. Bagaimana mungkin rasa ikhlas itu menghampiriku mengingat tujuh tahun kebersamaan kami dulu.

Seiring waktu berjalan, pendidikanku di strata 1 pun tak kunjung selesai. Gelar S.H ternyata belum mau disematkan di belakang namaku. Namun, aku masih tetap bekerja di dunia yang telah mengenalkanku kepada masyarakat kotaku.

***

Oleh karena prestasiku di dunia pertelevisian ini, oleh pimpinanku aku dipercaya juga untuk menjadi penyiar radio yang ternyata satu perusahaan dengan TV lokal ini. Mengapa penyiar radio? Karena aku suka berinteraksi langsung dengan orang lain. Karier di dunia broadcaster telah ada dalam genggamanku karena ini hobiku. Namun kuliahku? Ya.. kuliahku pun belum selesai. Sementara Rina, telah menemukan tambatan hatinya yang baru, yang dari Opi juga kuketahui bahwa mereka telah melakukan pertunangan dan akan menikah di tahun ini juga.

Pria itu memang lebih mapan daripada aku. Ia telah menyelesaikan pendidikan s2nya diluar negeri dan sudah dua tahun ini ia bekerja di Bank milik Pemerintah sebagai Back Office. Masih kata Opi, bila mereka telah menikah, pria yang bernama Fathir itu pun akan melanjutkan pendidikan s3nya, mungkin Rina akan mengikutinya ke luar negeri.

Bagaimana dengan aku yang belum menamatkan kuliahku yang sekarang sedang berada di semester 10 ini? Aku tak mau di D.O dan Aku harus menyeleaikan kuliahku. Satu-satunya jalan adalah aku harus memilih untuk melepaskan salah satu pekerjaanku. Dan aku lebih memilih menjadi penyiar radio saja yang tak begitu banyak menyita waktuku sehingga kuliahku dapat segera selesai.

Enam bulan setelah Opi mengabari aku tentang pertunangan Rina, hari ini Rina menikah dengan Fathir. Dan melalui Opi juga, Rina berkata bahwa, “Tolong undang Reza di resepsiku ya Pi, mungkin hari ini adalah sebagai hari pertama sekaligus hari terakhir aku melihatnya sejak satu setengah tahun yang lalu.”

 Mendapat amanah dari Rina, Opi menemuiku dan menyampaikan amanah itu. “Kamu jangan sedih ya Za, bawa aja pacarmu ke resepsi Rina siang nanti.”

“Aku belum memiliki penggantinya Pi. Aku mau menyelesaikan kuliahku dulu.” Lagi-lagi jawaban penuh keklisean kutunjukkan pada Opi.

Sebenarnya apa tujuanku mengatakan hal itu kepada Opi? Berharap Opi mengatakan hal itu kepada Rina, kemudian Rina membatalkan pernikahannya dengan Fathir?

Kalau itu harapanku, itu adalah harapan bodoh yang sempat kupikirkan. Aku mengenal Rina yang penurut, terlebih kepada kedua orang tuanya. Tak mungkin Rina melalukan itu. Ah,, aku melakukan hal bodoh lagi !

Rina telah menikah dan harus melaksanakan kewajibannya sebagai istri Fathir mulai hari ini. Aku telah melihat kebahagiaan mereka, namun disaat aku mengatakan selamat kepada Rina dan Fathir pada resepsi pernikahan mereka siang tadi yang kudatangi seorang diri, aku melihat sedikit genangan air mata di mata Rina.

Aku yang memegang tissue saat itu, langsung memberikan tissue kepada Rina seraya berkata, “Na, jangan menangis, hapus air matamu, karena ini hari bahagiamu. Jangan biarkan para tamu di resepsi ini melihat tangismu.”

“Aku berusaha Za. Aku mohon maaf padamu atas kesalahanku. Aku menangis karena aku masih sangat mencintaimu.” Sungguh, terharu ketika kudengar kata cinta itu dari bibir Rina yang sempat ia bisikkan di telingaku sebelum aku meninggalkan pesta itu.

Setelah menyalami keduanya, aku pun pulang ke rumah. Tak terasa aku menitikkan air mataku di dalam kamar. Aku tahu, lelaki tak boleh menangis, namun saat-saat sendiri seperti ini adalah saat yang tepat untukku tumpahkan sesak di dadaku apalagi tadi aku melihat Rina dan mendengar kata cinta darinya.

***

Setahun setelah hari pernikahan itu, aku menerima SMS berupa kata-kata perpisahan dari Rina yang tak dapat ku balas lagi.

“Za, hari ini aku berangkat ke Australia, menemani suamiku yang akan melanjutkan pendidikannya. Mungkin di ulang tahun kelima putraku nanti, aku baru kembali ke kota ini.Do’aku untukmu Za. Segeralah cari penggantiku ya Za, menikahlah. Salam sayang, Rina”.

Seusai membaca SMS dari Rina, aku mencoba menghubunginya namun nomornya sudah tidak aktif lagi.

***

Aku berpikir, mungkin Tuhan telah mempersiapkan jodoh yang lebih baik dari Rina untukku. Namun aku tak mau terburu-buru, aku harus sesegera mungkin menyelesaikan pendidikan strata s1 ini sambil tetap menjadi penyiar radio saja. Setelah itu, aku baru akan menikah jika Tuhan memberikan jodoh untukku sebelum aku pergi juga ke Australia, bukan untuk mengganggu Rina tetapi untuk melanjutkan cita-citaku yang juga diketahui oleh Rina. Atau mungkin, di Australia nanti aku akan menemukan calon istriku. Tak ada yang tahu rahasia Tuhan. Semoga Dia memberikan yang terbaik untukku. Amin.

– TAMAT –

Facebook Comments

About Auda Zaschkya

8 comments

  1. katedrarajawen

    wow Auda, keren banget ya? Siul-siul , selamat datanghttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

  2. cinta memang tak harus memiliki.. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  3. Merelakan orng terkasih bahagia bs membuat kita merasa lega namun juga tersiksa dg kenangan2nya…critanya manis mbk…:)

  4. Salut untuk Rina, yang berani jujur pada rasa…

  5. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gifSubhanalloh… keren banget nih… ngebacanya sampe merinding… mantap Auda.. Salam Kenal…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif