Home » FIKSI » Cerpen » Keperawanan Yang Hilang Dan Cinta Yang Terbuang

Keperawanan Yang Hilang Dan Cinta Yang Terbuang

nangis

www.lensaindonesia.com

Mungkin benar orang bilang bahwa untuk menemukan cinta sejati itu memang sulit. Bukan hal yang mustahil memang, tapi sungguh tidak mudah. Telah lama aku mencoba menemukan apa yang disebut oleh banyak orang sebagai cinta sejati. Namun sampai sekarang aku tak juga mendapatkannya. Bagai mencari satu jarum yang jatuh pada tumpukkan jerami bekas memanen padi para petani adalah istilah yang cocok untuk menggambarkannya.
Berawal dari cinta monyetku saat aku berusia dua belas tahun terhadap Robi anak ketua RT kampungku. Aku mencintainya saat itu karena betapa seringnya kami bertemu yaitu dari sejak kecil usia TK saat kami mengaji di masjid, sampai akhirnya saling jatuh hati pada saat aku memasuki kelas satu SMP. Robi mengungkapkan cinta melalui surat kepadaku, dan aku menerimanya karena dia bukan cuma ganteng tapi juga cerdas dan pintar mengaji.
Tidak lama hubunganku dengan Robi bertahan. Hanya sekitar satu tahun saja kami pacaran. Sampai pada akhirnya kami putus setelah ada seorang perempuan menginginkannya dan Robi takluk sehingga membuatnya memutuskanku. Cinta pertamaku kandas diambil teman sekelas.
Setelah putus dari Robi aku tidak menerima siapapun yang menginginkanku menjadi pacarnya. Aku pikir semua lelaki sama, setelah menemukan yang lebih dariku maka dia akan meninggalkanku. Aku lebih memilih untuk konsentrasi belajar sehingga aku bisa lulus dan masuk di SMA terbaik di daerahku. Dan aku berhasil sampai lulus dengan nilai yang memuaskan sehingga bisa masuk di SMA impianku.
Di SMA itu aku mendapatkan teman baru yang banyak. Dan oleh karena ketatnya seleksi untuk masuk ke SMA nomor satu di Singaparna itu, maka murid-muridnya bisa dibilang mempunyai daya otak yang bisa dibilang lumayan. Aku duduk sebangku dengan perempuan berjilbab bernama Zira. Wajahnya cantik, hidungnya mancung mirip dengan perempuan-perempuan Arab.
Kami sangat akrab sehingga tak ada rahasia di antara kami yang saling kami sembunyikan, termasuk aku yang sedang jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Gilman yang aku kenal saat MOS (Masa Orientasi siswa).
“Gilman itu adalah penyemangat, Zira…” Aku bilang kepada Zira saat kami duduk di kantin sekolah ketika jam istirahat. Jam sepuluh. Matahari sembunyi di balik awan, dan langit begitu mendung. Mungkin hujan akan segera turun untuk menyirami kering tanah yang sudah seminggu kemarau.
“Iya, aku paham. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah, Gilman sudah punya pacar.” Zira.
“Aku gak peduli Say, aku akan menunggu dia putus dari si Siti yang sok cantik itu. Atau kalau perlu aku sendiri yang akan membuatnya putus. Lihat saja.” Aku ngotot, dan Zira sudah mengerti karakter asliku yang pengotot walaupun kami bersahabat masih seumur jagung.
“Ya sudah terserah kamu saja. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, adalah tidak bisa memaksakan orang lain untuk mencintaimu. Cinta itu mengalir apa adanya dan tanpa paksaan. Jika cinta karena terpaksa, maka aku yakin pasti tak akan bisa langgeng.” Zira memang begitu baik dan sabar menghadapiku yang kadang seperti api yang meluap. Seringkali dia mengingatkanku. Zira lebih dewasa dariku, aku akui itu.
***
“Zira!!” Aku lihat Zira sedang duduk di taman alun-alun Singaparna. Hari itu libur karena sekolahku dijadikan tempat untuk rapat seluruh guru SMA yang ada di Tasikmalaya, dan aku berencana untuk hang out dengan seseorang yang baru dua hari menjadi pacarku.
“Sari?!”Zira terkejut ketika melihat aku menggandeng Gilman.
“Iya, ini aku. Jangan kaget gitu dong… Lagi ngapain di sini?“ Zira bersalaman dengan Gilman, dan mereka saling senyum.
“Cieee, pada mau ke mana nih. Ekhm ekhm!” Zira menggodaku. “Aku lagi nungguin mamaku, lagi belanja di pasar. Daripada aku ikut ke pasar berdesak-desakkan, mending aku nungguin di sini aja. Lagian mamaku ditemenin sama bibiku juga.” Alun-alun Singaparna memang berdekatan dengan pasar tradisional.
“Aku mau jalan, mumpung lagi libur.” Jawabku senyum, dan Gilman tidak banyak berbicara. Mungkin karena belum kenal dekat dengan Zira. Kami bercakap sebentar lalu aku pergi bersama Gilman dengan tujuan sebuah tempat rekreasi renang yang ada di Mangkubumi. Kebetulan saja kami berhenti dulu di taman alun-alun itu untuk sekedar berjalan-jalan sebelum ke tempat yang sudah direncanakan olehku dan Gilman.
Setibanya di Mangkubumi, Gilman memarkir motor Mio berwarna hitamnya di tempat yang sudah disediakan. Kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 11.25. Setelah membeli tiket, kami lalu masuk. Lokasi renang itu terlihat sepi, sepertinya kami adalah orang pertama yang masuk.
Di tempat itulah segala hal dimulai. Kami melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan untuk pertama kali. Saat itu semua terasa indah, tapi tidak di kemudian hari. Setelah kami melakukan hubungan intim beberapa kali, pada akhirnya aku dan Gilman putus. Aku prustasi dan hanya Zira lah yang mengetahui tentang segala yang terjadi antara aku dan Gilman.
Hal itu terjadi sekitar delapan tahun yang lalu, hingga sampai saat ini aku berusia duapuluh enam tahun, aku belum juga menemukan seseorang yang mau menerimaku apa adanya, menerima ketidak perawananku. Ada banyak yang mendekatiku, namun setelah mereka tahu aku tidak perawan karena telah aku ceritakan kepadanya tentang kisahku di masa lalu, mereka lalu meninggalkanku.
Namun kini aku tengah berusaha yakin dengan seseorang bernama Jino. Dia bilang akan mencintaiku apa-adanya dan akan menerima segala kekuranganku, termasuk ketidak perawananku. Aku sudah katakan kepadanya sejak awal kami jadian. Aku ceritakan kepadanya tentang kisah masa laluku dan dia terima dengan biasa saja, tidak mempermasalahkan dan seolah tak peduli.
“Sayang, aku mencintaimu dengan sederhana dan biasa saja. Tidak akan pernah aku masalahkan masa lalumu dan kamu aku cintai apa adanya.” Oh Jino, kamu memang paling bisa membuatku melayang dengan indahnya tuturmu. Kamu membuatku kembali menemukan kepercayaan kepada manusia bernama lelaki. Aku berharap semoga kamu tidak pernah berubah mencintaiku sehingga aku menjadi seorang perempuan yang merasa dihargai.
“Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke luar untuk malam mingguan…” Ajakmu sabtu sore yang teduh itu. Aku tidak kuasa untuk menolaknya karena aku merindukan saat berdua dengan orang yang aku cintai. Apalagi ini adalah kamu yang telah mengikrarkan dirimu untuk mencintaiku apa adanya. Pasti akan jadi malam Minggu yang berkesan.
Jam tujuh malam Minggu yang cerah itu Jino menjemputku dengan motor Ninja 250R-nya. Kami lalu pergi menuju Dadaha, yaitu tempat di mana anak-anak muda berkumpul bersama pasangannya.
Sesampainya di Dadaha, Jino mencium bibirku dengan hangatnya sehingga membuatku hanyut pada lumatan demi lumatan. Suasana di Dadaha memang tidak begitu gelap dan tidak begitu terang. Dan kami menghabiskan malam itu di tempat yang tidak begitu terang. Setelah puas berpeluk cium dan berbincang mengenai banyak hal, kami lalu pulang. Rumahku dan rumah Jino tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua puluh menit kalau memakai motor dengan kecepatan rendah. Dan sebelum sampai ke rumah sekitar jam sepuluh malam, kami mampir di rumah Jino untuk mengambil sesuatu yang ingin diberikannya untukku. Di rumahnya Nampak sepi karena kebetulan orang tua Jino sedang menginap di rumah saudaranya yang berada di Garut.
“Ada yang ingin aku berikan kepadamu sayang, kemarilah…” Jino mengajakku ke kamarnya. “Tutup matamu sayang…” aku tidak menolaknya, dan Jino mendaratkan bibirnya di bibirku dan menidurkanku di tempat tidurnya.
“Jino… kamu mau apa sayang…” Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan eratnya dan bibirnya yang tidak berhenti menciumi bibir dan leherku. Aku menggelepar. Ada perasaan risih, dan ingin lepas. Tapi tidak bisa. Aku meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jino pasti akan menikahiku karena dia telah berjanji akan menerimaku apa adanya. Aku menyerah. Aku pikir, tidak mengapa aku melakukan ini dengan seseorang yang bersedia menerimaku.
***
“Sari….” Aku mendengar seorang perempuan memanggilku. Suaranya tidak asing, aku yakin itu Zira. Aku tersenyum melihatnya berlari dari depan rumahku menuju tempatku duduk di halaman sebelah kiri tempatku biasa menghabiskan sore jika tidak ada kesibukan pekerjaan.
“Ada apa Zira sayang, kenapa berteriak dan berlari-lari begitu…” Aku berusaha menenangkannya.
“Sari, tadi pagi ada seseorang mengantarkan undangan ke rumahku.” Katanya tergesa. “Tadinya aku biarkan saja di atas meja, karena aku pikir paling juga anaknya tetangga atau teman lama. Namun ternyata, kamu lihat ini…” Zira memperlihatkan kartu undangan berwarna hitam yang dibawanya. Aku segera membukanya dan,
“JINO??”

elhida

Facebook Comments

About elhida

6 comments

  1. Selamat datang di KetikKetik, elhida https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  2. Muhammad Armand

    Panjang juga Cerita Pendeknya :D

  3. Nahh lohh, ternyata santri Rangkat udah ada di mari…
    Pasti ntar lagi si kriboh ikutan nyusul.
    Gw ngumpet dulu ahhh… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif

  4. katedrarajawen

    auda, semoga cinta apa adanya bukan ada apanya. Eh ada mas hans . Salaman https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif

  5. hai … mantab kali critanyehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif