Home » FIKSI » Cerpen » Kuburan Kering

Kuburan Kering

burcu
Sudah beberapa hari ini, wanita paruh baya itu menarik perhatianku.
Suaminya meninggal dunia sehari setelah suamiku meninggal, begitu cerita singkat antara aku dan wanita paruh baya itu. Dan kebetulan makam suaminya berjarak beberapa petak dengan makam suamiku.
Sepanjang pagi sampai sore hari, aku mengernyitkan kening. Apa yang dilakukan wanita paruh baya itu? Dengan kipas biasa yang terbuat dari bilah-bilah bambu, dia mengipasi makam suaminya sepanjang hari tanpa kenal lelah.
Aku memang telah meniatkan selama seminggu ini untuk mengunjungi dan mendo’akan suamiku yang telah terbaring di pemakaman umum. Jadi hampir setiap hari kami pun saling bertemu dan bertegur sapa.
Hah! Apalagi yang dilakukannya? Dengan blower besar yang bisa menghasilkan angin yang cukup kencang, dia arahkan blower itu tepat ke makam suaminya. Kadang kalau turun rintik hujan, buru-buru wanita paruh baya itu dibantu dengan beberapa petugas makam menutup makam suaminya dengan terpal yang tebal.
Aku yang merasa telah mencintai suamiku ternyata tidak sebanding dengan apa yang wanita paruh baya itu lakukan pada makam suaminya. Begitu cintanya dia pada suaminya dulu, hingga setelah dikuburpun masih dia jaga dan rawat.
*****
Setelah seminggu, aku merasa iba pada wanita paruh baya itu. Aku mencoba mengajaknya bicara, siapa tahu kesedihannya akan berkurang.
“Sabar ya mba, nasib mba sama dengan saya. Kita sama-sama telah ditinggal oleh orang yang kita cintai.”
“Iya mba.” Sahutnya lembut.
“Begitu sayangnya mba, sampai sudah dikuburpun mba masih mengipasi makamnya.”
“Saya cuma menjalankan amanat suami saya dulu.”
“Kalau boleh saya tahu, memangnya apa amanat suami mba?” Tanyaku sopan.
“Sebelum meninggal dunia suami saya berpesan, kamu boleh kawin lagi dengan laki-laki lain kalau kuburan saya sudah kering!”
Oh, pantas. Aku tak bernapsu lagi untuk bertanya apalagi bersimpati. Jadi yang dia lakukan selama ini hanya agar kuburan suaminya cepat kering.
*****

 

Serpihan Abad, saat ini menetap di Bogor, Jawa Barat. Lebih senang menulis sebuah puisi dari pada cerita karena puisi baginya telah mendarah daging. Buku pertamanya adalah: Karena Aku Perempuan, sebuah buku Kumpulan Puisi.

Facebook Comments

About Serpihan Abad

4 comments

  1. katedrarajawen

    Ehmm membayangkan duduk di samping yang ada di gambar hehehe keren
    keren wanita paruh bayanya masih seger

  2. Tunggu Kuburan suaminya kering dulu Bang Katedrarajawen :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif