Home » FIKSI » Cerpen » Liontin Separuh Hati

Liontin Separuh Hati

heart_liontin_by_aselatundra-d3y8med

Malam ini adalah malam pertama ku dengan Ram. Malam penuh kesan, begitu kata banyak orang. Mengapa aku gugup – padahal ini bukan kali pertama aku melakukannya dengan Ram.

Janin yang ku kandung ini akan menggantikan panggilan ku pada Ram. Sebentar lagi aku akan memanggil Ram ayah. Dan aku ingin dipanggil bunda oleh Ram dan anak-anakku kelak. Malam pertama akan penuh kejutan, aku akan memberitahu Ram tentang kehamilanku. Buah cinta kami berdua. Ram tentu akan senang mendengar berita ini.

Sudah lama sekali aku tidak mengenakan kalung ini. Kalung pemberian mama dengan liontin berbentuk separuh hati yang terbuat dari baja putih. Malam penuh kesan, aku ingin mama pun ikut merasakan kebahagiaanku. Ma, akhirnya aku bisa menikah dengan lelaki yang sangat aku cintai di dunia ini. Aku terus membayangi senyum mama walaupun mama telah lama pergi.

Para tamu satu persatu mulai meninggalkan acara resepsi. Sebuah resepsi yang sederhana sesuai dengan kesepakatan aku dan Ram. Mama Elsa dan Papa Kun, ingin menggelar acara pernikahan kami di gedung mewah lengkap dengan hidangan catering yang terkenal.

“Dea, tidak ada yang salah dengan keinginan papamu karena kamu adalah putri kami satu-satunya. Papamu ingin mengundang kolega dan para sahabatnya. Keinginan mama dan papa bukanlah untuk menghambur-hamburkan uang.” Rengek mama kepadaku.

“Tapi ma…aku dan Ram telah sepakat, bukan resepsi nya yang menjadi prioritas tapi setelah menikah ini, banyak kebutuhan yang lebih penting dan mendesak. Dari pada uangnya dihambur-hamburkan untuk pesta mending buat bayar Uang Muka cicilan rumah, Ma.” Jelasku pada mama.

Akhirnya resepsi yang sederhana itu pun berlangsung di rumah. Tidak kalah hikmat dan sakralnya walaupun acara diselenggarakan secara sederhana.

Siapa bilang malam pertama itu enak?. Tulang dan persendianku rasanya mau rontok, lelah hampir seharian berdiri lalu bersalaman dan tersenyum. Kebanyakan senyumpun membuat tulang pipiku pegal. Kepada siapapun aku harus memberikan senyum walaupun banyak yang tidak aku kenal, mungkin itu kolega papa atau sahabat lama mama atau family jauh. Pokoknya aku harus selalu ramah dan ceria menyambut para tamu, begitu pesan mama kepadaku.

Sebagai istri yang baik, seletih apa pun aku akan tetap melayani keinginan
suamiku. Apapun yang Ram minta malam ini aku akan memberinya. Karena malam ini adalah malam pertama kami resmi menjadi sepasang suami istri.

Ram masuk kedalam kamar pengantin yang telah dihias dengan hiasan kain dan taburan bunga mawar dimana-mana. Aku menunggu dengan gugup – mengapa aku jadi gugup begini?. Malam pertama yang sakral, aku akan bercinta dengan Ram dalam balutan kasih Tuhan. Ya, selama ini kami bercinta hanya atas dasar kasih sayang kami berdua. Malam ini, apapun yang bibirku dan bibir Ram pagut, cium dan peluk kami telah diberkati Tuhan. Setiap erangan dan desah napas kami adalah buah cinta Tuhan yang suci.

Mengapa baru kali ini aku mengingat Dia kembali?. Telah lama sekali aku melupakan-Nya. Bahkan aku hampir tidak percaya kalau Dia ada.

Mama Elsa dan Papa Kun mengadopsi aku waktu usiaku lima tahun dari sebuah panti asuhan. Begitu cerita mama Elsa dan papa Kun sebelum aku menikah. Walaupun mama Elsa dan papa Kun bukanlah orang tua kandung tapi mereka menyayangiku seperti anak kandung mereka sendiri.

Sayup-sayup aku teringat kembali pada mama. Sambil terbatuk-batuk Saat mama menitipkan aku dan kakak ku di sebuah panti asuhan. Aku terus saja menangis saat mama meninggalkan kami berdua. Hampir setiap hari mama menengok kami sambil membawa kue-kue dan permen rasa strawberry kesukaanku. Lambat laun aku pun terbiasa tinggal di panti asuhan ini. Hingga suatu hari, mama tidak datang-datang lagi menengok kami. Ibu panti asuhan berkata kalau mama telah pergi ke surga. Seketika itu juga aku meraung-raung menangis ingin ikut bersama mama. Sementara kakakku diam terpana memandang ke arah langit tanpa keluar sepatah katapun. Beberapa hari aku tidak mau makan. Setelah dibujuk oleh ibu panti asuhan baru aku mau makan sedikit.

“Ada apa sayang?. Mengapa menangis?.” Tanya Ram membubarkan lamunanku.

Secepatnya aku menghapus air mataku yang sempat menetes di pipi.

“Ah, tidak…” Salah tingkah sikapku saat Ram memandangku tajam, “ma’afkan aku Ram.”

“Kamu menyesal telah menikah denganku?” Tanya Ram penasaran.

“Oooh…justru aku sedang bersyukur kepada Tuhan telah diberikan jodoh kamu, makanya tadi aku sempat menangis.” Aku pun membohongi Ram – hmm, begitu sedikit yang aku ingat tentang masa laluku. Tak lama kemudian, aku diadopsi oleh mama Elsa dan papa Kun. Dan selanjutnya aku pun tidak tahu lagi bagaimana nasib kakakku.

“Apa yang kamu pikirkan sayang?.” Tanya Ram berusaha menyadarkanku.

“Kak, apakah aku bisa menjadi istri yang baik?.”

“Kenapa kamu berpikir seperti itu?.”

“Aku takut…aku takut tidak bisa membahagiakanmu.”

“Kebahagian apa lagi yang aku harapkan?. Aku mencintaimu dan kamu pun membalas cintaku adalah anugerah terindah dalam hidupku.”

“Aku ingin hidup bersamamu sampai tua nanti.”

“Sampai kakek nenek, hehe…Dan aku akan bermain bola dengan cucu lelaki ku di halaman rumah kita, sementara kau menyiapkan makanan dengan anak dan menantu perempuan kita.” Kata Ram menghayal.

“Selamanya,Ram….”

“Selamanya sampai maut memisahkan kita.”

“Ohh…” Lantas aku pun memeluk Ram dan membisikkan sesuatu dengan manja ditelinga Ram, “aku mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Bawalah aku ke surgamu karena aku telah jadi bagian dirimu juga.”

“Separuh aku adalah kamu.” Ram pun membisikkanku dengan mesra.

“Hihihi, kaya lagu aja!.” Kataku semakin genit. Lalu aku menghadiahi Ram dengan sebuah ciuman. Atau tepatnya, pagutan. Pagutan yang lama antara bibirku dan bibir Ram, kami saling menggigit dan mengulum. Lihatlah!, bulan dan burung-burung malam cemburu. Cahaya bintang hanya bisa memandang. Langit mendungpun merajuk.

Kami telah berpeluk lekat, satu persatu kancing kemeja Ram telah lepas. Akupun menunggu… menunggu jari jemari Ram menari di tubuhku.

Ram pun melepaskan pagutannya dengan tergesa, “sebentar…sebentar, ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu.” Ram berkata dengan napas yang masih tersengal.

Aku pun hampir kehabisan napas. Mengatur napas kembali, menunggu penjelasan Ram.

Ram memberikan sebuah kotak perhiasan. “Sesuatu yang sangat spesial untukmu. Aku telah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sesuatu ini akan aku berikan hanya kepada seorang wanita yang aku cintai.”

Aku pun mulai membuka kotak perhiasan itu. “Hah!.”

“Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?.” Bentakku marah pada Ram.

“Maafkan aku Dea, kalung dan liontin itu memang bukan terbuat dari emas. Hanya dari baja putih tapi kalung ini sangat berarti bagiku. Kalung ini yang menemani seumur hidupku.”

“Bukan itu yang aku tanyakan!. Dari mana kamu mendapatkan kalung ini!, dari mana?.” Bentakku lagi.

“Mendiang ibuku yang memberikan kalung ini. Dengan liontin separuh hati. Dan yang separuhnya lagi diberikan kepada adik perempuanku. Agar kami kelak tak akan terpisah.”

Mulutku menganga mendengar penjelasan Ram.

“Ohh… Tidaaaak!.” Jeritku kepada seluruh ruang dan kepada seluruh udara yang selalu kuhirup dan kuhembuskan saat ku bernapas.

“Tidaaaaakkk!.” Jeritku semakin histeris.

Haruskah aku memberitahu Ram, siapa aku sebenarnya?. Dan siapa Ram sebenarnya?. Oooh,Tuhan… Haruskah Ram tahu janin yang ku kandung ini adalah benih cinta kami berdua?. Sejuta tanya berkecamuk dalam pikiranku. dan aku cuma bisa berteriak, “tidaaaakkk!.”

Cuma itu yang bisa ku lakukan. Ya,cuma itu!.

 

 

*****

Facebook Comments

About Serpihan Abad

6 comments

  1. menarik ; menegangkan :)

  2. Muhammad Armand

    Sampaikan saja siapa Ram

    • Ya harus! Harus aku sampaikan siapa Ram sebenarnya. Tapi … apakah aku dan Ram bisa kuat menerima kenyataan ini?

      Ma kasih mas Muhammad Armand :)

      salam Ketik’ers

  3. duh senangnya membaca cerpen teman teman
    pada pinter pinter yak bikin cerpennya https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif
    jadi pengen belajar nih.. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif