Home » FIKSI » Cerpen » Pohon Cinta

Pohon Cinta

love tree

“Sudah belum?“

“Sebentar lagi… sabar ya.”

Setelah menuntun Lintang melewati jalan setapak, akhirnya sampai juga kami ditujuan. Aku melepas kain penutup mata Lintang.

“Lihatlah!” Aku menunjuk ke sebuah pohon besar yang rindang. Daunnya menjuntai hampir menyentuh ke tanah.

“Pohon Cinta.” Jelasku pada Lintang.

Lintang terpesona menatap pohon itu lalu berganti menatapku, meminta penjelasan.

“Kamu percaya dengan jodoh?”

“Jodoh, rejeki dan maut, bukankah telah ditentukan oleh Tuhan?” Jelas Lintang kepadaku. “Aku percaya, Garis. Kamu?”

“Pohon Cinta. Di daunnya tertulis nama-nama, susah payah kucari, tapi tak sehelai daunpun ada tertulis nama kita.”

“Jadi?” Lintang melotot memandangku.

“Beribu kali kutulis namaku dan namamu, Garis dan Lintang. Beribu kali pula daunnya gugur berjatuhan.”

“Kita tak berjodoh, maksudmu?”

“Aku gak percaya jodoh!” Sahutku kesal. “Di binar matamu, aku melihat cinta, di sungging senyummu pun, aku melihat cinta. Bahkan di setiap gerak langkahmu, aku melihat ada cinta disitu. Apakah kau tak melihatnya pada diriku, Lintang?”

“Aku melihatnya, Garis! Bahkan sangat jelas dan mungkin… cintamu kepadaku mungkin melebihi cintaku kepada mu.”

“Di derai air mata kita ada cinta. Di suka tawa kita ada cinta, apakah Tuhan tidak melihat itu?”

“Apa maksudmu, Garis?” Tanya Lintang kaget.

“Kalau memang kita tak berjodoh, apa maksud Tuhan mempertemukan kita?”

 

*****

Kriiing … Kriiing. Suara Hpku menjerit, bangunkan ku dari mimpi. Dengan malas aku berusaha menggapainya, mencari-carinya di meja samping tempat tidur. “Hallooo … “

“Garis, gedung resepsi sudah kamu kasih DP?, cetakan undangan sudah kamu pesan?, terus kapan kamu punya waktu untuk foto pre wedding kita?” Suara Lintang dari HP lainnya.

“Maafkan aku Lintang, aku tertidur tadi. Pokoknya semua yang kamu tanyakan itu sudah aku kerjakan tadi pagi.”

“Kapan foto pre wedding-nya?”

“Nanti aku lihat jadwal kerjaku… pokoknya minggu ini full. Minggu depan, akan aku usahakan kalau perlu aku akan minta ijin.”

“Sore ini jadi kita fitting wedding dress?”

“Jadi dong! Aku jemput kamu ya.”

“Gak usah, kita ketemu disana aja! Sekarang aku sudah di scooterku menuju kesana, kamu jangan lama-lama ya.”

“Oke … selesai mandi, aku langsung meluncur!”

Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, menuju ke kamar mandi sambil menjambret handuk yang tergantung di kursi.

Saat mandi, aku teringat Lintang. Lintang gadis periang yang tak manja. Kadang kurasa ia terlalu mandiri, sehingga keberadaanku seperti tidak dibutuhkan. Apa-apa selalu dikerjakannya sendiri. Untuk resepsi pernikahan kami, aku memohon padanya agar aku yang mengurus semuanya. Dan ia tinggal check list saja, apa-apa yang belum aku kerjakan.

Keluar dari kamar mandi, berbalut handuk dan handuk kecil di kepala untuk mengeringkan rambutku. Di meja samping, ku lihat hp ku menyala. Ada telepon masuk dari Lintang beberapa kali. Uh! Bawel banget sih, gak sabaran! Tadi aku bilang, aku mandi dulu kan? Gerutuku dalam hati. Sebawel apapun, aku tetap menyayangi Lintang.

“Halo, Lintang!”

“Haloooo!” Suara baritone dari hp Lintang. Langsung saja ku Off, aku berusaha meyakinkan diri, apakah aku telah salah pencet? Ternyata tidak, nomor yang aku hubungi memang benar no hp Lintang.

“Halooo, Lintang!”

“Halo, siapa ini ya?” Tanya balik dari HP Lintang.

“Maaf  bapak siapa ya? Dan Lintang mana? Saya mau bicara dengan Lintang?”

“Saya dari kepolisian… saudara apanya Lintang?, Keluarganya atau teman? Tadi saya telepon berkali-kali ke hp anda tapi tidak tersambung.”

Aku berpikir beberapa saat. Polisi? Apa hubungannya dengan Lintang. Perasaan tak enak tiba-tiba saja menyergapku.

“Lintang dimana, Pak?” Tanyaku panik. “Saya calon suaminya!”

“Tadi saya akan mengabarkan bahwa telah terjadi tabrakan maut. Antara sebuah scooter dengan bus metro mini yang ugal-ugalan. Pengemudi metro mini dan kernetnya yang terindikasi mengkonsumsi alkohol sudah kami tahan.”

“Lintang?” Tanyaku lirih.

“Calon istri anda tewas di tempat, jenazahnya langsung di bawa ke RSCM, guna penyelidikan lebih lanjut.”

“Apa …? Tuuuuutttt!” Suara Hpku terputus.

*****

 

Lima tahun sudah kejadian itu. Tapi aku tak bisa melupakannya. Setiap detail sakit itu masih bisa ku rasa sampai hari ini. Aku tak percaya jodoh! Dan aku marah karena Tuhan telah merebut Lintang dari hidupku.

 

Cinta tak akan tumbuh di hati yang gersang, bukalah pintu maafmu maka kau akan temukan kedamaian, menerima semua yang telah terjadi dengan keikhlasan akan menumbuhkan kembali benih-benih cintamu yang telah lama mati. Cintamu kepada Tuhan dan cintamu kepada sesama.”

 

“Lintaaaannng!” Sudah berapa malam ini, aku terbangun dari mimpi-mimpi itu.

Lintang hadir dalam mimpiku dengan senyuman terindahnya. Dan di akhir mimpi, suaranya lirih terdengar ditelingaku, “Garis sampai kapanpun aku tetap mencintaimu … tapi Tuhan punya maksud lain, yakinlah Tuhan telah menyediakan seorang gadis yang lebih baik dariku. Itulah jodohmu!

*****

                   Aku bermimpi lagi, berada di bawah Pohon Cinta. Ranting pohon itu tiba-tiba bergerak ke arahku, aku menangkapnya. Di ranting itu ada sebuah daun yang bertuliskan namaku, Garis dan … .

Aku tak mau menyebutkan nama gadis itu, aku percaya jodoh tapi aku tidak ingin mendahului kehendak Tuhan. Lihat saja nanti di undangan pernikahanku, akan tertera sepasang nama. Namaku dan nama calon istriku.

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

About Serpihan Abad

4 comments

  1. hiks…hiks….jd ikut sedih…sabar ya Garis…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  2. met malam mba Ayu Larasati, salam kenal n terima kasih atas kunjungan nya https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply to Serpihan Abad Cancel reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif